Kapan Tubuh Bayi Siap Diberi Makanan Padat atau MPASI?

Oleh: Widia Primastika - 16 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Makanan bayi bisa diberikan secara bertahap mulai dari ASI, MPASI, hingga makanan keluarga.
tirto.id - Sebuah utasan twit dari akun Twitter @kyeomdongie menjadi ramai diperbincangkan setelah ia berkicau tentang bayi usia 4 bulan yang meninggal setelah diberi makan nasi utuh.

Dalam cuitannya, ia mengatakan bahwa bayi tersebut dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) dalam kondisi perut distended (kondisi adanya gas atau cairan dalam perut yang menyebabkan perut menggembung melebihi ukuran normal), sesak, akral dingin, nadi tidak teraba, dan tangis lemah.

“Panjang cerita, akhirnya setelah konsul spesialis anak dianjurkan untuk foto abdomen polos. Di foto, hasilnya? Lambungnya hampir pecah! Kondisi lambung lebih besar dari jantung! Dan fesesnya ngumpul semua di bagian usus, ga bisa keluar,” tulis pemilik akun tersebut.

Dalam utasan itu, dia menceritakan bahwa sang dokter anak marah karena bayi usia 4 bulan seharusnya hanya minum susu. Lambungnya belum siap untuk mencerna sesuatu yang berat.

Seperti ditulis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam buku Infant and Young Child Feeding, pemberian makanan pada bayi sangat penting untuk pertumbuhan, kesehatan, dan perkembangan otak anak. Di situ, WHO memberikan rekomendasi pemberian makanan pada bayi dan balita, yaitu ASI eksklusif selama 6 bulan (180 hari) dan pemberian makanan pendamping ASI untuk bayi usia 6 bulan hingga 2 tahun.

Mengapa harus menunggu?

Dokter Spesialis Anak Dr. Catharine Mayung Sambo, Sp.A(K) menyampaikan bahwa salah satu alasan adanya tahapan pemberian makanan pada bayi karena fungsi saluran cerna pada bayi baru lahir belum sempurna seperti orang dewasa, apalagi kapasitas lambung bayi baru lahir hanya sebesar kelereng.

“Secara garis besar, fungsi saluran cerna kan untuk pertahanan tubuh, pencernaan dan penyerapan nutrisi, dan pembuangan zat sisa. Fungsi-fungsi ini pada bayi baru lahir tidak sesempurna anak yang lebih besar atau orang dewasa, jadi memang harus diberikan yang sesuai dengan usia,” kata Mayung kepada Tirto.

Oleh karena itu, pada 6 bulan pertama, bayi cukup diberi Air Susu Ibu (ASI). Selain memenuhi semua kebutuhan nutrisi bayi, ASI juga siap serap sehingga sesuai dengan perkembangan kematangan saluran cerna.

Setelah melewati 6 bulan, bayi bisa diberi tambahan makanan pendamping ASI (MPASI). Pemberian MPASI bukan hanya karena kebutuhan nutrisi yang meningkat pesat, tapi juga perkembangan bayi yang sudah memungkinkan untuk mengonsumsi makanan bertekstur lebih kasar. Namun, menurut Mayung, pemberian makanan itu tetap harus memperhatikan batas keamanan tertentu.

“Tekstur MPASI pertama yang bagus itu yang masih agak encer, kemudian secara bertahap ditingkatkan kekentalannya lalu makin memadat. Porsi dan waktu makan juga jangan lupa naik bertahap,” ungkap Mayung.

Mayung mengatakan bahwa tahap MPASI merupakan tahap peralihan dari ASI menuju menu keluarga. Pada usia 1 tahun, anak diharapkan sudah bisa mengonsumsi makanan menu keluarga. “Tidak ada patokan kaku juga harus tekstur apa di umur berapa. Kalau penyesuaian lancar, biasanya sekitar usia 10 bulan sudah nasi tim,” tutur Mayung.

