Oktober, Bulan Kanker Payudara

Kehidupan yang Koyak karena Kanker Payudara

Ilustrasi kanker payudara. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 29 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Kanker payudara berdampak negatif terhadap kehidupan seks mereka.
Implan payudara bukan hanya prosedur kosmetik untuk menambah ukuran payudara belaka. Ia juga merupakan prosedur rekonstruktif yang dapat memperbaiki kualitas hidup penyintas kanker payudara. Apalagi bagi mereka yang melakukan terapi mastektomi atau operasi pengangkatan payudara.

Kanker payudara merupakan kanker penyebab kematian nomor satu pada perempuan, terutama mereka yang berusia 40-49 tahun. Penyakit ini terjadi akibat pertumbuhan sel-sel abnormal secara tidak terkontrol pada kelenjar dan jaringan payudara. Sel-sel tersebut membelah diri secara cepat sehingga berlebih dan menyebar ke organ tubuh lainnya.

Katakanlah satu payudara dibagi lima bagian, kanan atas dan kanan bawah, kiri atas dan kiri bawah, serta bagian puting. Sel-sel abnormal pada payudara tumbuh paling banyak payudara sebelah kiri atas yakni 49 persen. Bagian payudara kanan atas sebanyak 18 persen, payudara kiri bawah 11 persen, kanan bawah 6 persen, sementara bagian puting 16 persen.

“Bagian bawah lebih kecil kemungkinannya karena sedikit jaringan,” jelas dr. Rachmawati, Sp. B (K) Onk, dokter spesialis onkologi.


Secara medis, terdapat beberapa terapi yang dapat dilakukan untuk menghambat ataupun menghentikan pertumbuhan sel, yakni pembedahan, kemoterapi, radioterapi, dan terapi target. Mastektomi adalah prosedur yang masuk ke dalam kategori terapi pembedahan. Prosedurnya dilakukan dengan mengangkat sel kanker serta seluruh payudara dan membersihkan kelenjar getah bening ketiak.

Sayangnya, disebut Peter G. Cordeiro, dalam studi bertajuk "Breast Reconstruction after Surgery for Breast Cancer", prosedur ini membikin efek mati rasa pada area kulit sekitar dada dan hilangnya kemampuan menyusui. Namun, konsekuensi paling pahit dari mastektomi adalah efek psikososial dari kelainan fisik dan estetika, termasuk kecemasan, depresi, efek negatif pada citra tubuh, dan fungsi seksual.

“Kanker payudara berdampak pada gejala depresi, kecemasan, citra tubuh, fungsi seksual, dan kualitas hidup penyintasnya,” begitu Cordeiro menyimpulkan.

Penelitian Julia H. Rowland, dkk yang terbit pada Journal of the National Cancer Institute (2000) menyatakan ada lebih dari 40 persen perempuan yang melakukan mastektomi merasa kanker berdampak negatif terhadap kehidupan seks mereka. Hanya kurang dari 30 persen perempuan yang menjalani lumpektomi merasa dampak yang sama. Lumpektomi adalah pengangkatan sel kanker dan jaringan sekitar dengan tetap mempertahankan bentuk asli payudara.

Perempuan dengan mastektomi juga lebih banyak mengeluh gejala fisik dan rasa tidak nyaman di sekitar lokasi operasi dibanding mereka yang menjalani lumpektomi. Gejala-gejala itu termasuk pembengkakan lengan, limfedema, risih melihat bekas luka bedah, dan sensasi tertusuk. Angka semua gejala itu lebih tinggi pada yang mengalami mastektomi ketimbang lumpektomi.


Rekonstruksi Payudara

Tak bisa tampil menarik meski memakai pakaian apik, khawatir pada aktivitas seksual, dan rasa-rasa tidak percaya diri lainnya kerap timbul menjangkiti penyintas kanker payudara dengan mastektomi. Padahal, menurut dr. Rachmawati, rasa percaya diri dapat dikembalikan pelan-pelan dengan melakukan rekonstruksi payudara.

Laman WebMD menyebutkan rekonstruksi payudara bisa membentuk simetri payudara dengan mengganti kulit, jaringan payudara, dan puting yang dibuang.

Pada kasus ini, rekonstruksi payudara tidak dianggap sebagai prosedur kosmetik, melainkan operasi rekonstruktif karena merupakan bagian dari perawatan penyakit. Ada beberapa tipe rekonstruksi yang dapat dipilih penyintas, yakni implan, flap jaringan, dan rekonstruksi puting.

Pada rekonstruksi implan, prosesnya sama seperti implan payudara pada umumnya, yakni dengan menambahkan implan gel silikon atau saline (garam) ke jaringan kulit di dada.

“Pada prosedur flap jaringan, jaringan dari perut, punggung, paha, atau betis diambil untuk membuat payudara,” jelas Rachmawati. Proses ini dapat dilakukan berbarengan atau pasca mastektomi atau setelahnya. Jika sudah kemoterapi atau perawatan radiasi, rekonstruksi biasanya ditunda sampai perawatan selesai.


Penelitian Patricia A. Parker, dkk (2007) pada 258 wanita dengan kanker payudara mengungkapkan perempuan dengan mastektomi rekonstruksi payudara memiliki kualitas hidup lebih tinggi dalam domain kesehatan fisik daripada mereka yang tidak melakukan rekonstruksi.

Mereka juga lebih aktif secara seksual dibanding kelompok lumpektomi dan mastektomi tanpa rekonstruksi. Perempuan yang melakukan mastektomi tapi tidak menjalani rekonstruksi seringkali merasa kurang puas pada daerah dada mereka.



Selanjutnya, pada proses rekonstruksi puting, dokter dapat membuat beberapa pilihan. Lazimnya, pada prosedur mastektomi, puting dan areola (daerah gelap di sekitar puting) diangkat untuk meminimalisir risiko kambuhnya kanker. Rekonstruksi puting dilakukan setelah jaringan pada rekonstruksi payudara selesai dan jaringan baru payudara pulih.

Puting dapat dibuat dari flap jaringan belakang atau perut, kemudian ditato menyerupai warna puting. Dokter juga dapat menggunakan puting prostetik dan mewarnai bagian areola.

“Pada beberapa kasus langka, puting payudara asli dapat disambung kembali, asal jaringannya sudah bebas kanker,” tulis WebMD. Namun, karena koneksi saraf kurang, puting tidak dapat naik atau rata meski direspons sentuhan atau suhu.

Pasca-operasi rekonstruksi, pasien akan mengalami nyeri, bengkak, dan memar selama 2 hingga 3 minggu. Aktivitas normal baru bisa dilakukan dalam waktu 6 hingga 8 minggu setelah operasi. Namun, yang perlu digarisbawahi, rekonstruksi payudara tidak memengaruhi peluang kambuhnya kanker. Pasien perlu terus melakukan pemeriksaan payudara sendiri setiap bulan serta mamogram tahunan.

Baca juga artikel terkait KANKER atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight