Menuju konten utama

Kantin Sekolah akan Dilibatkan dalam Produksi MBG, Tak Cuma SPPG

Pemerintah akan menyalurkan MBG ke sekolah yang benar-benar membutuhkan sehingga tepat sasaran.

Kantin Sekolah akan Dilibatkan dalam Produksi MBG, Tak Cuma SPPG
Siswa menyantap makanannya saat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Depok, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (11/6/2026). Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, menegaskan komitmennya untuk meningkatkan efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui efisiensi anggaran, penguatan kualitas layanan, dan penataan ulang penerima manfaat. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilanjutkan karena mendapat dukungan luas dari siswa. Namun pelaksanaan ada penyesuaian, termasuk kemungkinan melibatkan kantin sekolah sebagai penyedia makanan bergizi.

"Jumlah murid yang menerima MBG itu sekitar 43,4 juta dari total 53,5 juta murid di Indonesia atau sekitar 80,94 persen. Sebagian besar mengharapkan program ini tetap dilanjutkan," kata Abdul Mu'ti saat kunjungan kerja ke Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (14/6/2026) dilansir dari Antara.

Dia mengatakan data penerima MBG saat ini telah terintegrasi dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sehingga pemerintah memiliki data lengkap mengenai siswa penerima manfaat berdasarkan nama, alamat, dan sekolah masing-masing.

Meski program tetap berlanjut, pemerintah akan melakukan perubahan skema penyaluran agar lebih tepat sasaran. Sekolah yang dinilai tidak terlalu membutuhkan bantuan MBG dimungkinkan tidak lagi menjadi penerima program, sedangkan sekolah dengan siswa lebih membutuhkan akan diprioritaskan.

Selain itu, mekanisme penyediaan makanan tidak seluruhnya harus melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pemerintah membuka peluang agar sebagian pelaksanaan MBG dilakukan melalui dapur atau kantin sekolah dengan tetap berada di bawah koordinasi dan supervisi Badan Gizi Nasional (BGN).

Ia juga menegaskan sejumlah kasus keracunan yang sempat terjadi tidak menjadi alasan menghentikan program MBG secara keseluruhan.

Menurut dia, hal yang perlu dilakukan berupa evaluasi terhadap dapur penyedia makanan yang bermasalah.

"Kalau ada keracunan, yang dihentikan adalah dapur yang tidak benar untuk dievaluasi, sedangkan SPPG yang baik tetap dilanjutkan. Bahkan, dapur yang tidak memenuhi standar bisa dicabut izin operasionalnya," ujarnya.

Abdul Mu'ti menilai program MBG bagian penting dari upaya pemerintah membangun kualitas generasi muda Indonesia, tidak hanya dari sisi akademik tetapi juga kesehatan dan pemenuhan gizi.

"Generasi ini harus dibangun baik akademiknya maupun fisiknya. Fisik dibangun melalui MBG, sehingga anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat dan siap bersaing di masa depan," ujarnya.

Baca juga artikel terkait MAKAN BERGIZI GRATIS

tirto.id - Flash News
Sumber: Antara
Editor: Bayu Septianto