Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi mencatat terdapat tujuh provinsi yang mengalami defisit atau kekurangan beras akibat distribusi yang tidak merata saat panen raya.

Tujuh Provinsi tersebut antara lain Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.

"Kondisi dari panen ini pasokan cukup, namun distribusi belum merata terlihat dari provinsi-provinsi yang terjadi defisit, ini memang kurang," kata Suwandi dalam rapat dengar pendapat virtual bersama Komisi IV di Jakarta, Rabu (29/4/2020) seperti dikutip Antara.

Suwandi menyebutkan Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Ketahanan Pangan akan mengalokasikan stok beras nasional pada akhir Maret sebesar 3,5 juta ton untuk daerah yang mengalami defisit.

Stok beras tersebut antara lain tersebar di lima provinsi, yakni Sumatera Utara 122.328 ton; Sumatera Selatan sebanyak 105.195 ton; Kalimantan Timur 38.988 ton; Sulawesi Selatan 183.845 ton; dan Jawa Timur 721,657 ton.

"Stok beras stok di April yang tersebar Nasional 3,5 juta ton ini bisa memasok ke daerah-daerah merah atau yang mengalami defisit," terang Suwandi.

Sementara itu, Ditjen Tanaman Pangan mencatat neraca beras nasional hingga bulan Juni mengalami surplus sebesar 6,4 juta ton.

Surplus tersebut dengan memperhitungkan stok tersedia pada akhir Maret sebesar 3,45 juta ton; produksi dari panen Mei-April-Juni sebesar 10,56 juta ton; serta kebutuhan konsumsi beras nasional 7,61 juta ton (kebutuhan beras rata-rata 2,5 juta ton per bulan).

Data luas panen yang bersumber dari Kerangka Sampling Area oleh Badan Pusat Statistik mencatat ada 18 provinsi sentra padi yang menghasilkan panen seluas 3,8 juta hektare.

Rinciannya, yakni panen pada April seluas 1,73 juta hektare; Mei seluas 1,38 juta hektare; dan Juni 700.000 hektare.