Menuju konten utama

Kepala BPS: Inflasi November Rendah Bukan Karena Daya Beli Melemah

Kepala BPS Suharyanto menyimpulkan inflasi pada November 2018 lebih rendah dari bulan sebelumnya sebab harga pangan relatif terkendali, meski sudah memasuki periode jelang akhir tahun.

Kepala BPS: Inflasi November Rendah Bukan Karena Daya Beli Melemah
Presiden Joko Widodo berbincang dengan Kepala BPS Kecuk Suhariyanto sebelum memimpin rapat terbatas tentang persiapan menyambut bulan Ramadhan dan Idulfitri 1439 Hijriah di Kantor Presiden, Kamis (5/4/2018). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari.

tirto.id - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suharyanto menjelaskan penyebab tingkat inflasi di periode November 2018 lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Suharyanto mengklaim tingkat inflasi pada bulan itu rendah karena program pengendalian inflasi di beberapa daerah berjalan dengan baik. Dia mencontohkan, harga beberapa komoditas pangan dapat dikendalikan pada saat menjelang libur panjang akhir tahun.

Oleh karena itu, menurut Suharyanto, pertumbuhan inflasi rendah pada November 2018 tak disebabkan oleh daya beli masyarakat yang melemah.

"Karena inflasi intinya juga masih tinggi. Konsumsi rumah tangga juga masih bagus. Jadi bukan karena daya beli," ujar dia saat ditemui di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (3/12/2018).

Berdasarkan data BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan November 2018 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,27 persen. Data tersebut mencatat angka inflasi tahunan dan tahun kalendernya yang masing-masing mencapai 3,23 persen dan 2,5 persen.

Secara nasional, data tersebut memang menggambarkan adanya kenaikan harga. Berdasar data tahunan, inflasi November 2018 juga lebih tinggi dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 0,20 persen. Namun, jika berdasar data bulanan, angkanya memang lebih rendah dibandingkan Oktober 2018 yang mencapai 0,28 persen.

Sektor Transportasi dan Komunikasi Bisa Kerek Inflasi di Akhir 2018

Suharyanto mengungkapkan, yang perlu diperhatikan pemerintah adalah lonjakan tarif transportasi jelang libur natal dan tahun baru. Sebab pada November 2018, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan punya andil cukup besar terhadap inflasi, yakni sebesar 0,10 persen.

Apalagi, kata Suharyanto, sumbangan inflasi dari sektor-sektor itu diprediksi bakal meningkat seiring dengan banyaknya kegiatan-kegiatan di akhir tahun. Langkah pemerintah untuk mengendalikan inflasi pada sektor pangan juga harus terus diperkuat, karena lonjakan konsumsi biasa terjadi pada libur natal dan tahun baru.

"Mungkin perlu agak diantisipasi adalah angkutan udara, biasanya memang naik tinggi. Kalau bahan makanan saya yakin akan bagus. Kalau angkutan udara bisa dikendalikan, [inflasi] kita akan berada di bawah, saya yakin akan bagus," kata dia.

Baca juga artikel terkait INFLASI atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Addi M Idhom