Kesaksian Sejarah Andi Arief Soal Prabowo & Penculikan Aktivis 1998

Oleh: Iswara N Raditya - 7 Januari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Andi Arief menyebut, Prabowo Subianto memang terlibat dalam penculikan aktivis 1998 oleh Tim Mawar, tapi tidak sendiri.
tirto.id - Sebelum bergabung dengan Partai Demokrat, Andi Arief sudah punya rekam-jejak sejarah di kancah politik tanah air, termasuk dalam peristiwa penculikan aktivis oleh Tim Mawar menjelang kejatuhan Soeharto pada 1998. Dan kini, mengikuti keputusan partai yang menaunginya, Andi Arief mendukung Prabowo Subianto dalam pertarungan Pilpres 2019 nanti.

Tanggal 28 Maret 1998 atau sekitar dua bulan sebelum runtuhnya Orde Baru, Andi Arief menghilang dan konon “diamankan” oleh Tim Mawar dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Prabowo kala itu baru saja dilantik menjadi Panglima Kostrad setelah sebelumnya menjabat sebagai Danjen Kopassus.

Dalam buku berjudul Kalau Prabowo Menjadi Presiden karya A. Pambudi disebutkan, hasil kerja Tim Mawar adalah penangkapan dan penculikan atas 9 orang aktivis. Salah satunya Andi Arief yang saat itu merupakan aktivis Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (SMID), elemen yang turut membidani terbentuknya Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Majalah D&R edisi 25 Juli 1998 memuat wawancara khusus dengan mantan mahasiswa Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini tidak lama setelah peristiwa tersebut. Andi Arief diculik di Lampung, kemudian dibawa ke Jakarta dan diserahkan kepada polisi pada 17 April 1998, sebelum akhirnya bebas.

Andi Arief menyebut bahwa peristiwa penculikan itu bukan cuma pekerjaan satu kesatuan saja, melainkan telah dirancang secara sistematis. Menurutnya, kejadian semacam ini sudah berlangsung sejak lama di era Orde Baru, misalnya pasca-kerusuhan Tanjung Priok 1984 atau dalam Peristiwa 27 Juli 1996.


“Saya melihat, ini kerja sistematis dan prosedural dalam pola standar militer. Jadi, tidak fair kalau hanya menyalahkan satu kesatuan atas penculikan yang berlangsung sejak lama,” ungkapnya dalam wawancara itu.

Tentang Keterlibatan Prabowo

Saat mendapat pertanyaan siapa yang memberi perintah penculikan itu, Prabowo atau yang lebih tinggi, Andi Arief berkata, “Bisa dijawab dari Panglima Tertinggi ABRI (saat itu dijabat Wiranto). Tapi, bisa juga ditafsirkan lain, mengingat nama Benny Moerdani begitu sering disebut (oleh para penculik)."

"Mungkin dari faksi tertentu yang dominan di ABRI yang menganggap Benny Moerdani masih kuat dan patut disingkirkan," tambah Andi Arief kala itu.

Seperti diketahui, Leonardus Benyamin (L.B.) alias Benny Moerdani adalah salah satu perwira tinggi militer yang sangat berpengaruh pada masa Orde Baru. Ia pernah menjabat sebagai Panglima ABRI, kemudian Pangkopkamtib. Jabatan tinggi terakhirnya adalah sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan RI hingga 17 Maret 1993.

Menurut Eros Djarot dan kawan-kawan dalam buku Prabowo Sang Kontroversi: Kisah Penculikan, Isu Kudeta, dan Tumbangnya Seorang Bintang (2006), para korban penculikan Tim Mawar itu diinterogasi tentang aktivitas politik mereka, berkisar soal-soal yang berkaitan dengan L.B. Moerdani, J.B. Sumarlin, Sofyan Wanandi, Megawati Soekarnoputri, hingga Amien Rais.


Oleh sebab itu, Andi Arief tidak ingin menyalahkan Prabowo saja dalam kasus penculikan itu. Terlebih lagi, ketika ia diculik, Prabowo sudah tidak lagi menjabat sebagai Danjen Kopassus. “Tidak fair kalau hanya menyalahkan Prabowo. Betul ia terlibat, tapi tak mungkin sendiri,” sebut Andi Arief.

Belakangan, ia menyebut bahwa peristiwa yang menimpanya pada 1998 itu bukanlah penculikan, “Kenapa? Karena penculikan itu berdiri sendiri. Sedangkan setelah ada PRD (Partai Rakyat Demokratik) ini adalah suatu rangkaian dari satu peristiwa ke peristiwa lain,” ungkap Andi Arief pada 2014, dikutip dari Detik.

“Ini peristiwa dari tahun 1990 awal. Pada tahun 1990 kita ditangkap lalu keluar, lalu ditangkap lalu keluar,” pungkas pria yang kini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat ini.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Politik)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight