Menuju konten utama
Harga Pangan

Janji Manis Zulhas Turunkan Harga Telur Ayam dalam Dua Pekan

Harga telur tidak mungkin bisa turun dalam dua pekan seperti janji Mendag Zulhas bila permasalahan inti belum terselesaikan.

Janji Manis Zulhas Turunkan Harga Telur Ayam dalam Dua Pekan
Peternak memanen telur ayam di salah satu peternakan di kawasan Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumatera Utara, Selasa (16/11/2021). ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/Lmo/hp.

tirto.id - Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) menargetkan, harga telur ayam kembali normal dalam dua pekan ke depan. Hal itu dilakukan dengan upaya menstabilkan permintaan dan meningkatkan produksi.

Zulhas menjelaskan, kenaikan harga telur dalam beberapa terakhir karena melonjaknya permintaan, sementara suplai atau produksi tidak memadai. “Mudah-mudahan paling lambat dua minggu sudah normal telur ayam. Walaupun itu juga nanti akan kita tambah ayam untuk petelur itu,” kata dia di Jakarta pada 25 Agustus 2022.

Salah satu faktor penyebab meningkatnya permintaan telur, kata Zulhas, adalah program bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat dengan salah satu bantuannya adalah telur ayam. Dengan pengadaan bansos itu, permintaan telur ayam melonjak di berbagai daerah.

“Ini rapel uangnya (uang bansos) tiga bulan agak banyak, jadi ada permintaan selama lima hari mendadak, pasar kurang pasokannya. Biasa kalau pasokan kurang dikit, kaget, harga naik,” kata Zulhas berdalih.

Zulhas mengaku sudah bertemu para perwakilan pengusaha telur. Para pelaku usaha meminta agar skema penyaluran bansos dibuat secara periodik agar produksi dapat mencukupi permintaan.

“Sarannya, bisa tidak bansos tiap bulan karena telur itu, kan, tidak bisa cepat. Jadi kalau bisa tiap bulan, sehingga ketika dibelanjakan tidak ada permintaan yang mendadak banyak,” ujarnya.

Menurut Zulhas, rata-rata harga telur saat ini Rp31.000 per kilogram. Ia ingin mampu menurunkan harga telur di titik keseimbangan agar tidak terlalu membebani konsumen dan tetap mampu memberikan keuntungan terhadap peternak.

“Telur ayam memang Rp31.000 sekarang, tapi waktu saya duduk (dilantik menjadi mendag) Rp32.000. Sekarang Rp31.000 sempat turun sampai Rp26.000 hingga Rp25.000. Memang harga sedang itu Rp27.000 hingga Rp28.000 itu untung peternaknya. Harga Rp31.000 kemahalan,” kata Zulhas.

Fluktuasi harga telur yang disampaikan Zulhas tidak tepat. Berdasarkan hasil penelusuran Tirto, harga telur ayam pada Juni atau saat Zulhas dilantik ada pada kisaran Rp27.000-29.000/kg. Kemudian di Agustus 2022 melonjak ke harga Rp33.000/kg, sejak Zulhas dilantik belum ada penurunan harga telur.

Telur menjadi bahan pangan alternatif saat daging ayam sampai daging sapi tidak terjangkau oleh masyarakat kecil. Berdasarkan data riset Tirto, permintaan telur ayam ras mengalami kenaikan sekitar 4,8 persen. Secara keseluruhan, permintaan atau kebutuhan telur ayam ras pada 2022 diperkirakan mencapai 5,3 juta ton. Rata-rata setiap bulannya, permintaan telur ayam antara 400 ribu ton - 485 ribu ton.

Permintaan terendah ada pada Februari, yaitu 400.069 ton, sementara permintaan terbesar pada April 2022 mencapai 485.656 ton. Permintaan yang tinggi pada April juga membuat pada bulan empat juga menjadi satu-satunya periode defisit, alias kebutuhan lebih besar dari produksi.

Imbas dari penurunan produksi tersebut, lonjakan harga telur yang saat ini terjadi merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah.

Berdasar rangkuman data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2011, harga telur paling tinggi Rp14.697,50/kg, pada 2012 harga telur paling tinggi Rp15.773,08/kg, pada 2013 harga telur paling tinggi Rp17.238,00/kg, pada 2014 harga telur paling tinggi Rp17.769,08/kg, pada 2015 harga telur paling tinggi Rp19.648,42, pada 2016 harga telur paling tinggi Rp20.472,67/kg.

