Misbar

It: Chapter 2 dan Asal Usul Pennywise yang Masih Misterius

Infografik Misbar IT Chapter Two
Film It Chapter Two. FOTO/imdb
Oleh: Indira Ardanareswari - 8 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
Pennywise kembali meneror bocah-bocah pecundang yang kini telah dewasa.
tirto.id - Tak lama setelah dirilis, It digadang menjadi salah satu film horor terbaik 2017. Si badut pembunuh Pennywise (Bill Skarsgård) langsung naik pamor menyaingi keangkeran Valak dari semesta The Conjuring. Orang-orang tak berhenti membicarakan betapa mengerikannya seringai badut berkepala besar itu.

Melanjutkan seri terdahulunya, It: Chapter 2 (selanjutnya Chapter 2) mengambil latar 27 tahun setelah Losers Club berhasil mengalahkan Pennywise di bawah gorong-gorong Kota Derry. Mike Hanlon (Isaiah Mustafa), satu-satunya anggota Losers Club yang tetap tinggal di Derry, mendapati Pennywise bangkit kembali dari tidur panjangnya. Sesuai janji yang mereka buat semasa kecil, Mike harus memanggil keenam kawannya untuk mencari cara melenyapkan Pennywise.

Saya sempat berharap seri kali ini akan berbaik hati membuka rahasia Pennywise. Kenyataannya tidak. Tak hanya itu, meski tetap menyeramkan, kemasan Chapter 2 agak kehilangan nyawa jika dibandingkan pendahulunya.

Bill Denbrough (James McAvoy), yang dulunya bertindak ibarat pemimpin klub, kurang menonjol pada seri kali ini. Kisah penebusan atas rasa bersalahnya terhadap kematian sang adik terasa tidak istimewa dan hanya dijejalkan di antara kisah enam temannya yang lain. Tapi, ini mungkin sebuah kemajuan.

Cara bertutur Chapter 2 bisa jadi berbeda untuk ukuran film horor kebanyakan, yang punya kebiasaan melakukan simplifikasi terhadap perkembangan karakter tokoh pendukung. Di sini, kegelisahan tiap anggota Losers Club selain Bill dituturkan satu per satu secara adil. Ibarat sedang bercermin, mereka harus mampu mengingat kenangan-kenangan masa kecil yang tercecer untuk dijadikan senjata mengalahkan Pennywise.


Meskipun dibungkus premis yang menarik, Chapter 2 masih memakai ramuan klise film-film horor kebanyakan. Sutradara Andy Muschietti nampaknya merasa tak perlu lagi membangun suasana mencekam yang intens. Kepala lonjong Pennywise yang kini sangat senang memamerkan gigi-giginya yang tajam malah lebih sering ditunjukan sekadar untuk memberikan efek kaget sesaat.

Saking banyaknya durasi yang didesain untuk membuat penonton melompat dari kursi, hampir tak ada ruang yang tersisa untuk menuturkan kisah Pennywise. Padahal, saat Beverly Marsh (Jessica Chastain) kembali lagi ke apartemen ayahnya setelah 27 tahun pergi dari rumah, penonton sempat dihadapkan pada sosok manusia Pennywise beserta putrinya.

Babak tersebut sengaja ditunjukkan untuk menyampaikan pesan bawah si badut sebenarnya pernah hidup sebagai manusia pada umumnya di masa lalu. Meskipun premis ini terdengar meyakinkan, namun hingga ujung cerita kita tidak akan pernah tahu asal usul sosok yang kemunculannya selalu identik dengan balon merah itu. Muschietti memutuskan sosok Pennywise harus tetap menjadi misteri.

Sebaliknya, ketimbang mencari sisi manusia Pennywise, Muschietti memilih untuk berasyik-masyuk membentuk sosoknya menjadi lebih brutal dan agresif. Tak lagi sekadar menyeringai dari balik kegelapan, si badut digambarkan bisa mencabik-cabik tubuh tiap korbannya. Akibatnya, seri kedua ini jadi nampak lebih berdarah-darah.

Keputusan untuk menunjukkan sisi monster Pennywise bisa dipahami. Si badut sebenarnya bukanlah wujud asli dari sosok yang selama ini meneror Kota Derry. Kasus anak-anak hilang yang santer dibicarakan seisi kota ternyata merupakan ulah entitas asing dari luar angkasa yang bisa berubah menjadi berbagai macam rupa. Badut penari Pennywise hanya salah satu wujud kesukaannya.

Novel yang Berakhir Buruk

Menonton Chapter 2 serasa naik roller coaster. Kadar horor dalam film berdurasi hampir tiga jam ini terasa naik turun. Terkadang muncul adegan jumpscare klise nan repetitif. Adegan Losers Club menyerbu masuk ke dalam rumah berhantu pun nyatanya hanya pengulangan dari seri film terdahulu.



Namun, ada bagian-bagian yang digarap dengan sangat baik sehingga menimbulkan kesan janggal dan mencekam. Misalnya ketika Richie Tozier (Bill Hader) berjumpa sosok Pennywise di alun-alun kota di siang bolong, seluruh penduduk mendadak mematung ke arah Richie seolah sedang dihipnotis.

Di luar klise dan kebaruan, Chapter 2 tidak takut menjajaki wilayah komedi. Khususnya ketika kelucuan anggota Losers Club kembali ditampilkan lewat ulah jahil Richie terhadap Eddie Kaspbrak (James Ransone) yang dulunya 'anak mami'.

Sejak kecil Richie selalu mengolok-olok Eddie akan menikahi ibunya sendiri ketika dewasa. Cemooh ini masih terus dilontarkan meskipun keduanya bukan anak-anak lagi. Kenyataannya Eddie memang menikahi perempuan yang mirip dengan ibunya. Baik ibu dan istrinya sama-sama berbadan gemuk dan sangat cerewet. Istri Eddie yang bernama Myra itu kembali dimainkan oleh aktris Molly Atkinson yang juga memerankan ibu Eddie.


Kemasan horor dalam Chapter 2 juga tidak melulu dirancang untuk memacu ketegangan. Tidak jarang adegan-adegan yang seharusnya menakutkan justru disisipi guyonan one liner antara dua sahabat yang lebih mirip duo komedian, Richie dan Eddie.

Stephen King juga muncul di film ini. Bukan kali pertama King muncul dalam film yang diadaptasi dari novelnya. Sebelumnya, ia muncul sebagai cameo dalam Pet Sematary (1989), The Stand (1994), The Shining (1997), dan lain-lain. Di Chapter 2, King memerankan pemilik sebuah toko barang bekas. Ketika Bill berkunjung ke toko, ia mendapati sang pemilik toko tengah membaca novel karangannya. Menurutnya, babak penutup pada novel Bill sangatlah jelek.

Jelas sudah bahwa sutradara Andy Muschietti sedang mengomentari apa yang pernah dialami King. Sepanjang kariernya, King sering diolok-olok pembaca lantaran beberapa novel terbaiknya selalu ditutup dengan cara yang buruk.

Termasuk novel It, yang akhir ceritanya sering dicecar pembaca.

Baca juga artikel terkait FILM IT atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Film)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Windu Jusuf
DarkLight