Menuju konten utama

Istri Soenarko Sebut Suaminya Tak Tahu Pengiriman Senjata dari Aceh

Ferry menyatakan sejak 10 tahun lalu Soenarko ingin senjata itu dikirimkan ke Jakarta, namun ia heran kenapa baru dikirim belakangan ini.

Istri Soenarko Sebut Suaminya Tak Tahu Pengiriman Senjata dari Aceh
Mayor Jenderal TNI Soenarko saat menjabat Komandan Jenderal Pasukan Khusus. FOTO/wikipedia/kopassus.mil.id

tirto.id - Rini Soenarko, istri mantan Danjen Kopassus Mayor Jenderal (Purn) Soenarko mengatakan, suaminya tidak pernah mengetahui perihal pengiriman senjata dari Aceh.

“Tidak pernah mengetahui soal itu. Senjata itu ada di Aceh, disimpan,” kata dia di Century Park Hotel, Jakarta, Jumat (31/5/2019).

Rini menegaskan bahwa suaminya tidak pernah memiliki bahkan tidak pernah melihat senjata yang dimaksudkan. “Saat barang itu dikirim, bapak tidak tahu. Bapak tidak pernah tahu ada perjalanan pengiriman senjata dari Aceh,” tutur dia.

Soenarko, lanjut dia, pernah memerintahkan pengawal bernama Heri. Jika ada pengiriman senjata, Heri harus melapor terlebih dahulu kepada Kepala Staf Kodam Iskandar Muda, Brigjen TNI Daniel Chardin.

“Saya sudah telepon Daniel, jadi senjata itu dititipkan anggota Iskandar Muda ke Jakarta dan disertakan surat pengantar,” kata Rini menirukan Soenarko. Tapi surat pengantar pengiriman senjata itu tidak pernah ditandatangani oleh Daniel.

Rini mengaku terakhir kali menjenguk suaminya di Rumah Tahanan Polisi Militer Jaya pada kemarin. Bahkan mendapatkan kemudahan untuk menengok suaminya. “Saat Ramadan ini saya bisa berbuka puasa bersama,” kata dia.

Sementara itu, Kuasa Hukum Soenarko, Ferry Firman Nurwahyu menyatakan yang melakukan pengiriman ialah Heriansyah. Ia merupakan seorang anggota Tenaga Bantuan Operasi (TBO) yang bermukim di Aceh dan juga sebagai anak buah Soenarko.

“Jika mau mengirim senjata, disertakan dokumen lengkap yang sah. Heriansyah harus berurusan dengan Daniel Chardin (untuk tanda tangan). Kalau mengirim tidak sesuai prosedur, maka bisa ditangkap,” ucap Ferry. Ia menyatakan kliennya terakhir berkomunikasi dengan Heriansyah sekitar satu bulan lalu.

Ferry menyatakan sejak 10 tahun lalu Soenarko ingin senjata itu dikirimkan ke Jakarta, namun ia heran kenapa baru dikirim belakangan ini. Alasan berhenti mengirim ialah kesibukan masing-masing anggota di Iskandar Muda.

“Karena orang-orang itu pada pindah kerja, mereka mengurus daerah operasi. Tidak mungkin hanya mengurusi senjata. Kalau Soenarko ingat, dia bilang (mengingatkan untuk pengiriman),” ujar dia.

Kalau surat pengiriman tidak bermasalah, Ferry meyakini tidak muncul masalah penangkapan kliennya. “Kalau bermasalah, artinya surat itu tidak benar. Kalau surat sesuai, tidak mungkin timbul masalah ini,” sambung dia.

Kapuspen TNI Mayjen Sisriadi membenarkan penangkapan Soenarko. Penangkapan diduga berkaitan dengan aksi penyelundupan senjata.

"Tadi malam, 20 Mei 2019, telah dilakukan penyidikan terhadap oknum yang diduga sebagai pelaku [...] oleh penyidik dari Mabes Polri dan POM TNI. Hal ini dilakukan karena salah satu oknum yang diduga pelaku berstatus sipil (Soenarko), sedangkan satu oknum lainnya berstatus militer (Praka BP). Penyidikan dilakukan di Markas Puspom TNI, Cilangkap," kata Sisriadi dalam keterangan tertulis, Selasa (21/5/2019).

Baca juga artikel terkait PENYELUNDUPAN SENJATA atau tulisan lainnya dari Adi Briantika

tirto.id - Hukum
Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Alexander Haryanto