Kemudian berdasarkan pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, yang mencatat harga telur ayam sejak Agustus 2017, harga telur nasional kala itu Rp22.850/kg. Pada 2018, harga telur paling tinggi sebesar Rp26.650/kg. Lalu, pada 2019, harga telur paling tinggi Rp26.850/kg. Selanjutnya pada 2020, harga telur paling tinggi sebesar Rp26.600/kg. Kemudian pada 2021, harga telur paling tinggi Rp27.100/kg.

Sementara sampai akhir Agustus 2022, harga telur terus naik. Sejauh ini harga tertinggi pada minggu kelima Agustus 2022 adalah Rp33.500 per kilogram.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Syailendra mengatakan, ada beberapa hal yang menyebabkan harga telur ayam naik. Pertama, jumlah peternak ayam petelur turun sekitar 30 persen.

Kedua, kata dia, harga pakan yang naik baik yang bersumber dari dalam negeri maupun impor. Catatan Kemendag, harga pakan sekarang Rp6.800 hingga Rp7.200 per kilogram.

Penyebab ketiga, kata dia, adanya program bantuan sosial (bansos) dari Kementerian Sosial berupa bagi-bagi kebutuhan bahan pokok termasuk telur ayam.

“Kebijakan pelonggaran PPKM terkait dengan perubahan status Covid-19 dari pandemi menjadi endemi telah meningkatkan permintaan terhadap telur ayam ras dengan sangat signifikan yaitu sebesar 60 persen untuk memenuhi konsumsi rumah tangga, hotel, restoran, dan kafe (horeka) serta industri makanan dan minuman,” kata dia dalam keterangan resmi, Rabu (24/8/2022).

Janji Zulhas Sulit Terealisasi

Presiden Peternak Layer Indonesia, Ki Musbar Mesdi mengatakan, permintaan telur beranjak naik sejak semakin longgarnya kegiatan sosial ekonomi masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Hal ini salah satunya berasal dari serapan bantuan sosial di masyarakat yang mendorong konsumsi telur.

“Hingga kemudian PPKM sudah level 1, permintaan naik tapi populasi ayam produksi (ayam petelur) belum pulih. Supply berkurang untuk kebutuhan masyarakat. Kemudian ada program bantuan sosial telur untuk masyarakat," kata Musbar.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa menjelaskan, harga telur tidak mungkin bisa turun dalam dua pekan ke depan seperti janji Zulhas. Sebab, permasalahan inti dari lonjakan harga telur ada di pakan ternak yang saat ini sudah mengalami lonjakan yang cukup tinggi.

“Telur itu kalau jalan 2 minggu itu belum [turun] ya, kondisinya kan telur ini anomali ya. Sekarang ini harga di Januari ini tinggi, Februari sudah drop,” kata Dwi Andreas saat dihubungi reporter Tirto pada 29 Agustus 2022.

Strategi peternak untuk menutup rugi melalui afkir dini ayam petelur pada Maret 2022 berimbas pada turunnya produksi telur hingga saat ini. Pemerintah dinilai perlu menyelesaikan masalah harga dan stok dari pakan ternak terlebih dahulu, baru membahas mengenai produksi dan permasalahan lainnya.

‘Ini kemungkinan besar belum kembali ke titik semula. Harga telur 2022 ini, saya pastikan paling tinggi dibandingkan 8 tahun sebelumnya," kata Dwi Andreas.

Dwi Andreas menambahkan, biaya produksi ayam petelur mahal karena harga pakan yang tinggi. Misalnya, jagung impor yang sebelumnya hanya Rp2.500 sudah mencapai Rp5.400 per kg.

Menurut dia, permasalahan lonjakan harga telur tidak hanya perlu diselesaikan dari sisi produksi, tapi juga dari pakan ternak yang saat ini membuat biaya operasional di sektor peternakan bengkak.

“Gandum kan alami lonjakan tinggi 60 persen kan, periode pemesanan di Februari sampai April itu harganya sudah tinggi banget ya. Setelah itu memang turun,” jelas dia.

Baca juga artikel terkait HARGA TELUR atau tulisan lainnya dari Selfie Miftahul Jannah

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Abdul Aziz