5 Maret 1942

Jepang Menang Mudah: Menaklukkan Batavia dengan Pasukan Bersepeda

Ilustrasi Jepang menduduki Batavia. tirto.id/Nauval
Oleh: Petrik Matanasi - 5 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
Serdadu Jepang masuk dengan mudah ke Jawa. Hindia Belanda yang loyo pun menjadikan Batavia sebagai kota terbuka.
Dengan jumlah pasukan tidak sebanyak gabungan tentara-tentara kolonial di Asia Tenggara, serdadu Jepang bergerak kilat ke selatan pada 1942. Dua koloni Inggris, Malaysia dan Singapura, pun disikat dalam waktu cepat. Setelah itu giliran Hindia Belanda, dengan Pulau Jawa sebagai wilayah kunci, dicaplok.

Setelah Perang Laut Jawa, di mana Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang) sukses menenggelamkan lima kapal perusak dan lima kapal penjelajah milik Sekutu, maka Rikugun (Angkatan Darat Kekaisaran Jepang) pun bersiap.

Pada 1 Maret 1942 pasukan Jepang mendarat di Teluk Banten, Eretan Wetan (Indramayu), juga Kragan (Rembang). Pasukan ini berada di bawah komando Tentara ke-16 yang dipimpin Letnan Jenderal Hitoshi Imamura. Mereka sampai di darat bersama senapan berbayonet dan sepeda masing-masing. “Yang unik dari sepeda-sepeda itu ialah, bahwa 'frame-nya' terbuat dari kayu dan dapat dilipat,” tulis Djajusman dalam Hancurnya Angkatan Perang Hindia Belanda (KNIL) (1978: 197).


Kala itu rakyat Jawa lazim menyebut sepeda sebagai kereta angin. Di antara para serdadu bersepeda kayu yang berasal dari Taiwan, ada yang baru bisa naik sepeda sebelum diterjunkan ke Asia Tenggara.

Saat berada di darat, para serdadu itu bukannya menanti perbekalan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. John Tolland dalam The Rising Sun: The Decline and Fall of the Japanese Empire, 1936-1945 (2014), seperti dikutip Rosihan Anwar dalam Musim Berganti (1985: 99), menyebut bahwa serdadu Jepang terus bergerak ke jalan utama menaiki sepeda. Sementara itu truk dan mobil yang ditinggalkan Sekutu di jalanan kemudian dimanfaatkan serdadu-serdadu Jepang untuk maju terus ke kota.

“Ketika mereka tiba ke jembatan yang dirusak, pengendara sepeda menyeberangi sungai mengangkat tinggi-tinggi sepeda mereka atau menyeberangi jembatan kayu yang disediakan pasukan,” tulis John Tolland.

Seperti dicatat Rosihan Anwar, banyak ban sepeda serdadu Jepang yang pecah karena jalanan begitu panas. Mau tak mau mereka terus mengayuh hanya dengan pelek di atas aspal. Selain itu ada sepeda yang menyeret batok kelapa. Alhasil, suara mereka mirip deru tank yang menyeramkan lawan.

Di malam hari tentara Inggris dari India yang membantu Belanda di Jawa pun dibikin ketakutan karena suara yang mirip kendaraan lapis baja itu. “Tank, tank!” kata serdadu Inggris dan tindakan mundur pun dilakukan. Langkah maju serdadu-serdadu Jepang tak bisa dibendung. Mereka terus bergerak ke pedalaman dan ibu kota Hindia Belanda, Batavia.


Kota Batavia diserang dengan pasukan besar oleh Imamura. Sementara itu kekuatan Belanda, yang terdiri dari KNIL, hanya berjumlah seperempatnya. Militer Jepang didukung satuan udara yang mengebom Batavia. Mayor Jenderal Schilling merasa tak sanggup menghadapi kenyataan betapa dahsyatnya pergerakan Jepang.

Pelabuhan Tanjung Priok, seperti dicatat sejarawan Ong Hok Ham dalam Runtuhnya Hindia Belanda (1987: 253), sempat dibom militer Jepang. Tentu saja para perwira Belanda tak meninggalkan Batavia begitu saja. Mereka memberlakukan politik bumi hangus. Pelabuhan Tanjung Priok pun tak luput dari pembakaran.

“Mayor Jenderal Schilling mengambil keputusan untuk melepaskan kota Jakarta (Batavia) dan memerintahkan pasukan-pasukannya untuk bergerak mundur ke daerah Bandung,” tulis Djajusman.

Setelahnya, pada malam menjelang 5 Maret 1942, usai pembakaran Tanjung Priok, tentara Belanda memilih mundur ke arah Bandung. Belanda tak ingin bertempur di Batavia. Menurut Ong Hok Ham, saat itu banyak orang penting berbangsa Belanda sudah angkat kaki dari Jakarta.

Dengan mudah tentara Jepang memasuki Jakarta yang sudah dikosongkan oleh KNIL. Tentara Jepang ini tak seperti Divisi Panser Jerman yang dengan kilat menyapu Eropa. Apa yang kemudian masuk ke Batavia bukanlah barisan kendaraan lapis baja macam panser atau tank, melainkan kereta angin. Rombongan kereta angin ini datang dari arah Tangerang. Di Tangerang, tentara Jepang dielu-elukan rakyat pribumi.





Batavia Kota Terbuka

Akhirnya, pada 5 Maret 1942, tepat hari ini 78 tahun lalu, pemerintah Hindia Belanda—secara tergesa-gesa mencetak banyak selebaran dan lewat radio NIROM—menyatakan Jakarta sebagai kota terbuka (open stad) dan menerima tentara utusan Teino Heika itu.

Setelah pernyataan Batavia sebagai kota terbuka, hari itu juga serdadu-serdadu Jepang memasuki kota. Tentara Jepang tersebut, menurut Ong Hok Ham, “kurang gagah kelihatannya” (hlm. 276).


Dengan dijadikannya Batavia sebagai kota terbuka, menurut Benediktus Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan (Jilid 2) (2008: 6), pemerintah kolonial berharap Batavia dapat diselamatkan dari serangan. Ini seperti sebuah isyarat menyerahnya Hindia Belanda dalam Perang Pasifik. Hindia Belanda memang tak punya angkatan perang yang mampu melawan tentara asing. Mereka cuma sanggup melawan orang-orang pribumi bersenjata golok.

Kala Jepang masuk, Soebadio Sastrosatomo adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum di Batavia. Sebagai orang terpelajar, dia tak habis pikir mengapa Belanda bisa dikalahkan. Soebadio yang heran itu membatin, “lho, ini tentara naik sepeda, kok bisa menang.”

Bagaimanapun Jepang punya kunci bernama kecepatan. Tak menunggu lama setelah Batavia dimasuki, mereka langsung bergerak ke selatan. Kota Bandung tentu menjadi sasaran penting; ada markas besar tentara di sana.


Dalam tiga hari, Gubernur Hindia Belanda Alidius Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan panglima KNIL Letnan Jenderal Hein ter Poorten pun jadi tawanan. Tak hanya itu, di sekitar Kalijati, Subang, sebuah kapitulasi (penyerahan) tanpa syarat diteken Hindia Belanda di muka petinggi militer Tentara ke-16 yang sudah menguasai seluruh Pulau Jawa.

Batavia pun dijadikan markas besar Tentara ke-16 yang dipimpin Letnan Jenderal Imamura. Nama Batavia yang berbau Belanda kemudian diganti. Bukan dengan Betawi, tapi Jakarta.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight