Punya Kekasih Jauh Lebih Tua atau Lebih Muda Itu Biasa Saja

Oleh: Aulia Adam - 31 Maret 2017
Dibaca Normal 4 menit
Orang-orang yang punya kekasih dengan jarak usia yang jauh kerap dibicarakan orang karena dianggap tak umum.
tirto.id - “Siapa namamu?” tanya Louis Walsh, salah satu juri ajang pencarian bakat X Factor 2008, pada seorang peserta yang baru masuk ruang audisi.

“Liam,” sahutnya.

“Umur berapa?”

“Empat belas,” jawab Liam lagi.

Setelah satu-dua potong percakapan lainnya, akhirnya Liam bernyanyi. Lagu "Fly Me To The Moon" milik Frank Sinatra. Di tengah lagu, ia juga berkedip, menggoda satu-satunya juri perempuan musim itu, Cheryl. Meski lolos audisi dengan mengantongi tiga ya, Liam sempat dikritik belum matang oleh juri lainnya, Simon Cowell. Tapi Cheryl sempat memuji tampang Liam yang menurutnya kenes. Ia juga bilang suka kedipan mata Liam, dan jadi juri pertama yang memberikan ya.

Sayang, karier Liam berhenti sebelum masuk babak siaran langsung pada musim itu.

Dua tahun kemudian, 2010 silam, ia kembali. Kali ini bisa lolos sampai tiga besar, bersama boyband-nya One Direction. Musim itu Cheryl juga menjadi juri tetap, yang hampir setiap minggu selalu memuji penampilan boyband Liam.

Selepas musim itu, hidup Liam dan kawan-kawannya berubah drastis. Mereka jadi boyband nomor satu di Inggris yang juga jadi megabintang di seluruh dunia. Bahkan punya sejumlah prestasi yang dulunya tak dimiliki The Beatles.

Siapa sangka kalau kisah di atas, akan jadi kenangan indah bagi pasangan Cheryl dan Liam—kisah cinta juri dan konstestannya.

Maret ini, ke duanya membawa kabar mengejutkan-tak mengejutkan. Cheryl melahirkan anak Liam tanpa ada konfirmasi apa pun sebelumnya tentang hubungan mereka. Bagi penggemar berat Liam, kabar ini tentu saja sudah tercium sejak sebelumnya. Namun, kelahiran anak pertama bagi ke dua pasangan berjarak umur jauh itu bisa jadi juga mengejutkan mereka.

Sebagian tak menyangka kalau Liam yang masih berusia 23 tahun tak keberatan jadi ayah di usia muda. Sebagian lagi terkejut mengapa Cheryl, 33 tahun, akhirnya memutuskan untuk punya anak dengan pria yang jauh lebih muda. Cheryl sendiri sudah dua kali menikah dan bercerai. Dua kali pertemuan pertamanya dengan Liam (2008 dan 2010) Cheryl masih bersatus istri: mantan suami pertamanya adalah pesepakbola Ashley Cole, sementara pernikahan keduanya dengan pengusaha Jean-Bernard Fernandez-Versini.

Alasan Liam dan Cheryl merahasiakan hubungan mereka bisa macam-macam. Sebagai selebritas, wajar jika mereka ingin punya sedikit privasi—seperti selebritas lainnya yang juga merahasiakan macam-macam hal dari paparazzi. Tapi tak sedikit yang menebak kalau pasangan ini enggan hubungan cinta berjarak umur mereka akan digunjingkan seperti pesohor lain yang sudah-sudah.

Misalnya George Clooney yang menikahi Amal Alamuddin yang lebih muda 17 tahun; Marylin Monroe dan Arthur Miller atau Brad Pitt dan Angelina Jolie yang masing-masing beda 11 tahun; Tina Turner dan Edwin Bach yang beda 16 tahun; atau Hugh Heffner dan Kendra Wilkinson yang umurnya berjarak 60 tahun.

Dalam dunia sains, hubungan berjarak umur yang jauh ini disebut chronophilia atau kronofilia. Dalam sejarah, ia sudah dikenal di berbagai zaman. Jenis kronofilia yang paling sering terjadi adalah hubungan pria lebih tua dengan wanita lebih muda. Dalam budaya patriarki yang berumur panjang, jenis hubungan ini terekam lebih banyak, sehingga jadi mayoritas yang tak lagi dianggap aneh.