Perbedaan Pencernaan Bayi dan Dewasa


Dalam Buletin milik Organisasi Kesehatan Dunia yang berjudul Infant Feeding The Physiological Basis (PDF) tertulis bahwa bayi baru lahir hanya memiliki fungsi menghisap dan menelan, gerak refleks dari koordinasi bibir, pipi, lidah, dan faring. Gerakan tersebut akan berkembang ketika bayi menginjak usia empat hingga enam bulan, yakni kemampuan bayi mengangkut makanan ke bagian belakang mulut dan ditelan.

Menginjak usia tujuh bulan, gigi bayi mulai tumbuh, sehingga dia mulai memiliki kemampuan menggigit dan mengunyah.

Menurut situs Very Well Family, ada perbedaan antara anatomi sistem pencernaan bayi dan orang dewasa. Misalnya di bagian kepala dan leher. Pada bayi, lidah lebih besar ikatannya dengan rongga mulut dan ada bantalan lemak ekstra di sisi lidah untuk membantu mengisap. Bagian laring bayi pun lebih tinggi daripada orang dewasa, dan epiglotis terletak di atas langit-langit untuk memberi jalan pernapasan.

Kerongkongan pada bayi dan orang dewasa pun berbeda ukuran. Ukuran kerongkongan bayi baru lahir hanya sekitar 4,5 inci, sedangkan pada orang dewasa sebesar 9,5 inci.

Perbedaan lain terletak pada usus besar. Usus besar pada bayi mulanya steril, tapi dalam waktu beberapa jam, E. coli, Clostridium, dan Streptococcus muncul. Bakteri-bakteri itu berperan penting untuk pencernaan dan pembentukan vitamin K.

Dokter Spesialis Anak Dr. Catharine Mayung Sambo, Sp.A(K) memaparkan beberapa tanda fisik yang menunjukkan kesiapan bayi untuk belajar makan MPASI. Saat duduk, bayi sudah kuat menyangga kepala agar tetap pada posisi tegak. Ciri lain dari bayi siap MPASI adalah refleks ekstrusi (menjulurkan lidah) bayi sudah menghilang dan sering lapar. Selain itu, bayi pun menjadi tertarik dengan kegiatan makan.

“Ini biasanya kelihatan kalau kita sedang makan, bayinya kayak mau [minta makanan], atau [ketika] ditawarin suapan dia buka mulut,” tutur Mayung.

Infografik Tahapan Makan Pada Bayi
Infografik Tahapan Makan Pada Bayi


Makanan MPASI


Untuk MPASI pertama, Mayung menyarankan kepada orangtua untuk memberi makanan yang mengandung zat gizi yang kurang pada ASI, khususnya zat besi. Misalnya, tepung yang difortifikasi dan dicampur dengan ASI sebelum disajikan, atau dicampur dengan susu formula bayi.

Dilansir Mother & Baby Indonesia, ada beberapa tahapan pemberian makanan bayi saat MPASI. Pada bayi usia 6 bulan ke atas, orangtua bisa memberikan beras putih, beras merah, tepung beras, atau kentang sebagai sumber karbohidrat, disertai dengan sayuran muda yang kaya akan mineral, seperti bayam, kangkung, brokoli, dan sawi hijau.

Untuk buah-buahan, mulailah memberi pisang, alpukat, mangga, pepaya. Tentu saja Anda harus memberikan buah yang matang, dan menghindari buah yang rasanya asam. Untuk buah jeruk, Anda baru bisa memberikan kepada buah hati saat berusia 7 bulan.

Untuk menumis makanan bayi, gunakanlah minyak jenuh seperti minyak zaitun dan minyak kelapa dan hindari minyak tak jenuh seperti minyak bunga matahari dan minyak jagung. Minyak tak jenuh akan menghasilkan radikal bebas saat dipanaskan.

Ketika sang buah hati mulai menginjak usia 7 bulan, Anda bisa mulai memberi polong-polongan yang kaya akan protein nabati, vitamin, dan mineral. Selingi dengan menu lain, karena polong-polongan bisa menyebabkan perut kembung pada bayi.

Selain itu, Anda juga bisa memberi kuning telur, daging ayam atau unggas lainnya, serta hati ayam untuk sang buah hati. Saat berusia 8 bulan, beri buah hati Anda tahu putih dan oat. Menjelang usia 12 bulan, sajikan jagung manis atau pasta.

Baca juga artikel terkait BAYI atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani