Insiden 28 Februari di Taiwan dalam Empat Dekade Kebisuan

Insiden 28 Februari 1947. Masyarakat berkumpul di depan Taipei Station untuk memprotes pemukulan serta penembakan aparat sehari sebelumnya. FOTO/228.org.tw
Oleh: Bulky Rangga Permana - 28 Februari 2018
Dibaca Normal 2 menit
Kaum Nasionalis Kuomintang pimpinan Chiang Kai-shek membantai puluhan ribu penduduk Taiwan yang dimulai pada 28 Februari 1947. Sampai hari ini, orang-orang Taiwan tetap membisu atas peristiwa tersebut.
Sore 27 Februari 1947, Lin Jiangmai, seorang wanita penjual rokok dipopor kepalanya di Taipei. Sebabnya, ia melawan tatkala barang dagangannya disita pegawai Biro Monopoli Tembakau dan Alkohol yang mereka anggap hasil selundupan.

Sebagaimana ditulis The Greater China Journal, beberapa jam sebelumnya, sekitar pukul 11.00, Biro Monopoli memang mendengar kabar tentang kapal yang mengangkut berpeti-peti rokok dan korek api ilegal mendarat di pelabuhan Danshui, sebelah utara Taipei. Sebuah tim investigator lantas dikirim, berharap menangkap basah transaksi itu. Tapi, mereka tak menemukan apapun kecuali Lin Jiangmai yang tengah berjualan rokok di luar kedai teh.


Segera setelah pemukulan itu, sejumlah warga Taiwan yang marah mulai berkerumun dan meminta barang dagangan janda beranak dua itu dikembalikan. Salah satu petugas lalu panik dan menembak ke arah kerumunan. Chen Wenxi, yang tengah berdiri di sekitar kejadian, tertembak dan tewas seketika.

Chen Wenxi memang satu-satunya korban di hari itu, tapi korban-korban lain segera berjatuhan setelahnya. Lin Jiangmai pun mungkin tak akan mengira bahwa apa yang terjadi padanya hari itu akan memantik serangkaian peristiwa kekerasan dan represi yang bertahan sampai empat dekade di negerinya. Peristiwa itu dimulai keesokan harinya, 28 Februari 1947, tepat hari ini 71 tahun lalu.


Insiden yang Menghilangkan Ribuan Nyawa

Peristiwa yang kemudian dikenal dengan nama “Insiden 28 Februari” atau “Pembunuhan Massal 28 Februari” atau “Insiden 228” ini tak bisa dilepaskan dari konteks politik Taiwan sebelumnya. Pada 1895, Dinasti Qing menyerahkan Taiwan kepada Jepang sebagai bagian dari Perjanjian Shimonoseki yang mengakhiri perang Cina-Jepang Pertama. Selama lima puluh tahun berikutnya, Taiwan menjadi daerah koloni Jepang.

Tatkala Jepang menyerah di akhir Perang Dunia II, Sekutu mengembalikan Taiwan kepada Cina yang saat itu dipimpin kaum Nasionalis (Kuomintang) yang telah menggulingkan dinasti Qing pada 1911. Bulan Oktober 1945, Taiwan menjadi bagian dari Republik Cina yang dipimpin Chiang Kai-shek dan menunjuk Chen Yi sebagai gubernur.

Meski pada awalnya Taiwan merayakan berakhirnya pendudukan Jepang, euforia itu sebentar saja. Kegembiraan menyambut kedatangan kaum Nasionalis dengan cepat berubah menjadi kekecewaan.

“Antusiasme penduduk Formosa [Taiwan] terhadap 'pembebasan' hanya bertahan enam minggu. Poster-poster mulai bermunculan di mana-mana mengecam pasukan Nasionalis dan mempertunjukkan Chen Yi sebagai babi gendut [...] Coretan ‘Anjing pergi, babi datang!’ menempel di dinding-dinding seluruh Taipei dan terdengar di setiap percakapan,” tulis George Kerr, seorang diplomat AS untuk Taiwan yang menyaksikan langsung Insiden 28 Februari, dalam Formosa Betrayed: The Definitive First-Hand Account of Modern Taiwan's Founding Tragedy (1965: 98).

Pada 28 Februari, kabar tentang pemukulan dan penembakan sehari sebelumnya dengan cepat menyebar ke seluruh Taiwan. Di gedung Biro Monopoli, kerumunan berjumlah 2000 orang menuntut si penembak dieksekusi dan direktur biro mengundurkan diri.