Pada zaman Yunani kuno, misalnya, pria-pria umumnya baru menikah di usia 30 tahun ke atas, dengan memilih wanita setengah remaja. Sultan-sultan di Timur Tengah, sejak zaman nabi hingga sekarang juga direkam sejarah punya selir-selir remaja putri di Harem-nya. Pada zaman itu, perempuan dipercayai sebagai manusia kelas dua yang tugasnya mencetak keturunan, sehingga tak boleh diberi keleluasaan seluas hak-hak pria.

Namun, bukan berarti jenis kronofilia lainnya tak terdeteksi sejarah. Kasus perempuan lebih tua yang menikahi laki-laki lebih muda juga direkam beberapa zaman. Satu yang paling terkenal adalah kisah Siti Khadijah yang dinikahi Nabi Muhammad, pemuda yang berusia 15 tahun lebih muda darinya. Selain itu juga terekam kisah kronofilia dari era Yunani Kuno, Jepang Pra-Modern, Renaissance Italia, Tanah Islam, dan Melanesia.

Cerita-cerita itu tentu tak sebanyak kisah lelaki lebih tua yang beristrikan wanita muda, sehingga pasangan-pasangan tersebut jadi minoritas. Kisah mereka jadi unik dan menarik perhatian. Bukankah menggunjingkan yang unik itu selalu menarik?

Infografik Jarak Usia Dalam cinta

Macam-macam Kronofilia dan Stigmanya

Kronofilia sebetulnya adalah bagian dari parafilia, istilah dalam psikologi yang berarti ketertarikan seksual seseorang terhadap objek yang tidak wajar atau aktivitas seksual yang tidak umum. Dianggap tak wajar karena mayoritas orang tidak berperilaku demikian.

Contohnya seperti eksibisionisme (kecenderungan senang menunjukkan alat kelamin di depan umum), nekrofilia (ketertarikan seksual pada mayat), fetisisme (bangkitnya hasrat seksual setelah memegang atau melihat suatu benda khusus, misalnya kaki, celana dalam, pusar, dan lainnya), atau sadomasokisme (kenikmatan seksual yang muncul dari perasaan menyebabkan atau menderita rasa sakit, seperti yang dipertontonkan film Fifty Shades of Grey). Namun, tulisan ini tak akan fokus pada jenis-jenis parafilia lain selain kronofilia.

Kronofilia sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan semua prefensi hubungan cinta atau hasrat seksual yang berjarak usia. Artinya individu yang mengidapnya baru akan mendapatkan kepuasan seksual atau tertarik bercinta dengan pasangan yang berbeda umur.

Dalam perkembangannya di dunia medis dan psikologi, kronofilia menjelma jadi bermacam-macam. Satu yang paling terkenal adalah ephebophilia. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan ketertarikan orang dewasa pada remaja. Oleh media, istilah ini sering dibaurkan dengan pedofilia, yang juga dipakai untuk menggamarkan ketertarikan orang dewasa pada anak-anak atau remaja.

Istilah ephebophilia pertama kali digunakan sejak akhir abad 19 dan awal abad 20, yang kemudian diperbarui oleh psikolog Ray Blanchard. Namun seiring perkembangan zaman, istilah ephebophilia dipersempit untuk menggambarkan orang dewasa yang tertarik pada remaja usia 15 hingga 19 tahun. Sementara, pedofilia menggambarkan orang dewasa yang tertarik pada pra-remaja.

Istilah lain yang juga tak populer dan diasosiasikan sama dengan pedofilia adalah infantofilia. Seperti namanya—infant yang berarti bayi—istilah ini digunakan untuk orang-orang dewasa yang punya ketertarikan pada anak kecil, biasanya berumur 0 hingga 5 tahun.

Karena ketertarikan ini dialami minoritas, tentu eksistensinya tidak langsung diterima baik. Bahkan hingga detik ini. Preferensi menyukai umur yang jauh di bawahnya membuat orang-orang berlabel ini distigma menjijikkan. Sebelum 2013, pedofilia secara keseluruhan masih dicantumkan sebagai gangguan jiwa dalam buku DSM V, yang menjadi pegangan psikolog mendiagnosis kondisi mental seseorang.

Namun kini, orang-orang yang didiagnosis pedofilia tidak dianggap berbahaya selama masih bisa mengontrol dirinya dan tidak melampiaskan hasratnya pada anak-anak.

