Kereta Thomas di Ambarawa

Oleh: Petrik Matanasi - 28 September 2016
Dibaca Normal 3 menit
Kereta api uap kini tinggal sejarah di Museum Kereta Api Ambarawa. Tiga dari kereta uap itu kini jadi kereta wisata ke Tuntang, dan barangkali akan ke Bedono juga.
tirto.id - Kereta api yang masih beroperasi di Indonesia saat ini ditarik lokomotif-lokomotif bermesin diesel berbahan bakar solar. Kereta api berbahan bakar batubara tidak lagi beroperasi. Sekitar 1960an, kereta uap masih beroperasi di beberapa tempat. Sementara penggunaan mesin diesel sudah juga sejak 1960an. Sudah lebih dari separuh abad diesel nyaris tak terganti sebagai bahan bakar utara kereta-kereta api di Indonesia.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) tengah menjajaki pengalihan bahan bakarnya dari tenaga solar diesel ke gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG). Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan, penggunaan LNG akan menekan biaya bahan bakar KAI hingga 40 persen. Sebelumnya konversi bahan bakar, dilakukan perubahan untuk mesin-mesin lokomotifnya.

Setelah semua kereta-kereta armada KAI memakai LNG, barangkali lokomotif-lokomotif diesel KAI masuk museum milik KAI di Ambarawa, selatan Semarang, bersama lokomotif-lokomotif uap yang sudah jauh lebih dulu masuk. Jika pun beroperasi di sana hanya sebagai kereta wisata saja, seperti halnya kereta-kereta uap yang ada di Museum Kereta Api Ambarawa.

Loko-loko Willem I

Nuansa masa-lalu stasiun ini masih cukup terjaga. Bekas gedung stasiun Willem I ini dikelilingi jalur rel kereta api dan lokomotif-lokomotif tua selain gedung-gedung tambahan yang di antaranya berfungsi sebagai ruang pamer museum. Di gedung bekas stasiun sering menjadi tempat berfoto, cocok untuk syuting film sejarah atau sekedar pre-wedding.

Dulunya stasiun yang kini jadi museum kereta ini bernama Willem I. Tak jauh dari benteng militer Belanda bernama sama. Namanya diambil nama raja Belanda dari abad silam. Dulunya, sebelum bis dan jalan-jalan beraspal seperti sekarang, stasiun ini dilintasi kereta api uap dengan rute perjalanan Yogyakarta Semarang. Saat ini rute tersebut tinggal sejarah. Hanya sebagian relnya bisa ditemukan. Rel lainnya sudah tertelan tanah atau bangunan baru. Namun, kereta-kereta uap yang dulu melintasi jalur ini masih tersisa di Stasiun Ambarawa.

Saat ini bekas stasiun Willem I ini sudah jadi Museum Kereta Api Ambarawa, sejak 6 Oktober 1976. Museum ini tak jauh dari Monumen Palagan Ambarawa juga. Sebagai museum barang-barang antik, yang terkait dengan kereta api bisa ditemukan di museum ini. Mulai dari tiket kereta, topi masinis, mesin tik, telepon juga sudah barang tentu rel dan lokomotif kereta tersaji dalam museum ini.

Beragam lokomotif kereta, mulai berbahan bakar kayu jati, batubara atau minyak adalah sajian penting di museum ini. Kebanyakan adalah buatan Jerman. Kereta-kereta itu bentuknya mirip karakter kartun anak berujud kereta bernama Thomas, yang sangat digemari anak-anak balita.

Lokomotif-lokomotif yang mirip karakter kereta Thomas itu, didatangkan dari Eropa maupun Amerika ke Indonesia di akhir-akhir abad XIX. Jenis-jenis lokomotif itu didatangkan berdasarkan jenis lintasan di Indonesia. Misalkan, ntuk daerah datar seperti dari Cirebon ke Semarang, perusahaan kereta api swasta Semarang Cirebon Stoomtram Maatschappij (SCS) memakai lokomotif C54. SCS membeli sebanyak 13 lokomotif-lokomotif dari Hartman di Jerman dan 6 unit loko uap dari Bayer Peacock di Inggris. Sisa dari loko-loko tinggallah C5417 di Museum Kereta Ambarawa.

