Advertorial

Kecemasan Seorang Berumur 32 & Tips Mencapai Kemerdekaan Finansial

Oleh: Advertorial - 16 Februari 2021
Dibaca Normal 3 menit
Hidup di umur 30-an tak ubahnya hidup di sebuah fase yang rawan: fase di mana kecemasan kerap muncul.
tirto.id - Pada Hari Valentine mendatang, A. Budiman, entrepreneur, bakal berusia 32 tahun. Meski belakangan bisnisnya di bidang sablon dan cutting sticker terbilang lumayan, nyaris saban hari, bungsu dari tiga bersaudara ini justru rutin dilanda perasaan khawatir.

“Kalau bukan karena sering dibanding-bandingkan dengan orang lain, terutama teman sebaya, alasannya ya apa lagi,” kata Budi, saat membuka obrolan diiringi senyum kecut dan sorot mata menerawang.

Sejak menyandang gelar Sarjana Ekonomi sembilan tahun lalu, kemudian menjadi karyawan sebuah bank pemerintah daerah enam tahun berikutnya, Budi memang terbilang lebih santai ketimbang teman-temannya. Melewati usia 20-an, hari-harinya di luar jam kerja lebih banyak dihabiskan untuk menggambar dan mengotak-atik motor—“menyalurkan minat dan bakat,” katanya—di samping jalan-jalan ke luar kota bersama komunitas otomotif yang ia ikuti.

Sementara teman-temannya kini sudah berkeluarga dan sebagian bahkan sudah mampu membeli rumah pertama, Budi, pria asal Kota Kembang, masih tinggal bersama orang tua. Kenyataan itu, paling tidak sejak dua tahun terakhir, menjelma menjadi motivasi terbesarnya.

“Kupikir punya banyak teman dan penghasilan cukup pada akhir usia 20-an bakal bikin hidup baik-baik saja. Faktanya, bos, tuntutan makin besar dan keinginan makin banyak,” beber Budi, kali ini diiringi tawa merdeka.

Usia 30-an boleh dibilang merupakan usia terbaik dalam hidup seseorang. Sebuah penelitian yang dilakukan pada 1977, misalnya, menemukan fakta bahwa para peraih penghargaan nobel di bidang fisika umumnya melakukan penelitian pada usia 36 tahun dan memenangi nobel pada usia 39 tahun.

Ya, selain kreativitas, memasuki usia 30-an, kepribadian seseorang—yang dibentuk sejak kanak-kanak hingga akhir usia 20-an—cenderung lebih matang. Masalahnya, seiring pohon meninggi terpaan angin juga kian kencang. Dan bagi orang-orang seperti Budi, yang mendapati realitas malah melenceng dari ekspektasi, hidup di umur 30-an tak ubahnya hidup di sebuah fase yang rawan: fase di mana kecemasan kerap muncul dan pertanyaan-pertanyaan eksistensial lebih sering dilontarkan.

“Kondisi demikian akan menimbulkan keinginan untuk berubah, menemukan rencana untuk keluar dari situasi saat ini, dan membangun kembali kehidupan,” kata Oliver Robinson, Psikolog asal Inggris, kepada New Scientist.

Kabar baiknya, alih-alih mengutuk keadaan atau larut dalam penyesalan, kebanyakan orang orang dewasa bakal melihat krisis pada fase tersebut secara positif.

“Meski belum terlalu signifikan, sejak akhir 2019 lalu aku rutin menabung. Dan meski hasilnya belum kelihatan—orang tuaku masih sering menuntut agar aku lekas-lekas menunjukkan buah pekerjaan selama ini—punya tabungan cukup membuat aku kembali mempunyai kepercayaan diri,” sambung Budi.

Ya, di samping membangun rumah tangga, seperti halnya teman-teman seusianya, Budi juga mulai berpikir untuk mempanjar rumah atau membeli kendaraan roda empat. Meski terbilang agak telat, ia yakin mewujudkan impian itu bukanlah perkara yang mustahil.

“Dengan menabungkan uang lewat fitur Dream Saver Jenius, semua targetku bisa lebih terukur,” ungkapnya.

Infografik Advertorial Jenius Checklist
Infografik Advertorial Bahagia & Cemas di Usia 30. tirto.id/Mojo

Finansial Checklist Usia 30-an


Punya keinginan ini itu boleh-boleh saja. Tapi demi mencapai ketahanan sekaligus kemerdekaan finansial—hal yang juga kerap bikin galau orang-orang di usia 30-an—ada baiknya untuk menyiapkan dana darurat.

