tirto.id - Shell Indonesia mengungkapkan keterlambatan terbitnya izin impor merupakan salah satu penyebab kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang dialami SPBU Shell beberapa waktu lalu.
Presiden Direktur dan Country Chair Shell Indonesia, Ingrid Siburian, menyatakan pihaknya telah meminta permohonan neraca komoditas 2025 sejak September 2024. Diketahui, neraca komoditas merupakan sebagai dasar untuk mendapatkan persetujuan impor (PI).
“Karena yang dapat kami fokuskan adalah hal-hal yang memang dapat kami kendalikan. Yaitu pertama, kami telah menyampaikan permohonan neraca komoditas untuk tahun 2025. Bagian dasar untuk mendapatkan persetujuan support pada bulan September 2024,” ungkap Inggrid dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Gedung DPR RI, Rabu (26/2/2025).
Sedangkan, lanjut Inggrid, Shell baru menerima izin impor atau persetujuan impor (PI) pada 23 Januari 2025. Katanya, momen tersebut selaras dengan kondisi pasokan BBM Shell yang hampir kosong, hanya tersisa 25 persen.
“Neraca komoditas kami dapatkan 20 Januari 2025 dan persetujuan impor kami dapat 23 Januari. Tetapi ketika mendapatkan neraca komoditas, di SPBU sudah mengalami stock out 25 persen untuk beberapa varian. Kami berusaha memitigasi dengan cara membagi stok, agar di setiap daerah tetap ada, jangan sampai stock out,” ucapnya.
Inggrid juga menyatakan bahwa selain mengajukan permohonan neraca komoditas, Shell juga menyampaikan korespondensi kepada Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait kelangkaan stok yang terjadi di Shell.
“Setelah kami mengajukan permohonan neraca komoditas, kami menyampaikan korespondensi kepada Kementerian terkait yaitu ESDM, menyampaikan apa saja potensi yang terjadi seperti stock out jika terjadi keterlambatan dari sisi suplai,” jelasnya.
Lalu, setelah mendapatkan izin impor, dia mengakui memerlukan proses yang tak singkat untuk memenuhi stok ke semua SPBU.
“Namun yang perlu saya sampaikan adalah, membutuhkan waktu untuk mempersiapkan. Jadi dari mulai penunjukan kapal, persiapan produk, sampai juga kami harus bongkar di terminal, pengetesan, dan sampai distribusi dari terminal ke SPBU itu membutuhkan waktu sekitar 20 hari,” ungkapnya.
Sebelumnya, stok BBM di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Shell Indonesia terpantau kosong pada awal Februari 2025.
Suasana SPBU Shell di sejumlah lokasi saat itu terlihat sepi tanpa adanya antrean. Di lokasi juga terpasang palang bertuliskan 'Mohon Maaf BBM Tidak Tersedia Sementara' yang terpampang di jalur masuk SPBU tersebut.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Bayu Septianto