Menuju konten utama

Jubir Jokowi: Kondisi Ekonomi RI Masih Baik Meski Resesi

Pihak Istana mengklaim kebijakan program penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) terbukti efektif membalikan pelemahan ekonomi.

Jubir Jokowi: Kondisi Ekonomi RI Masih Baik Meski Resesi
Aktivitas pasar ikan tradisional peunayong ditengah pandemi COVID-19, di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (3/10 2020). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/hp.

tirto.id - Pemerintah masih mengklaim kondisi ekonomi Indonesia membaik meski mengalami kontraksi 3,49 persen pada kuartal III (Q3) 2020. Pemerintah membandingkan antara pertumbuhan ekonomi Q3 dengan pertumbuhan ekonomi Q2 2020.

"Ekonomi kita telah mengalami banyak perbaikan dan kemajuan dibandingkan dengan Q2 ketika awal pandemi terjadi di Indonesia, faktor belanja pemerintah, menopang pelemahan di sektor konsumsi maupun investasi," kata Juru Bicara Presiden Jokowi bidang Ekonomi Arif Budimanta dalam keterangan tertulis, Kamis (5/11/2020).

Arif menuturkan pertumbuhan ekonomi Indonesia Q3 2020 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai negatif minus 3,49 persen. Namun pertumbuhan ekonomi Indonesia antar kuartal atau Q to Q mencapai 5,05 persen.

Sebagai catatan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Q1 2020 berada pada angka 2,97 persen. Kemudian angka tersebut merosot ke minus 5,32 persen pada Q2 tahun 2020.

Arif mengklaim kebijakan pemerintah lewat Komite Percepatan Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) efektif dalam menangani masalah ekonomi di tengah pandemi.

"Kebijakan pemerintah, melalui program penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), terbukti efektif dalam membalikan pelemahan ekonomi yang sempat dialami Indonesia sejak awal pandemi, Maret 2020," kata Arief.

Arief beralasan belanja pemerintah pada Q3 tumbuh 9,76 persen dan berkontribusi 9,69 persen bagi perekonomian Indonesia. Ia pun mencatat sektor konsumsi rumah tangga secara tahunan -4,04 persen; sektor investasi -6,48 persen; ekspor dalam sektor perdagangan internasional dengan angka -10,82 persen dan laju penurunan impor -21,86 persen.

Ia menuturkan pemerintah sudah membelanjakan Rp1.840,9 triliun atau 67,2 total belanja negara. Angka ini, kata Arif, naik 15,4 persen dibandingkan tahun 2019.

Khusus untuk KPCPEN, pemerintah sudah menyalurkan belanja per 23 september 2020 mencapai Rp268,3T atau 38,6 persen dari pagu anggaran. Kemudian, penyerapan meningkat pada 2 November 2020 yang mencapai Rp366,86 atau 52,8 persen dari total pagu Rp695,2T.

Pemerintah berencana untuk mendorong percepatan penyerapan anggaran di Q4 agar ekonomi bisa kembali pulih.

Baca juga artikel terkait RESESI INDONESIA atau tulisan lainnya dari Andrian Pratama Taher

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Bayu Septianto