Di abad ini, ada argumen niscaya tentang terlarangnya hubungan orang dewasa dan anak-anak. Anak-anak dianggap sebagai makhluk yang belum memiliki kesadaran sendiri alias consent, sehingga dianggap belum mampu mengambil keputusan baik untuk dirinya sendiri.

Dalam penelitiannya yang berjudul What Is Really Wrong With Pedophilia”, Robert Ehman menyatakan bahwa anak kecil diasumsikan belum dapat membuat kesepakatan dalam interaksi seksual lantaran kurangnya pengetahuan tentang aspek fisik, psikologis, dan sosial dari hubungan badan. Ia turut memasukkan sejumlah pendapat ahli yang menguatkan argumen tersebut, termasuk milik Igor Primoratz, salah satu peneliti yang membagi-bagi kelompok pedofilia berdasarkan umur ketertarikannya.

Lalu, akibat adanya istilah consent ini, maka undang-undang perlindungan anak biasanya dihadirkan dalam negara. Termasuk Indonesia. Hukum inilah yang nantinya mendefinisikan umur anak-anak, remaja, dan dewasa yang diatur dalam konstitusi.

Ini sebabnya, sejumlah aktivis anak di seluruh dunia tengah memperjuangkan pembedaan istilah pedofilia dengan pelaku pelecehan seksual pada anak. Sebab, seorang pedofilia belum tentu melakukan tindak kejahatan dan salah penyebutan ini bisa melindungi seorang pelaku pelecehan seksual dari tuntutan hukum.

Ketertarikan seksual berjarak umur ini tak melulu menimpa orang dewasa. Remaja atau orang dewasa tanggung juga bisa jadi punya ketertarikan pada orang yang lebih tua. Terminologi umum untuk menggambarkan ketertarikan remaja atau anak-anak pada orang yang lebih tua disebut teleiofilia. Atau gerontofilia, untuk mengerucutkannya jadi ketertarikan “seksual” pada orang yang lebih tua.

Istilah ini sering disalah artikan sebagai oedipus complex, istilah psikoanalisis yang pertama kali dikenalkan oleh Sigmund Freud. Perbedaannya, oedipus complex terjadi pada anak-anak yang punya hasrat seksual pada orangtua yang berlainan jenis dengannya. Misalnya anak laki-laki yang senang pada ibunya, dan menganggap sang ayah saingan. Dan sebaliknya terjadi pada anak perempuan. Sementara, teleiofilia dan gerontofilia terjadi pada remaja ke atas.

Sama seperti pedofilia, legal atau tidaknya hubungan seorang remaja dengan orang dewasa yang ditaksirnya bergantung pada hukum yang berlaku di tanah ia berpijak. Sejumlah negara membatasi umur anak-anak hingga 17 atau 18 tahun. Negara lain menganggap seseorang baru dewasa ketika berumur 21 tahun. Itu sebabnya, hubungan Liam-Cheryl, Pitt-Jolie, atau Tina-Erwin tak terganjal masalah hukum apa pun, selain hukum tak tertulis antara mayoritas dan minoritas.

Bagi yang tak pernah menjalani hubungan cinta dengan orang berusia jauh di atas atau di bawah umurnya, kisah cinta pasangan-pasangan di atas bisa jadi sangat ganjil. Keganjilan itu yang akhirnya menciptakan stigma-stigma pada pasangan yang umurnya beda jauh. Misalnya istilah om atau tante girang yang disematkan pada orang dewasa yang punya pasangan jauh lebih muda. Atau istilah kucing atau ayam yang lengket pada pada pria atau perempuan muda yang berhubungan dengan wanita atau pria lebih tua.

Stigma-stigma ini diciptakan karena banyak yang meyakini bahwa hubungan orang tua dan anak muda pasti punya niat tertentu: seks bagi mereka yang sudah tua, dan materi bagi mereka yang masih muda. Stigma-stigma itu nyata terpampang dalam film-film ataupun acara-acara televisi yang kita saksikan.

Padahal, bagi mereka yang menjalani hubungan tua-muda yang dilegalkan dan berdasarkan persetujuan, semua itu tak ada beda dengan kisah pasangan lain pada umumnya. Bukankah jatuh cinta kerap terjadi tanpa mengenal batas-batas geografis, budaya, dan juga usia?

Baca juga artikel terkait CINTA atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Maulida Sri Handayani