Menuju konten utama

Jokowi Diminta Rombak Pimpinan BMKG Sebab Gagal Antisipasi Bencana

Dosen UGM mengirimkan surat terbuka ke Presiden Jokowi yang meminta untuk merombak jajaran pimpinan BMKG karena dinilai gagal  memberi peringatan dini sebelum terjadi bencana.

Jokowi Diminta Rombak Pimpinan BMKG Sebab Gagal Antisipasi Bencana
Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Bagas Pujilaksono Widyakaningara, Jumat (28/12/2018), tirto.id/Irwan A. Syambudi

tirto.id -

Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) menulis surat terbuka mengkritik kinerja Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang dinilai gagal memberi peringatan dini kepada warga sebelum terjadi bencana.

Dosen ahli metalurgi UGM Bagas Pujilaksono Widyakaningara menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo. Saat dikonfirmasi, ia membenarkan bahwa telah menuliskan surat tersebut pada Rabu (26/12/2018) lalu.

"Ini [surat terbuka] karena keprihatinan sejak lama ketika terjadi gempa yang menyebabkan tsunami di Palu," kata dia saat ditemui di UGM Yogyakarta, Jumat (28/12/2018).

Isi surat terbuka tersebut sebagai berikut:

Kepada Yth,

Presiden Republik Indonesia

Jakarta

Hal: Duka Selat Sunda

Dengan hormat,

Pertama, saya mengucapkan duka yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa yang sangat banyak, korban luka-luka dan orang hilang. Semoga keluarga yang ditinggal tabah, yang luka-luka lekas sembuh dan yang hilang bisa segera ditemukan dalam kondisi selamat...amien.

Bukan bermaksud menyalahkan siapa pun. Namun, kasus Selat Sunda, jelas ini adalah bentuk kegagalan BMKG dalam memberikan early warning kepada rakyat, sehingga harus jatuh banyak korban. Hal ini tidak harus terjadi, jika kinerja BMKG sesuai tupoksinya. Ini kegagalan BMKG untuk kedua kalinya pasca-tsunami Palu.

Pernyataan-pernyataan pimpinan BMKG, terutama kepalanya, sifatnya blunder, ragu-ragu, asal bunyi, dan tidak konsisten. Jelas semua itu gambaran riil atas ketidakmampuan mereka memahami masalahnya dan sama sekali tidak ada tanggung jawab profesi ke rakyat sebagai pejabat publik.

Pimpinan-pimpinan BMKG justru malah sibuk ngoceh di TV pasca bencana bak aktor/aktris sinetron dan ocehannya hanya menimbulkan blunder. Untuk apa? Bukannya sudah gagal total? Gagal memberi early warning ke rakyat agar mereka bisa menyelamatkan diri. Sehingga tidak jatuh korban begitu banyak.

Kepala BMKG selalu mengkambing hitamkan tidak adanya peralatan deteksi dini dan gempa karena aktivitas vulkanik gunung api itu ranahnya Badan Geologi. Namun, menghitung tinggi gelombang tsunami yang ke arah Pandeglang saja tidak mampu. BMKG bilang 0,9 m, sedang nelayan bilang 12 m. Jujur saya tidak percaya dengan ketinggian gelombang tsunami 0,9 m, berdasar energi kinetiknya yang berimplikasi pada tingkat kerusakan. BMKG juga bilang, tsunami itu karena longsoran di bawah laut. Sedang saksi mata melihat kaldera Gunung Anak Krakatau pecah. Yang benar yang mana? Pernyataan saksi mata itu lebih logis.

BMKG selalu bekerja dengan nalar terlambat. Sekarang sibuk bicara erupsi Gunung Anak Krakatau, longsoran, dan tsunami susulan. Mengapa hal ini tidak dibahas sebelum tsunami kemarin terjadi?

Ibu Megawati Soekarnoputri jauh-jauh hari sudah memperingatkan soal ancaman bahaya Gunung Anak Krakatau. Agar semua pihak khususnya BMKG aware!

Kinerja pimpinan BMKG yang seperti ini jelas akan menjatuhkan wibawa pemerintah, dan menimbulkan distrust di masyarakat. Lebih-lebih ini tahun politik, statement-statement blunder dari BMKG berpotensi digoreng oleh politisi-politisi Kambing Congek untuk mengacau rakyat dengan menyebar hoax yang sangat biadab.

Rombak pimpinan BMKG dari pucuk hingga ekor, agar ke depan kinerja BMKG lebih bermutu, utamanya dalam memberikan pelayanan peringatan dini ke masyarakat.

Di awal pemilu tahun 2014, bapak Presiden pernah berjanji untuk memasang orang-orang jagoan di bidangnya atau istilah populisnya kaum profesional. Sudah saatnya kinerja pejabat publik tersebut dievaluasi. Dan bapak Presiden juga pernah berjanji melarang pejabat negara untuk rangkap jabatan. Aturan ini sangat baik dan harus diberlakukan secara nyata.

Baca juga artikel terkait TSUNAMI SELAT SUNDA atau tulisan lainnya dari Irwan Syambudi

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Maya Saputri