Kematian Hasan bin Ali & Perebutan Takhta Khalifah dengan Muawiyah

Oleh: Irfan Teguh - 13 Oktober 2018
Dibaca Normal 5 menit
Hasan bin Ali meninggal dunia dalam situasi perseteruan kaum Muslimin dengan sesamanya karena badai politik yang berkepanjangan.
tirto.id - Pada 10 Muharam 61 Hijriyah atau 10 Oktober 680 Masehi, Husein, anak kedua Ali bin Abi Thalib tewas di Karbala dalam sebuah pembantaian yang dilakukan rezim Yazid bin Muawiyah. Sebelas tahun sebelumnya, tepatnya pada 28 Safar 50 Hijriyah, Hasan, kakak Husein, meninggal dunia di Madinah karena diracun. Pungkas hayat kakak beradik cucu kesayangan Rasulullah ini tak lepas dari pusaran pertikaian dalam dunia Islam setelah Nabi Muhammad dan tiga khalifah meninggal dunia.

Berbeda dengan Husein yang terus merangsek menuju Kufah meski marabahaya mengintainya, sang kakak justru memilih menghindari peperangan dengan kubu Muawiyah demi persatuan umat Islam.

Para sejarawan menilai sikap Hasan yang lebih lunak daripada Husein adalah pengejawantahan dari sabda Rasulullah yang berdoa kepada Allah agar cucunya tersebut menjadi orang yang mendamaikan dua golongan kaum Muslimin.

Hasan dibaiat menjadi khalifah setelah ayahnya, Ali bin Abi Thalib, meninggal dunia karena dibunuh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Si Khawarij itu menebaskan pedangnya saat khalifah keempat tersebut tengah berwudu hendak menunaikan salat Subuh.

Diangkatnya Hasan sebagai khalifah tentu membuat Muawiyah berang, sebab keturunan Umayyah tersebut telah melakukan pemberontakan sejak khalifah Ali bin Abi Thalib. Ia berambisi menduduki puncak pimpinan kaum Muslimin.

Sadar posisinya diincar Muawiyah yang berkedudukan di Damaskus, Syam, Hasan justru secara persuasif menulis surat kepada Muawiyah. Ia memilih tidak menyerbu kekuatan oposisi.

“Janganlah engkau terus-menerus terbenam di dalam kebatilan dan kesesatan. Bergabunglah dengan orang-orang yang telah menyatakan baiat kepadaku. Sebenarnya engkau telah mengetahui, bahwa aku lebih berhak menempati kedudukan sebagai pemimpin umat Islam. Lindungilah dirimu dari siksa Allah dan tinggalkanlah perbuatan durhaka. Hentikanlah pertumpahan darah, sudah cukup banyak darah mengalir yang harus kau pikul tanggungjawabnya di akhirat kelak. Nyatakanlah kesetiaanmu kepadaku dan janganlah engkau menuntut sesuatu yang bukan hakmu, demi kerukunan dan persatuan umat Islam,” tulis Hasan seperti dikutip Al-Hamid Al-Husaini dalam Al-Husein bin Ali, Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya (1978).

Surat tersebut jelas menggambarkan Hasan sebagai orang yang lebih suka menghindari pertikaian dan pertumpahan darah. Ia juga menekankan pentingnya kerukunan dan persatuan umat Islam.

Namun, Muawiyah yang sudah makan asam garam dalam dunia politik, serta telah mengobarkan peperangan demi posisi khalifah sejak zaman Ali, jelas menolak mentah-mentah permintaan Hasan.
“Jika aku yakin bahwa engkau lebih tepat menjadi pemimpin daripada diriku, dan jika aku yakin bahwa engkau sanggup menjalankan politik untuk memperkuat kaum Muslimin dan melemahkan kekuatan musuh, tentu kedudukan khalifah akan kuserahkan kepadamu,” balasnya.

Jawaban tersebut jelas bukan yang diharapkan Hasan. Apalagi tak lama setelah itu, Muawiyah menyiapkan ribuan pasukan perang yang hendak ia bawa ke Kufah untuk menggempur kekuatan Hasan sebagai khalifah.


Menegakkan Kehormatan sebelum Perdamaian

Sebagai seorang pemimpin, Hasan lebih menyukai perdamaian. Tapi bukan berarti ia berdiam diri saat mendapat ancaman untuk mengudetanya. Ia kemudian mengumpulkan penduduk Kufah dan mengabarkan bahwa kotanya akan diserang pasukan Muawiyah yang bergerak dari Syam.

Hasan memerintahkan kepada setiap lelaki Kufah yang mampu berperang untuk bersiap menghadapi ancaman tersebut. Sebuah dusun bernama Nukhailah dipilih Hasan sebagai markas pusat militer yang hendak melawan pasukan penyerbu dari Syam.

Namun, sejarah mencatat bahwa penduduk Kufah memperlakukan Hasan sebagaimana mereka bersikap kepada ayahnya, Ali bin Abi Thalib, yang justru tak menghiraukan seruan pemimpin yang mereka baiat sendiri.

Dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba seseorang bangkit. Ia marah kepada penduduk Kufah, lalu berkata lantang:

“Kalian tahu, aku adalah Adi bin Hatim. Alangkah buruknya sikap yang kalian perlihatkan kepada seorang pemimpin yang telah kalian pilih dan kalian baiat sendiri. Tidakkah kalian dapat membuka mulut menyambut ajakan pemimpin kalian sendiri, seorang cucu Rasulullah? Manakah para ahli pidato dari kabilah Mudhar yang terkenal berlidah tajam itu? Mengapa dalam keadaan seperti sekarang ini mereka bungkam?” ucap Adi bin Hatim kepada penduduk Kufah yang tidak menyambut seruan Hasan.

Adi bin Hatim adalah pemimpin suku at-Tha’iy yang sejak dulu tinggal di Kufah dan terkenal sebagai orator ulung. Ia masuk Islam pada tahun 9 Hijriyah dan menjadi salah satu sahabat Rasulullah.

“Ucapan anda [Hasan] sudah kudengar dan seruan anda sudah kupahami. Dengan ini aku menyatakan ketaatan dan kesetiaan kepadamu, demi Allah. Mulai detik ini juga aku siap menjalankan perintah anda, dan sekarang juga aku hendak berangkat ke Nukhailah tempat pemusatan pasukan anda,” sambungnya.

Setelah itu dengan menunggang unta ia berangkat ke Nukhailah sendirian. Di pemusatan pasukan tersebut ia mendirikan tenda sendiri sambil menunggu para pengikutnya dari kabilah at-Tha’iy.

Sebagian penduduk Kufah, terutama kaum laki-laki yang fisiknya kuat untuk berperang, akhirnya menyambut seruan Hasan. Sementara sebagian yang lain kembali ke rumah masing-masing.

Hasan mengangkat Ubaidillah bin Abbas sebagai pemimpin pasukan. Kepadanya ia berkata:

“Hai, Ubaidillah, engkau kuberi kepercayaan memimpin 12.000 pasukan Muslimin Arab yang terkenal gagah berani, berpengalaman dan gigih menghadapi pertempuran. Ketahuilah, bahwa seorang dari mereka lebih berharga daripada sekompi pasukan biasa. Eratkanlah hubunganmu dengan mereka dan tunjukkanlah kecerdasan wajahmu pada mereka. Mereka itu adalah sisa kekuatan angkatan perang ayahku yang dapat dipercaya,” ucap Hasan.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Karena tergiur bujuk rayu Muawiyah yang menjanjikan akan memberi uang jika ia bergabung dengan anak Abu Suyan itu, Ubaidillah bin Abbas berbalik mengkhianati khalifah. Itulah yang membuat semangat ribuan pasukan pendukung Hasan runtuh.

“Berita yang menyedihkan itu hampir memadamkan seluruh semangat yang dibawanya dari Kufah. Ia teringat kepada nasib ayahandanya yang selama beberapa tahun akhir hayatnya mengalami berbagai macam pengkhianatan, dan sekarang ia harus menghadapi saudaranya sendiri yang menggunting dari dalam lipatan,” tulis Al-Hamid Al-Husaini, menggambarkan suasana hati Hasan setelah mengetahui pengkhianatan Ubaidillah bin Abbas.

Sementara orang-orang Muawiyah terus bergerak mengembuskan kabar-kabar bohong tentang para pemimpin pasukan lain yang diberitakan tewas. Hal ini membuat pasukan pendukung khalifah kian putus asa. Bahkan mereka akhirnya berbalik menyerang Hasan. Di titik inilah Hasan berpikir bahwa perang melawan Muawiyah tidak akan membawa manfaat jika mental pasukannya telah hancur dan sisa pendukungnya hanya akan menjadi bulan-bulanan musuh.

Ia akhirnya memilih berdamai dengan Muawiyah dengan sejumlah kesepakatan yang salah satu isinya adalah menyerahkan kekhalifahan kepada putra Abu Sufyan tersebut. Keputusannya ini sempat membuat kecewa dan marah para pencinta keluarga Rasulullah (ahlul bait), salah satunya adalah Hujur bin Adi yang amat setia kepada ahlul bait. Ia marah sehingga berani mengecam Hasan. Menanggapi reaksi seperti itu, Hasan dengan tenang menjawab:

“Hai Hujur, ketahuilah bahwa tidak semua orang menghendaki apa yang engkau inginkan itu. Demikian pula tidak semua orang berpikir seperti engkau. Sesungguhnya dengan menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah itu aku tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk menyelamatkan kalian dari kehancuran dan kebinasaan,” jawab Hasan.

Setelah menyelesaikan segala urusan di Kufah, Hasan kemudian pergi ke Madinah. Sebelum berangkat, ia menyampaikan beberapa hal kepada penduduk Kufah yang masih mendukungnya.

Hasan mengatakan bahwa Muawiyah telah merebut kekhalifahan yang menjadi haknya. Namun, ia lebih mengutamakan perdamaian agar dua kubu kaum Muslimin yang berseteru tidak lagi menumpahkan darah seperti masa-masa ke belakang saat sejumlah perang melumatkan jiwa-jiwa yang sejatinya bersaudara.


