tirto.id - Ibadah puasa 24 Ramadan 1440H atau Rabu, 29 Mei 2019 di Kab. Tapin pada hari ini akan memasuki waktu imsak. Bagi umat muslim di Kab. Tapin atau mereka yang sedang singgah di kota ini, penting untuk mengetahui informasi jadwal imsak dan salat subuh, khususnya alamat masjid, jika lokasinya cukup jauh saat ingin beribadah.
Para musafir yang kebetulan sedang singgah di Kab. Tapin dapat melakukan ibadah salat subuh di Masjid Baitul Kiram. Masjid ini beralamat di Pariok RT. 03. Menurut Kemenag RI, Masjid Baitul Kiram termasuk jenis masjid Masjid Besar. Masjid Baitul Kiram dibangun pada 1981. Jumlah daya tampungnya > 200 jamaah.
Sholat subuh berjamaah juga dapat dilakukan di Masjid Muthiul Huda. Alamat masjid ini berada di Hatungun. Kemenag RI mengkategorikan masjid Masjid Muthiul Huda sebagai masjid Masjid Besar.
Masjid Muthiul Huda dibangun pada 1984. Daya tampung di dalamnya mencapai 50 - 100 jamaah.
Sementara untuk warga Kab. Tapin, umumnya menjalankan ibadah salat subuh di Masjid Humasa., Masjid ternama di Kab. Tapin ini beralamat di Jl.BregJen.H.Hasan Basry Kel.Rantau Kiwa Rantau. Dalam catatan sejarah, masjid ini dibangun pada 1982. Ruangannya memiliki daya tampung 50 - 100 jamaah.
Menyambut puasa 24 Ramadan 1440H atau Rabu, 29 Mei 2019, Tirto juga menyediakan jadwal imsak, subuh, zuhur, asar, berbuka, magrib, dan isya di Kab. Tapin sebagai berikut:
Selain jadwal imsak, umat muslim juga perlu memahami makna penting sholat tarawih. Menurut kitab Durratun Nasihin keutamaan sholat tarawih di bulan Ramadhan seperti diriwayatkan Ali bin Abi Thalib ra. Bahwasannya Rasulullah SAW pernah ditanya seseorang mengenai fadhilah (keutamaan) sholat tarawih di bulan Ramadhan, maka beliau berkata “(fadhilah tarawih) di malam hari, maka beliau berkata “(fadhilah tarawih) di malam Ramadan ke-24 adalah ada 24 doa yang mustajabah baginya..
Tausiah Harian
Salah satu simbol agama yang juga rawan disalah gunakan adalah puasa. Tentang hal ini, Imam al-Ghazali memberikan beberapa penjelasan yang menuntun kita untuk mendapatkan keutamaan puasa seutuhnya.
Hal yang paling awal ia sampaikan adalah peringatan agar kita tidak membatasi puasa hanya sebatas puasa wajib di bulan Ramadan, tapi juga melaksanakan puasa sunah. Jika kita melakukan demikian, kita akan mendapat kesempatan untuk memperindah kehidupan akhirat dengan berbagai hal sunah.
Menurut Imam al-Ghazali, jarak orang kebanyakan dengan mereka yang ahli berpuasa sunah diibaratkan seperti penduduk bumi dan bintang yang berpendar di langit.
Berpuasa tidaklah sebatas menjaga nafsu dan syahwat. Lebih dari itu, berpuasa adalah menjaga diri agar tidak melakukan berbagai hal yang dibenci Allah, baik yang bisa dilakukan oleh mata, lisan, telinga, atau bagian tubuh lain. Menjaga diri agar tidak berkata hal-hal yang sia-sia, juga tidak melakukan apa yang diharamkan Allah, termasuk dalam makna luas puasa.
Bagi ulama fikih, menjaga nafsu dan syahwat memang sudah cukup untuk memenuhi syarat sah puasa. Tapi ulama ahli hikmah memaknai sahnya puasa lebih dari itu. Puasa yang sah adalah puasa yang diterima. Puasa yang diterima adalah puasa yang maksudnya tercapai.
Apa sebenarnya maksud dari berpuasa? Yaitu berakhlak dengan akhlak terbaik, akhlak malaikat, akhlak para nabi, terutama Nabi Muhammad SAW.
Penulis: Muhammad Nur Hayyid
Sumber: NU Online http://www.nu.or.id/post/read/87713/hakikat-makna-puasa-menurut-imam-ghazali
Penulis: Maya Saputri
Editor: Agung DH
Masuk tirto.id