Untuk jalur curam seperti di daerah Banjarnegara dan Wonosobo, Soerajoedal Stoomtram Maatschappij memesan 6 unit loko D10 dari pabrikan Hartmann Chemnitz, Jerman. Sisa dari loko D10 buatan 1914 yang tersimpan di Ambarawa adalah lokomotif D1007. Selain itu ada juga loko bergigi B25. Loko buatan Maschinenfabrik Esslingen, Jerman, ini mampu menarik gerbong di lintasan rel yang menanjak. Di dunia kereta jenis ini yang masih berfungsi hanya ada di Swiss, India dan Indonesia. Lokomotif uap lain yang masih berfungsi adalah B 5112 buatan Hannoversche Maschinenbau AG, Jerman juga.



Naik Kereta Thomas Ke Bedono

Lokomotif-lokomotif kereta uap yang sudah lewat seabad umurnya itu, tak sekadar jadi besi tua yang sudah uzur. Lokomotif-lokomotif yang berbahan bakar kayu masih masih bisa menarik sebuah gerbong kayu dan penumpangnya. Sudah lama ada paket perjalanan kereta api uap dari bekas Stasiun Willem ini ke Stasiun Bedono atau ke Stasiun Tuntang. Kedua stasiun yang harus dulunya harus dilewati kereta jurusan Semarang-Yogyakarta ini juga tergolong tua.

Sayangnya, saat tulisan ini dibuat, paket perjalanan kereta api uap ke Bedono masih belum bisa dibuka. Menurut pihak museum dalam persiapan. Hanya ada paket perjalanan dengan kereta disel dari Stasiun Ambarawa ke Stasiun Tuntang. Setiap hari minggu atau hari libur. Di mana dalam sehari akan ada tiga kali perjalanan. Yakni pada pukul 10.00, 12.00 dan 14.00. Jika memakai kereta berlokomotif diesel, satu gerbongnya dikenakan sewa sebesar Rp 5 juta, dua gerbongnya Rp 7,5 juta dan tiga gerbongnya Rp 10 juta. Masing-masing gerbong paling banyak hanya berisi 40 orang saja.

Tarif akan lebih mahal jika memakai kereta berlokomotif uap. Satu gerbongnya harus merogoh kocek Rp 10 juta, dua gerbong Rp 12,5 juta dan tiga gerbong Rp 15 juta. Hal ini bisa dimaklumi karena mahalnya perawatan kereta uap tersebut. Suku cadang dari lokomotif bernomor seri B 2502 dan B2503, dengan sapaan Bona dan Boni itu, tidak diproduksi lagi di Jerman. Bahan bakarnya saja kayu jati, yang bukan kayu murah. Sementara kereta tua itu harus bekerja keras merangkak naik Bedono yang tinggi. Secara geografis, jalur ini harus melewati jalur yang sangat menanjak di Bedono, selatan Semarang. Hingga lokomotifnya pun harus yang bergerigi agar bisa melewati tanjakan.

Bagi mereka yang menyukai pamandangan hijau, perjalanan kereta wisata masih mampu memanjakan mata dengan persawahan dan kaki-kaki pegunungan yang masih hijau ke arah Stasiun Tuntang. Begitu juga ke arah stasiun Bedono. Hanya saja jalurnya menanjak.

Tembok Stasiun Bedono masih putih bersih dan terawat. Jauh dari kusam. Meski sudah lama kereta api tak singgah lagi di sana. Stasiun yang tak jauh dari jalan poros Magelang-Semarang ini belum lama dipugar. Dari arah Ambarawa, jalur rel kereta masih terawat. Namun rel jalur ke arah Magelang, baut-baut yang mengencangkan rel banyak yang sudah tidak pada tempatnya. Bahkan ada rel yang sudah tertutup oleh timbunan tanah yang ditumbuhi rerumputan. Usia stasiun ini hampir bersamaan dengan dibangunnya jalur kereta api Semarang ke Yogyakarta. Rute panjang yang tidak aktif lagi adalah jalur Semarang ke Yogyakarta.

Baca juga artikel terkait KERETA API atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight