Kemenpar: Cuitan Soal Jalur Wisata Anyer-Tanjung Lesung Bukan Promo

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 27 Desember 2018
“Itu kan hanya laporan tentang ekosistem pariwisata kami. Jadi kami ingin menginformasikan memang kondisinya seperti itu,” ucap Guntur.
tirto.id - Kepala Biro Humas, Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Guntur Sakti menampik bila cuitan tentang keadaan jalur wisata Anyer-Tanjung Lesung dianggap sebagai promosi daerah wisata. Menurutnya, cuitan itu wajar lantaran bersifat informatif.

“Cuitan itu bukan promosi. Itu hanya informasi sifatnya,” ucap Guntur ketika dihubungi Tirto pada Kamis (27/12).

Guntur mengatakan, kementeriannya memiliki kepentingan untuk melakukan pemantauan terkait situasi situs pariwisata yang terdampak bencana tsunami pada 22 Desember 2018 lalu. Pemantauan itu mencangkup tiga aspek yaitu atraksi, amenitas, dan aksesbilitas.

Dalam cuitan itu, kata Guntur, kementeriannya hanya berusaha melaporkan salah satu dari tiga masalah itu. Dalam hal ini, kondisi akses jalur wisata Pantai Anyer hingga Tanjung Lesung.

“Itu kan hanya laporan tentang ekosistem pariwisata kami. Jadi kami ingin menginformasikan memang kondisinya seperti itu,” ucap Guntur.

Cuitan itu dipublikasikan Kemenpar melalui akun @Kemenpar_RI pada 26 Desember 2018, “Hallo #SobatWisata ada kabar gembira nih di akhir tahun ini. Jalur Wisata di Kawasan Pantai Anyer hingga Tanjung Lesung, sekarang sudah berangsur normal.” Di akhir cuitan itu juga dilengkapi dengan tagar bangkitkan pariwisata Tj. Lesung.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata, Arief Yahya memerintahkan penghentian promosi destinasi wisata di semua wilayah terdampak bencana untuk sementara waktu. Terutama bila masa tanggap darurat bencana belum berakhir.

“Dalam fase tanggap darurat bencana, kami menginstruksikan agar seluruh aktivitas promosi di destinasi wisata terdampak dihentikan,” ucap Arief pada 23 Desember 2018 lalu.


Baca juga artikel terkait KEMENTERIAN PARIWISATA atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Hard News)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Alexander Haryanto