Kematian dan Perselisihan Tempat Penguburan

Kedatangan Hasan di Madinah disambut gembira sekaligus sedih oleh penduduk kota tersebut. Mereka gembira sebab cucu Rasulullah kembali ke tanah tempat kakeknya mula-mula membangun peradaban, tapi kesedihan pun menyeruak sebab kepemimpinan Islam tidak lagi berada di tangannya.

Di Madinah, saat ia tidak lagi dalam pusaran ingar-bingar politik, Hasan tekun mendekatkan dirinya kepada Allah. Ia giat mengajarkan ilmu agama kepada penduduk Madinah di Masjid Nabawi. Selain itu, ia juga rajin belajar kepada para sahabat kakeknya yang telah sepuh.

Pada 28 Safar tahun 50 Hijriyah, atau sebelas tahun sebelum kelak adiknya meninggal di padang Karbala, Hasan wafat dalam usia 46. Beberapa saat sebelum mengembuskan napasnya yang terakhir, Hasan berkata kepada Husein, adiknya.

“Tiga kali aku pernah menderita keracunan, tetapi tidak sehebat yang kualami sekarang ini,” ucapnya.

Husein bertanya kepada kakaknya siapakah kiranya yang telah meracuninya. Namun, dengan semangat persatuan Hasan menolak memberitahu orang yang telah meracuninya. Ia khawatir adiknya yang berkarakter lebih keras daripada dirinya akan menuntut balas sehingga akan terjadi pertumpahan darah sesama kaum Muslimin.

Infografik Hasan Bin Ali


Al-Hamid Al-Husaini menerangkan sebagian besar para penulis sejarah meyakini bahwa yang meracun hasan adalah istrinya sendiri yang bernama Ja’dah binti Al-Asy’ats atas perintah Muawiyah dengan iming-iming uang sebesar 100.000 dinar.

“Dikatakan lebih jauh, setelah Hasan wafat, Ja’dah menerima uang yang dijanjikan oleh Muawiyah itu, tetapi Muawiyah membatalkan janji akan menikahkannya dengan Yazid, konon karena Muawiyah takut kalau-kalau anaknya akan mengalami nasib seperti yang dialami oleh Hasan,” tulisnya.

Sementara Dr. Ali M. Sallabi dalam Al-Hasan ibn Ali: His Life & Times (2014) menerangkan bahwa sebagian kalangan justru menyebut Yazid yang menyuruh istri Hasan untuk meracuni suaminya.

“Jika kamu meracuni Hasan, aku akan menikahimu,” ucap Yazid.

Namun, setelah Ja’dah binti Al-Asy’ats berhasil meracuni Hasan, Yazid mengingkari janjinya.

Masih menurut catatan Dr. Ali M. Sallabi, Ibnu Arabi (seorang pengembang ajaran tasawuf) justru menolak pendapat jika Hasan diracun atas perintah Muawiyah atau Yazid. Sebab menurutnya Hasan tidak lagi menjadi ancaman bagi mereka setelah kekhalifahan diserahkan kepada Bani Umayyah.

“Tidak ada yang tahu kecuali Allah,” ungkap Ibu Arabi seperti dikutip Dr. Ali M. Sallabi.

Terlepas dari siapa sebenarnya yang meracuni Hasan dan siapa dalang di baliknya, beberapa saat sebelum ajal menjemput Hasan masih menunjukkan jiwa besarnya tentang pentingnya persatuan di kalangan kaum Muslimin.

“Bila aku wafat, makamkanlah aku dekat makam kakekku, Rasulullah. Untuk itu mintalah izin lebih dulu kepada Ummul Mukminin Aisyah, bolehkah aku dimakamkan di rumahnya di samping makam Rasulullah. Akan tetapi jika ada pihak yang menentang keinginanku, usahakanlah agar jangan sampai keinginanku itu mengakibatkan pertumpahan darah dan makamkanlah aku di permakaman umum, Baqi,” kata Hasan kepada adiknya sebelum ia wafat.

Dan benar saja, saat jenazahnya hendak dikebumikan, perselisihan terjadi antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah. Keturunan Umayyah menggugat keinginan Hasan tersebut karena menurut mereka khalifah ketiga (Utsman bin Affan yang keturunan Umayyah) saja tidak dimakamkan di samping Rasulullah. Sementara orang-orang Bani Hasyim berkeras bahwa ini adalah wasiat terakhir Hasan yang harus ditunaikan.

Di tengah ketegangan itu, Abu Hurairah, sahabat Rasulullah yang terkenal sebagai periwayat hadis, berhasil menengahi dua kubu yang berselisih. Ia mengingatkan pesan Hasan bahwa jika permakamannya menimbulkan sawala, maka ia meminta untuk dimakamkan di pekuburan umum saja. Akhirnya jenazah Hasan dikuburkan di Baqi, berdekatan dengan makam neneknya, Fatimah binti Asad, ibunda Ali bin Abi Thalib.

Baca juga artikel terkait SEJARAH ISLAM atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan