Manajemen baru PT Asuransi Jiwasraya (Persero) akhirnya angkat bicara mengenai kondisi terkini perusahaan asuransi jiwa tertua di Indonesia tersebut.

Direktur Utama Jiwasraya, Hexana Tri Sasangko mengakui, saat ini perseroannya memang tengah menghadapi dua persoalan serius yaitu seretnya likuiditas hingga pada defisit kecukupan modal berdasarkan risiko perusahaan asuransi atau risk base capital (RBC).

Namun, manajemen bersama Kementerian BUMN selaku pemegang saham Jiwasraya telah merancang lima skenario penyelamatan, yaitu pencarian investor strategis untuk Jiwasraya Putra, pembentukan Lembaga Penjamin Polis (LPP), pembentukan holding BUMN sektor keuangan hingga merilis produk-produk asuransi dengan menggandeng perusahaan reasuransi atau financial reasuransi (Finre).

"Kami bersama pemegang saham akan terus mencari solusi untuk dua masalah itu, dan berjuang untuk nasabah. Jadi kami percaya para nasabah akan bersabar ketika mengetahui apa yang sedang dilakukan manajemen bersama pemegang saham," ujar Hexana, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Reasuransi yang akan dilakukan Jiwasraya salah satunya adalah melakukan pengalihan dari produk tradisional dengan guaranted return ke produk unit link dan produk iuran pasti.

Manajemen juga akan memfokuskan penjualan unit link yang dianggap lebih profitable dan perusahan melakukan penyesuaian harga produk tradisional untuk menyesuaikan gap antara interest rate dengan market interest.

Selain itu, perseroan akan fokus pada restrukturisasi aset properti yang berupa residensial, gedung dan tanah kosong dan mengoptimalkannya dengan cara sewa-kelola hingga penjualan.

Mengacu pada bahan paparan Rapat Dengar Pendapat (RDP) pekan lalu di Gedung DPR/MPR, manajemen baru Jiwasraya sedang membutuhkan dana segar untuk menutup defisit likuiditas perusahaan, pasca kesalahan penempatan portofolio investasi yang dilakukan manajemen lama, di bawah pimpinan Hendrisman Rahim dan Hary Prasetyo.

Jumlah aset Jiwasraya pada kurtal III/2019 tercatat hanya Rp25,6 triliun, sementara utangnya Rp49,6 triliun. Artinya, total ekuitas atau selisih aset dan kewajiban Jiwasraya minus 23,92 triliun. Bisnis perusahaan ini tak bisa lagi menopang kerugian yang menyentuh angka Rp13,74 triliun per September 2019.

Penjualan premi yang dikumpulkan Jiwasaraya di bawah kepemimpinan Hexana Rp5 triliun pada akhir 2018 tergerus habis-habisan untuk pembayaran bunga jatuh tempo serta pokok polis nasabah yang tidak melakukan rollover.


"Tentu saja dengan dana 'bridging yang terkumpul tadi, Kami memiliki limit. Namun secara paralel Kami akan terus menjalankan aksi korporasi yang sudah direncanakan sambil melakukan konsolidasi tim di internal," ujar Hexana.