Sementara ditempat terpisah, dua petugas Biro Monopoli yang tengah memeriksa seorang pedagang dipukuli sampai mati ketika terpergok kerumunan lain.


Massa kemudian bergerak ke kantor gubernur untuk menyampaikan petisi berisi tuntutan mereformasi Biro Monopoli. Tanpa aba-aba, berondongan peluru dari atas gerbang kantor membubarkan kerumunan dan menewaskan beberapa orang (hlm. 256-258).

Penembakan ini memicu kemarahan warga Taiwan kepada semua orang Cina daratan. Banyak yang dipukuli, mobil-mobil dibakar, beberapa kantor dan kediaman pejabat rendahan dirusak dan isinya diangkut keluar lalu dibakar.

Melihat keadaan yang tak terkendali, kalangan atas Taiwan, termasuk kaum pengusaha dan tokoh masyarakat lokal, berusaha melakukan perundingan dengan gubernur untuk memulihkan situasi. Namun, sebagian besar dari mereka kemudian ditangkap dan dieksekusi.

Pada 7 Maret, pasukan yang besar datang dari Cina daratan ke Taiwan. Menurut laporan New York Times (29/3/1947), segera setelah mendarat, mereka langsung memberondong siapapun yang ada di hadapan mereka. Beberapa kasus kekerasan seperti mutilasi, pemerkosaan, dan penjarahan rumah dan gedung-gedung juga terjadi.

Ketika keadaan sudah mulai tenang di pengujung Maret, puluhan ribu penduduk Taiwan diperkirakan terbunuh atau menghilang.




Suara yang Terbungkam

Pada akhir 1949, pasukan Nasionalis terusir dari Cina daratan oleh kaum komunis pimpinan Mao Zedong dan melarikan diri ke Taiwan. Pada awal Mei, untuk memastikan masyarakat Taiwan tunduk secara total, Chiang Kai-shek memberlakukan darurat militer atau yang dikenal dengan Teror Putih.

Pemerintahan Nasionalis, atas nama keamanan dan stabilitas, membatasi hak-hak sipil warga Taiwan secara ketat. Suasana ketakutan sengaja diciptakan polisi rahasia Komando Garnisun. Mereka menahan dan menghukum orang-orang yang dianggap mengancam keamanan dan ketertiban. Sasaran utama mereka adalah kaum terpelajar seperti dokter, profesor, jurnalis, pengacara, dan lain-lain.

Selama periode Teror Putih, kasus-kasus yang diperkarakan pengadilan militer lebih dari 10.000. Para intelektual, seperti diungkap Sylvia Li-chun Lin dalam Representing Atrocity in Taiwan: the 2/28 Incident and White Terror in Fiction and Film (2007), seringkali dituduh subversif hanya karena terlibat dalam kelompok membaca dan diskusi.


Jaringan mata-mata Komando Garnisun yang tersebar di mana-mana, bahkan sampai ke luar negeri, membuat masyarakat Taiwan tak berani membicarakan pengalaman mereka mengenai Insiden 28 Februari dan selama Teror Putih. Seperti yang ditulis Amy B. Wang dalam Washington Post (28/2/2017):

“Selama hampir empat dekade, Chiang Kai-shek memerintah lewat darurat militer di Taiwan. Karena hal itu, setiap penyebutan tentang pembunuhan atau lenyapnya orang-orang menjadi terlarang. Dari Taipei di utara sampai ke Kaohsiung di ujung selatan pulau, anggota keluarga yang lenyap tak pernah diucapkan [...] bahkan sewaktu hukum darurat militer dicabut pada 1987, budaya diam tetap ada.”

Mungkin bukan kebetulan jika sutradara Hou Hsiao-hsien dalam A City of Sadness (1989)—film yang berkisah tentang keluarga Taiwan dalam pusaran Insiden 28 Februari dan Teror Putih—menciptakan karakter utama Wen-ching (Tony Leung) yang tuli serta bisu. Kebisuan Wen-ching adalah metafora diamnya rakyat Taiwan selama empat dekade.

Baca juga artikel terkait PEMBANTAIAN MASSAL atau tulisan menarik lainnya Bulky Rangga Permana
(tirto.id - Politik)

Reporter: Bulky Rangga Permana
Penulis: Bulky Rangga Permana
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight