Menuju konten utama

Kenapa Korea Utara Setop Perjanjian Militer dengan Korsel?

Alasan di balik Korea Utara setop perjanjian militer dengan Korea Selatan.

Kenapa Korea Utara Setop Perjanjian Militer dengan Korsel?
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memantau uji coba "motor bahan bakar padat dengan daya dorong tinggi" di tempat peluncuran rudal Sohae Korea Utara Kamis, 15 Desember 2022. (Korean Central News Agency/Korea News Service via AP)

tirto.id - Korea Utara dilaporkan mulai menyetop perjanjian militer dengan Korea Selatan yang telah disepakati pada tahun 2018. Pyongyang juga berencana menempatkan angkatan bersenjata lebih besar di sepanjang garis perbatasan kedua negara.

Sebagaimana diberitakan Reuters pada Kamis (23/11/2023), Kementerian Pertahanan Korea Utara via kantor berita KCNA menyatakan, mereka akan mengaktifkan semua tindakan militer yang telah dihentikan di bawah kesepakatan kerja sama dengan Korea Selatan.

Kesepakatan itu sebelumnya digunakan untuk mengurangi ketegangan di sepanjang perbatasan antara utara dan selatan.

"Mulai sekarang, tentara kami tidak akan pernah terikat lagi oleh Perjanjian Militer Utara-Selatan 19 September," tutur mereka.

"Kami akan melakukan langkah-langkah militer untuk mencegah ketegangan dan konflik militer di semua bidang termasuk darat, laut, dan udara, dan mengerahkan angkatan bersenjata yang lebih kuat dan perangkat militer berat tipe baru di wilayah sepanjang Garis Demarkasi Militer," lanjut pernyataan Kementerian Pertahanan Korea Utara.

Latar Belakang Korut Setop Perjanjian Militer

Pada Selasa (21/11/2023), Korea Utara meluncurkan satelit Malligyong-1 ke orbit. Peluncuran ini menyusul kunjungan Kim Jong Un, pemimpin Korut, ke Rusia pada beberapa waktu sebelumnya. Presiden Rusia, Vladimir Putin, pun siap membantu Pyongyang membangun satelit.

Sebelumnya, Korut sudah 2 kali mengalami kegagalan selama proses peluncuran satelit ke luar angkasa periode Mei dan Agustus 2023.

Menurut pejabat Korsel, Rusia berperan besar dalam kesuksesan peluncuran satelit Korut lantaran Pyongyang sudah memasok jutaan peluru untuk Moskow. Namun, kerja sama transaksi senjata itu sudah dibantah oleh Rusia maupun Korut.

Menyusul aksi Korut yang meluncurkan satelit "mata-mata" atas bantuan Moskow, Korsel lantas mengambil sikap sehari berselang.

Pada Rabu (22/11), mereka menangguhkan kesepakatan antara selatan-utara dalam Comprehensive Military Agreement (CMA) dan berencana melakukan pengawasan yang lebih ketat sepanjang perbatasan.

Di sisi lain, Korut menyatakan Seoul akan bertanggung jawab atas tindakannya itu jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.

Apa Itu Comprehensive Military Agreement (CMA)?

Comprehensive Military Agreement (CMA) merupakan buah dari hasil pertemuan antara Kim Jong-un dengan Presiden Korea Selatan saat itu, Moon Jae-in.

Mengutip Al-Jazeera, mereka sepakat untuk mulai mengurangi ketegangan dan membangun kepercayaan di antara kedua negara.

Menteri Pertahanan Korea Selatan dan mitra dari Korea Utara lantas menandatangani perjanjian CMA di Pyongyang, pada 19 September 2018.

Kedua negara sepakat menghentikan semua tindakan permusuhan satu sama lain yang sudah menjadi sumber ketegangan serta terjadinya konflik militer. Mereka menerapkan langkah-langkah untuk pembangunan kepercayaan militer di udara, darat, dan laut.

Di antaranya ialah mengakhiri latihan militer di dekat perbatasan dan melarang latihan tembak-menembak di daerah yang sudah ditentukan.

Kemudian pemberlakuan zona larangan terbang, pemindahan beberapa pos penjagaan di sepanjang Zona Demiliterisasi, ditambah adanya hotline.

Utara dan Selatan juga sepakat menghentikan latihan artileri dan latihan lapangan dengan jarak radius 5 kilometer (3 mil) dari Garis Demarkasi Militer atau Military Demarcation Line (MDL).

Kedua belah pihak juga wajib memasang penutup pada laras senjata angkatan laut dan artileri pantai serta menutup pelabuhan senjata di zona penyangga sepanjang perbatasan laut.

Baca juga artikel terkait AKTUAL DAN TREN atau tulisan lainnya dari Beni Jo

tirto.id - Politik
Kontributor: Beni Jo
Penulis: Beni Jo
Editor: Alexander Haryanto