Para pakar keuangan berpendapat, idealnya jumlah dana darurat adalah 6 kali jumlah pengeluaran bulanan. Seiring bertambahnya usia, anggaran untuk kebutuhan, tanggungan, dan cicilan wajib juga turut bertambah. Keberadaan dana darurat—yang jumlahnya bisa kamu tingkatkan melebihi batas ideal—akan membuatmu bertahan jika suatu saat berhadapan dengan situasi yang tidak diinginkan.

Selain dana darurat, urusan lain yang boleh kamu pertimbangkan saat memasuki usia 30-an adalah punya tabungan dengan jumlah setara penghasilan setahun. Sebagai tabungan—dengan jumlah yang tidak kecil pula—finansial checklist dengan target seperti ini bukanlah perkara wajib, tapi akan lebih baik jika dimiliki. Dengan punya tabungan semacam itu, kamu akan lebih mudah mewujudkan keinginan tanpa perlu mengganggu dana darurat sepeser pun. Terdengar menyenangkan? Tentunya, merealisasikan itu akan lebih menyenangkan lagi.

Jika memiliki tabungan dengan jumlah setara pemasukan setahun dianggap cukup sulit, kamu bisa mengupayakan hal tersebut dengan menambah jumlah penghasilan. Di usia 30-an, ketika kariermu mulai menanjak, skill dan relasimu juga turut berkembang, kan? Manfaatkan hal itu guna mendapatkan penghasilan tambahan, baik lewat menerima pekerjaan sampingan maupun membuka usaha anyar. Seiring bertambahnya jam terbang, kemampuanmu juga layak diuji dan dihargai, bukan?

Perkara berikutnya yang tidak boleh luput dalam daftar hal-hal yang harus kamu wujudkan di usia 30-an adalah perkara asuransi. Baik asuransi kesehatan maupun asuransi jiwa. Meski secara fisik kamu belum merasakan sakit berat, ingat, kondisimu sekarang sudah jauh berbeda dengan kondisi tubuhmu satu dasawarsa silam.

Saat memasuki usia 35, seseorang bahkan disarankan agar rutin melakukan medical check up, paling tidak setahun sekali. Sebab itu, perhatikan asuransi kesehatan yang kamu miliki, evaluasi premi dan nilai pertanggungannya, serta lakukan komparasi terhadap hasil medical check up terkini. Jika ada risiko kesehatan yang tampak bakal menyulitkan keuanganmu di kemudian hari, ada baiknya kamu meng-update asuransi kesehatan yang ada sedini mungkin. Adapun mengenai asuransi jiwa, layanan itu diperlukan sebagai proteksi agar saat terjadi hal-hal di luar rencana, secara finansial, keluargamu tetap terlindungi.

Jika pada usia 20-an seseorang dianggap baru menapaki karir, wajar bila menginjak usia 30-an karirnya dianggap mapan atau menanjak. Dalam kondisi demikian, tidak ada salahnya kamu mulai menyiapkan dana religi, baik untuk perjalanan seorang diri maupun ditemani pasangan dan keluarga. Lewat fitur Dream Saver, fitur yang sudah dirasakan manfaatnya oleh jutaan nasabah Jenius, anggaran untuk perjalanan religi dalam tempo singkat—umroh atau ziarah ke Yerusalem, misalnya—bisa kamu kumpulkan dalam kurun 2-3 tahun. Sedangkan untuk perjalanan yang lebih panjang seperti naik haji, kamu bisa menyiapkannya di rentang 5-10 tahun.

Semua finansial checklist di atas—sila tambahkan checklist versimu sendiri—dapat kamu wujudkan bersama Jenius. Selain Dream Saver yang dapat membantumu mewujudkan impian dengan lebih terukur, fitur lain seperti Moneytory juga sangat membantu dalam soal mengevaluasi pengeluaran.

Tentunya, ada banyak fitur lain pada aplikasi Jenius. Jika sudah punya aplikasi keluaran Bank BTPN ini, kamu hanya perlu mengoptimalkannya. Ingat, seiring pohon meninggi terpaan angin juga kian kencang. Dan dalam soal finansial, Jenius bakal menemani kamu untuk melewatinya.

“Bersama Jenius, aktivitas menabung dan mengelola keuangan menjadi lebih menyenangkan,” komentar A. Budiman, mengakhiri curahan hatinya. []
DarkLight