Kebiasaan untuk Membangun Kedekatan dengan Anak: Peluk & Dengarkan

Oleh: Cornelia Agata Wiji Setianingrum - 3 Februari 2020
Dibaca Normal 3 menit
8 kegiatan positif untuk membangun kedekatan lebih dalam dengan anak
tirto.id - Membangun kedekatan dengan anak merupakan suatu kegiatan yang wajib dilakukan oleh semua orang tua di dunia ini. Kedekatan orang tua dengan anak akan memberi ketenangan dan kenyamanan anak dalam rumah.

Hal ini dikarenakan hubungan awal yang seharusnya dijalin oleh anak-anak yaitu hubungan dengan orang tua.

Kedekatan tersebut juga dapat membuat anak-anak mau menjadikan orang tua sebagai sahabat yang membuatnya terbuka menceritakan segala yang dialaminya dalam lingkungan luar.

Orang tua harus bisa membangun kedekatan mereka menjadi kedekatan yang positif. Kedekatan yang dapat menanamkan nilai-nilai moral dan sosial mereka, dan pandangan mereka mengenai kehidupan dunia yang lebih luas.

Hubungan positif yang dapat dibangun oleh orang tua dengan anak menurut The Australian Parenting yaitu dengan:
  • menciptakan moment bersama dengan anak Anda
  • menghabiskan waktu berkualitas dengan anak Anda
  • menciptakan lingkungan kepedulian dan rasa hormat yang peduli.
Kedekatan yang positif yang sudah terbangun sejak dini juga akan membuat orang tua semakin cepat merespons kebutuhan emosional anak, sehingga anak pada akhirnya merasa dimengerti dan dihargai.

Tiga cara yang dilakukan orang tua untuk membangun hubungan positif dengan anak harus dijadikan sebuah kebiasaan.

Kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan karena selalu dilakukan akan tertanam secara otomatis pada ingatan dan juga pada sisi psikologi anak Anda.

Ada beberapa kegiatan positif bisa dijadikan kebiasaan yang dapat membuat Anda membangun kedekatan lebih dalam dengan anak seperti yang dilansir dari Psychology Today yaitu:

1. Melakukan koneksi dengan interaksi fisik positif dengan anak setiap hari.

Kontak fisik positif sederhana yang bisa diberikan kepada anak adalah pelukan. Pelukan memang menjadi hal yang mudah dilakukan setiap saat apa lagi dilakukan orang tua pada anak.

Seperti yang dikatakan oleh terapis keluarga Virginia Satir, yang ditulis oleh Psychology Today menerangkan bahwa "Kami membutuhkan 4 pelukan sehari untuk bertahan hidup. Kami membutuhkan 8 pelukan sehari untuk pemeliharaan. Kami membutuhkan 12 pelukan sehari untuk pertumbuhan."

Pelukan yang diberikan bisa dilakukan pada saat anak berangkat ke sekolah, pulang sekolah, pada saat akan tidur dan berbagai kegiatan lainnya.

Pelukan tersebut juga bisa diikuti dengan kontak fisik positif lainnya seperti membelai rambut, menepuk punggung, menggosok bahu, membuat kontak mata dan tersenyum.

2. Bermain bersama dan menikmati momen.

Bermain bersama anak dapat dijadikan sebagai kegiatan rutin atau kebiasaan untuk dapat menciptakan momen sekaligus menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak.

Kegiatan ini juga akan menjalin komunikasi yang baik antara anak dengan orang tua. Hal ini dikarenakan pada saat bermain, anak akan bertanya tentang permainan yang sedang dimainkan bersama. Melalui media itulah orang tua dapat berkomunikasi secara intens dengan anak.

Menggunakan setiap interaksi sepanjang hari harus digunakan sebagai kesempatan untuk terhubung.

Nikmati setiap momen yang terjadi dengan anak Anda. Mulai dari memilih mainan, membuka mainan, memainkannya hingga merapihkannya kembali harus dilakukan dan dinikmati agar menciptakan rasa yang baik. Menikmati momen menjadi satu-satunya cara kita dapat terhubung.

3. Matikan teknologi saat Anda berinteraksi dengan anak Anda.

Hubungan yang positif adalah hubungan yang dilakukan secara langsung. Sentuhan yang langsung terkena pada anak-anak akan lebih mudah di ingat oleh mereka.

Seperti halnya orang tua memberi tahu akan suatu hal yang tidak boleh dilakukan akan tertanam apabila dilakukan atau diberitahukan secara langsung tanpa ada gangguan. Ganguan yang dimaksud adalah teknologi yang ada di sekitar seperti smartphone.

Apabila anak terpengaruh oleh teknologi maka apa yang disampaikan oleh sekelilingnya tidak akan didengar apa lagi tertanam dalam pikirannya. Bahkan pilihan untuk mematikan musik di mobil dapat menjadi cara ampuh untuk terhubung dengan anak untuk menyampaikan sesuatu.

4. Menjadi penghubung dirinya dengan perubahan baru.

Anak-anak akan mengalami kesulitan ketika harus melakukan transisi (perubahan) dari satu hal ke hal lainnya.

Mereka membutuhkan orang tua untuk membantu mereka untuk dapat melalui saat-saat ketika mereka benar-benar tidak ingin melepaskan apa yang mereka lakukan untuk pindah ke sesuatu yang kita ingin mereka lakukan.

Hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk dapat meyakinkan anaknya melakukan suatu perubahan dengan cara menatap matanya, meyakinkan dengan kontak mata, terhubung dengannya, dan kemudian membuatnya yakin, metode itu akan memberinya jembatan untuk mengelola dirinya sendiri melalui transisi yang sulit.

5. Luangkan waktu secara pribadi.

Pendekatan yang dilakukan orang tua dengan anak-anaknya juga harus dilakukan secara intensif. Apabila Anda memiliki lebih dari satu anak, Anda harus bisa meluangkan waktu setidaknya 15 menit bagi masing-masing anak Anda.

Waktu yang Anda berikan dapat diisi dengan berbagai kegiatan yang diinginkan. Waktu inilah akan membuat mereka dapat menuangkan apasaja yang ingin disampaikannya tanpa ada rasa takut karena apabila bersama dengan saudara lain mungkin saja hal itu tidak tersampaikan.

6. Mengenal emosi anak.

Sebagai orang tua penting untuk dapat mengenal dan memahami emosi anak yang baru muncul. Kadang kala, anak Anda mengekspresikan emosinya yang akan mengarahkan perilakunya. Emosi yang diciptakan anak Anda jangan sampai membuat amarah Anda terpancing hingga melakukan tindakan yang tidak seharusnya seperti memarahinya.

Ingatlah bahwa Andalah yang cukup dia percayai untuk menangis bersamanya, dan bernafaslah untuk itu.

Akui saja semua perasaan itu dan berilah pengertian terhadap anak. Hal itu akan menciptakan keamanan diri, sehingga dia dapat bergerak melalui emosi-emosi itu dan kembali terhubung dengan dunianya. Setelah itu, dia akan merasa lebih santai, kooperatif, dan lebih dekat dengan Anda.

7. Menjadi Orang tua yang selalu mendengarkan, dan berempati.

Kebiasaan melihat sesuatu dari sudut pandang anak Anda akan memastikan bahwa Anda memperlakukannya dengan baik dan membuat Anda dapat menemukan win-win solution. Sudut pandang inilah yang akan membantu Anda untuk dapat mengatur emosi Anda sendiri pada saat menangani anak-anak walau dapat situasi sulit seperti pada saat satu sama lain berkelahi.

8. Tidur bersama sambil mengobrol.

Cobalah untuk menghabiskan waktu dengan tidur bersama yang dilakukan dengan menjalin obrolan bersama. Obrolan tersebut dapat dijadikan sarana untuk memberikan nasihat mengenai masalah yang dialami sehingga anak dapat melakukan sesuatu yang lebih baik di hari barunya.

Yakinkanlah anak Anda bahwa Anda mendengar kekhawatirannya pada kehidupannya, yakinkan juga bahwa Anda ada bersama-sama dengan dirinya untuk menyelesaikannya, besok.

Hari berikutnya, pastikan untuk menindaklanjutinya. Anda akan kagum bagaimana hubungan Anda dengan anak Anda semakin dalam. Dan jangan hentikan kebiasaan ini saat anak Anda semakin besar. Larut malam sering kali satu-satunya waktu remaja akan terbuka.

9. Menjadi orangtua yang selalu ada.

Setiap anak-anak memiliki sekitar 900 minggu masa kanak-kanak sebelum meninggalkan rumah. Masa dewasanya membuat dirnya harus pergi untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan keinginannya.

Membuat kenangan dan momen bersama anak selama dirinya masih dirumah dapat menjadikan anak-anak mengingat orang tua. Anda bisa melakukan interaksi dengan anak semasa kecil dengan menunjukkan bahwa Anda selalu berada di sisinya selama kegiatan yang dilaluinya.

Anda tidak akan bisa melakukan ini sepanjang waktu. Tetapi jika Anda membiasakan diri untuk melakukannya beberapa kali sehari, Anda akan tertanam pada pikirannya menjadi orang tua yang selalu ada dan sering muncul dalam kehidupannya.


Baca juga artikel terkait PARENTING atau tulisan menarik lainnya Cornelia Agata Wiji Setianingrum
(tirto.id - Gaya Hidup)

Kontributor: Cornelia Agata Wiji Setianingrum
Penulis: Cornelia Agata Wiji Setianingrum
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight