Istri Lebih Tua dari Suami Seharusnya Tak Masalah, Bukan?

Oleh: Aditya Widya Putri - 4 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Usia Nick Jonas dan Priyanka Chopra yang terpaut jauh, memunculkan pertanyaan mendasar, apakah istri lebih tua dari suami, sebuah masalah?
tirto.id - Aku berlutut dan berkata, “Maukah kau menjadikanku pria paling bahagia di dunia dengan menikah denganku?”

Jawaban dari pertanyaan Nick Jonas kepada Priyanka Chopra itu diwujudkan dengan pesta pernikahan megah di Umaid Bhawan, Jodhpur, India Sabtu (2/12/2018) lalu. Dalam sebuah foto yang diunggah keduanya pada akun Instagram mereka, Nick dan Priyanka terlihat tertawa lepas saat momen pernikahan adat India itu digelar.

Laman Cosmopolitan menyebut Nick berhasil mendapatkan hati mantan Miss World tahun 2000 itu dalam waktu dua bulan saja. Pada 1 Mei 2018, Nick dan Priyanka pertama kali terlihat bersama di depan publik ketika menghadiri Met Gala. Dua bulan setelahnya, Nick yang saat ini masih berumur 26 tahun memilih lanjut ke tahap serius dengan melingkarkan cincin pertunangan ke jari manis Priyanka. Meski terpaut usia 10 tahun, Nick meneguhkan niatnya meminang Priyanka.

Selama ini, lazimnya, pernikahan terpaut umur menyuguhkan laki-laki sebagai pihak yang memiliki usia lebih tua. Sebaliknya, meski telah jamak, pernikahan dengan perempuan dengan usia lebih tua belum terlalu populer, bahkan ada yang menganggapnya tak pantas. Namun, benarkah tak ada pembenar bagi pernikahan antara seorang pria dengan perempuan yang lebih tua?

Marty Nemko, seorang profesor di bidang psikologi pendidikan dari Universitas California, Berkeley menyimpulkan beberapa alasan bagus untuk memilih perempuan dengan usia lebih tua. Dalam laman Psychology Today, ia memulai prolog dengan kisah pernikahannya yang telah berumur 40 tahun bersama sang istri yang terpaut usia lima tahun lebih tua darinya.


Nemko mengutip buku Alfred Charles Kinsey berjudul Sexual Behavior In The Human Female. Dalam buku tersebut, Kinsey menyatakan hormon seksual pria mencapai puncak pada usia 18 tahun. Sementara kondisi serupa baru dirasakan perempuan pada awal usia 30 tahunan. Analisis itu menggunakan ukuran umum kompatibilitas seksual, namun faktor lain seperti jumlah hormon tetap mempengaruhi kondisi seksual tiap individu.

“Dengan menikahi perempuan yang lebih tua artinya seorang pria telah meningkatkan peluang kompatibilitas seksualnya,” Nemko menyimpulkan.

Alasan kedua mencakup kedewasaan. Nemko berpendapat, semakin bertambah umur seseorang, semakin kaya pula pengalaman hidup dan kematangan sikapnya. Menikahi perempuan yang lebih tua kemungkinan berarti menikahi individu yang lebih matang dan dewasa. Peluang terhadap perselingkuhan dan perselisihan soal hal-hal sepele semakin kecil, dibanding menikahi perempuan dengan umur yang setara atau lebih muda.

Ukuran kedewasaan yang sama juga bisa diterapkan dalam pola pengasuhan anak. Butuh ketenangan dan kedewasaan untuk kegiatan yang menguras kesabaran dan energi itu. Perempuan yang berusia 30 tahunan lebih mungkin memiliki pengendalian diri secara konsisten ketimbang mereka yang berusia 20 tahunan.

Alasan ketiga adalah kematangan finansial. Perempuan-perempuan dengan usia matang telah lebih dulu terjun dalam kariernya. Priyanka Chopra, misalnya, telah mencapai tangga kemenangan Miss World pada 2000, ketika Nick masih berusia delapan tahun dan baru saja menapaki karier sebagai penyanyi.

“Mereka berpeluang menyumbang lebih banyak pendapatan dalam rumah tangga, menawarkan pekerjaan, dan saran bagus bagi pasangannya,” kata Nemko.


Perempuan Lebih Panjang Umur

Selain alasan-alasan dalam hal psikis, biologis, dan ekonomik yang telah dipaparkan di atas, memilih perempuan yang lebih tua ternyata punya kecocokan ketika ditelisik dari sisi kompatibilitas kesehatan. Laman Men's Health Network menyebut kesenjangan umur antara pria dengan perempuan mencapai 5,3 tahun. Pria memiliki peluang meninggal lebih cepat dibanding perempuan.

Prediksi pada 2015 menyebut rerata usia kematian pria berkisar pada umur 76,3 tahun, sementara perempuan berada di usia 81,2 tahun. Kaum pria juga memiliki banyak risiko penyakit ketimbang perempuan. Pada pria, risiko mendapatkan penyakit jantung, neoplasma ganas, dan nefritis 1,5 kali lebih besar, penyakit pernapasan kronis 1,4 kali lebih besar, influenza dan pneumonia 1,4 kali lebih besar, diabetes melitus dan septicimia 1,2 kali lebih besar, serebrovaskular 1,02 kali lebih besar dibanding perempuan.

“Perempuan hidup sekitar 5 persen lebih lama ketimbang laki-laki,” tulis laman BBC.

Fakta tersebut didapat bukan hanya pada manusia, tapi mamalia lain seperti simpanse, gorila, orangutan, dan owa betina. Alasannya kemungkinan besar adalah evolusi, selain juga faktor sosial dan gaya hidup yang punya sedikit pengaruh.

Pertama, perempuan memiliki dua kromosom X sementara pria terdiri dari kromosom X dan Y. Dengan kromosom ganda, perempuan menyimpan salinan dari setiap gen, dan tidak pada pria.

Ketika gen pada pria rusak, mereka tak punya cadangan gen pengganti sehingga pria cenderung memiliki risiko penyakit lebih besar. Kemungkinan kedua berkaitan dengan hipotesis 'jogging female heart' yakni kondisi peningkatan detak jantung selama paruh kedua siklus menstruasi. Kondisi ini memiliki manfaat setara dengan olahraga sedang yang menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

Alasan ketiga menyoal tinggi tubuh, individu yang punya ukuran tubuh lebih tinggi memiliki lebih banyak sel. Pria jamaknya punya ukuran tubuh lebih tinggi dari perempuan. Dengan tubuh tingginya, mereka lebih punya peluang mengembangkan mutasi berbahaya dan membakar lebih banyak energi yang membikin jaringan susut.


Infografik menikahi perempuan lebih tua


Namun, alasan yang paling kuat kemungkinan terkait hormon testosteron pada pria dan estrogen pada perempuan. Catatan kehidupan para kasim di Kekaisaran Dinasti Chosun di Korea dari abad ke-19 menunjukkan demikian. Sebanyak 81 kasim yang testikelnya dihilangkan sebelum pubertas bertahan hidup sampai 70 tahun.

Mereka juga punya peluang 130 kali lebih besar untuk hidup hingga umur 100 tahun. Contoh serupa juga terjadi pada pasien penyakit mental di Amerika di awal abad ke-20, mereka dikebiri sebelum masuk umur 15 tahun dengan dalih 'pengobatan'.

“Testosteron memproduksi cairan sperma dan meningkatkan kekuatan ketika muda. Tetapi ia juga membuka peluang kanker prostat, mengubah fungsi kardiovaskular, hipertensi, dan aterosklerosis,” jelas David Gems ahli genetika dan biogerontologi dari University College London kepada BBC.

Sementara hormon estrogen pada perempuan bersifat antioksidan. Ia melawan zat kimia lain yang beracun dan menyebabkan stres. Percobaan pada hewan pengerat yang indung telurnya dikeluarkan menyimpulkan betina yang kekurangan estrogen cenderung punya umur hidup yang lebih pendek, kebalikan dari nasib para kasim.

Jika seorang pria memilih perempuan yang lebih tua darinya sebagai pasangan, mereka lebih berpeluang menjadi tua dan memudar bersama. Namun, tentu saja di atas itu semua ada soal cinta, kecocokan, serta komitmen.

Baca juga artikel terkait PERNIKAHAN atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani