Menuju konten utama

Kapan Malam Lailatul Qadar, Tanda-tanda, dan Keutamaannya

Kapan lailatul qadar terjadi dirahasiakan oleh Allah. Yang bisa dilakukan oleh umat Islam adalah beribadah sembari mempelajari tanda-tanda dan keutamaan malam lailatulqadar.

Kapan Malam Lailatul Qadar, Tanda-tanda, dan Keutamaannya
Umat muslim melaksanakan salat malam di Masjid Agung Islamic Centre Lhokseumawe, Aceh, Jumat (16/6). ANTARA FOTO/Rahmad

tirto.id - Kapan lailatulqadar (Malam Kemuliaan) pada dasarnya dirahasiakan oleh Allah dari umat manusia. Nabi Muhammad bahkan hanya menganjurkan agar kita mencari malam tersebut terutama pada malam 10 hari terakhir bulan Ramadan. Namun, malam tersebut memiliki tanda-tanda khusus.

Lailatulqadar diperingati sebagai malam turunnya Al-Qur'an secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah. Malam ini lebih utama daripada malam 1.000 bulan. Nabi Muhammad menyebutkan, lailatulqadar ada pada setiap Ramadan (H.R. Abu Dawud) dan lebih rinci lagi melalui riwayat lain dari jalur Aisyah, menyatakan "Carilah Lailatulqadar itu pada tanggal ganjil dari 10 hari terakhir bulan Ramadan" (H.R. Bukhari).

Salah satu hikmah dari tidak dijelaskannya secara rinci tentang kapan lailatulqadar ini, adalah, umat Islam akan senantiasa tekun beribadah sepanjang Ramadan, tidak hanya terpaku pada malam atau hari tertentu saja. Jika waktu lailatulqadar sudah diberitahukan sejak awal, maka konsentrasi umat hanya pada malam yang dimaksudkan.

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Meskipun lailatulqadar menjadi rahasia Allah, umat Islam diberi petunjuk untuk memprediksi kapan malam tersebut tiba, yaitu, keesokan hari setelah lailatulqadar, paginya suasana akan tenang dengan cahaya mentari yang redup (tidak panas)

Diriwayatkan dari jalur Ubay bin Ka'ab, yang berkata, "Lailatulqadar itu adalah malam, ketika Rasulullah memerintahkan kami untuk menegakkan salat di dalamnya, malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke-27 (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah, pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang terik menyilaukan" (H.R. Muslim 1272).

Selain itu, tanda lailatulqadar adalahpada malam hari langit sangat bersih. Hawanya tidak dingin maupun tidak panas. Keterangan ini diperoleh berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas, "Sesungguhnya Rasulullah bersabda tentang (tanda-tanda) Lailatulqadar (yaitu) malam yang mudah, indah, tidak (berhawa) panas atau dingin, matahari terbit (pada pagi harinya) dengan cahaya kemerahan (tidak terik)” (H.R. Bukhari)

Kemuliaan Lailatul Qadar

Dalam Surah Al-Qadr:3-4, Allah berfirman bahwa Lailatulqadar atau Malam kemuliaan "lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan,".

Dari kandungan ayat tersebut, dapat disimpullkan kemuliaan lailatul qadar ini terletak pada nilainya yang lebih baik dari seribu bulan. Selain itu malam tersebut adalah waktu diturunkannya para malaikat untuk mengatur segala urusan.

Terkait konsep 1.000 bulan ini, Syekh Abdul Halim Mahmud menyebutkan bahwa angka tersebut sama dengan 83 tahun 4 bulan, yang bisa berarti umur standar umat manusia.

Beliau menjelaskan dalam Syahr Ramadhân bahwa "Lailatul qadr (alfu syahrin) lebih baik dari umur manusia; dari umur setiap manusia, baik umur manusia di masa lalu maupun umur manusia pada masa mendatang. Intinya, lailatulqadar lebih baik dari (usia) zaman".

Terkait diturunkannya para malaikat pada lailatulqadar, Muhammad Quraish Shihab menerangkan ketika itu malaikat memang turun dan mengunjungi seseorang. Malaikat pun senang dengan segala hal yang bersifat kebaikan.

Keutamaan lain malam lailatul qadar juga dapat diketahui dalam hadis riwayat Imam Bukhari. Dosa-dosa manusia yang sudah dilakukan terdahulu pun bisa diampuni ketika ia menjalankan salat malam pada malam tersebut. Sebagaimana keterangan dalam hadis, "Barangsiapa salat pada lailatulqadar karena iman dan mengharapkan pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lampau" (HR. Imam Bukhari).

Baca juga artikel terkait RAMADHAN atau tulisan lainnya dari Beni Jo

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Beni Jo
Penulis: Beni Jo
Editor: Fitra Firdaus