24 Maret 1792

Inilah Politikus Ulung Abad ke-18: Hamengkubuwana I

Reporter: Iswara N Raditya - 24 Mar 2018 00:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Seni politik.
Sang pangeran menilik
kuasa taktik.
tirto.id - Ia bernama Raden Mas Sulajana, kemudian menyandang gelar Pangeran Mangkubumi setelah dewasa. Meskipun anak penguasa Kasunanan Kartasura, Amangkurat IV (1719-1726), namun Mangkubumi bukanlah putra mahkota karena ibunya hanya seorang selir. Yang berhak meneruskan takhta adalah saudara tirinya yang putra permaisuri, Raden Mas Prabasuyasa.

Itulah yang memang terjadi setelah Amangkurat IV wafat mendadak pada Maret 1726. Prabasuyasa yang kala itu masih berusia 15 pun dinobatkan menjadi raja baru, bergelar Pakubuwana (PB) II. Di era PB II inilah Kartasura runtuh dan berganti menjadi Kasunanan Surakarta sebagai penerus Dinasti Mataram.

Semula, Mangkubumi berdiri di belakang kakak tirinya yang bertakhta sebagai raja itu, membantu PB II menghadapi sejumlah aksi pemberontakan, termasuk perlawanan yang dimotori paman mereka, Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa, kakak Amangkurat IV.


Mangkubumi nantinya justru menjelma menjadi sosok penting. Baginya, tidak ada kawan maupun lawan yang abadi. Itulah cara Mangkubumi menjadi raja, pendiri Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwana (HB) I, kerajaan Jawa keturunan Mataram pecahan Surakarta yang masih tegak berdiri hingga saat ini.

Politik Kekuasaan Mangkubumi

Setelah PB II naik singgasana menggantikan Amangkurat IV, Raden Mas Said melawan. Said merasa berhak atas takhta karena yang seharusnya menjadi raja adalah ayahnya, Arya Mangkunegara, bukan Amangkurat IV. Namun, Mangkunegara dibuang ke Srilanka karena selalu memusuhi VOC atau Belanda.

VOC lalu mengangkat Amangkurat IV, saudara Arya Mangkunegara, sebagai Raja Kartasura, yang kemudian dilanjutkan oleh PB II. Raden Mas Said pun mengangkat senjata, menuntut takhta yang semestinya adalah hak ayahnya. Ia menganggap PB II tidak berhak menjadi raja.

Situasi kian sulit setelah Said bergabung dengan orang-orang Tionghoa yang merasa ditindas PB II maupun VOC. Pada 30 Juni 1742, istana Kartasura diduduki pasukan gabungan pemberontak itu. Peristiwa inilah yang disebut Geger Pacinan. Ngadijo dalam buku Panembahan Senopati (1986) menuliskan, PB II terpaksa melarikan diri ke Ponorogo, Jawa Timur (hlm. 87).


Pangeran Mangkubumi mulai memainkan perannya. Ia yang semula membantu PB II menghadapi barisan pemberontak melihat ada celah karena kraton mengalami kekosongan kepemimpinan. Seperti diungkap Zainuddin Fananie dalam Restrukturisasi Budaya Jawa (2000), Mangkubumi lalu ke Semarang, pusat kekuasaan VOC di Jawa Tengah, mendesak agar dirinya dirajakan. Namun, VOC menolak permintaan itu (hlm. 35).

Pangeran Mangkubumi naik pitam atas penolakan VOC. Namun, ia tidak kembali kepada PB II. Mangkubumi kecewa karena PB II mengingkari janji atas hadiah yang seharusnya ia terima setelah membantu menghadapi Raden Mas Said.

Lantaran itulah, Mangkubumi memutuskan beralih kubu, yakni bergabung dengan Raden Mas Said untuk bersama-sama melawan PB II dan VOC.

Sementara itu, VOC berhasil membasmi pemberontakan Tionghoa. Menurut Daradjadi dalam Perang Sepanjang 1740-1743: Tionghoa-Jawa Lawan VOC (2008), PB II yang pulang pada November 1743 dan mendapati istananya di Kartasura telah hancur, lalu membangun kraton baru di Surakarta. Inilah awal mula berdirinya Kasunanan Surakarta Hadiningrat (hlm. 247).


Said dan Mangkubumi menyingkir ke sebelah barat Surakarta, di pedalaman yang kini dikenal dengan nama Yogyakarta dan bermarkas di sana. Untuk mempererat hubungan dua pangeran Mataram ini, Said dinikahkan dengan putri Mangkubumi, Raden Ayu Inten.

Di Surakarta, PB II jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia pada 20 Desember 1749. Sebelum wafat, PB II terpaksa menyerahkan takhta Surakarta kepada VOC.

Beberapa hari sebelum PB II tiada, yakni tanggal 12 Desember 1749, Mangkubumi mengklaim dirinya sebagai raja dengan gelar Pakubuwana III. Penobatan ini didukung penuh oleh Raden Mas Said, yang diangkat sebagai mahapatih oleh Mangkubumi.

VOC tidak mengakui klaim Mangkubumi, dan justru mengangkat putra PB II yang masih bocah, Raden Mas Soerjadi, sebagai penerus takhta Mataram di Surakarta, juga dengan gelar Pakubuwana III. Jadi, saat itu sempat ada dua PB III, yakni Mangkubumi di Yogyakarta dan Raden Mas Soerjadi di Surakarta.

Memperoleh Jatah Singgasana

Pangeran Mangkubumi bersama Raden Mas Said terus-menerus melancarkan perang gerilya. Sejumlah wilayah milik Kasunanan Surakarta pun berhasil direbut. Situasi ini membuat VOC cemas, dan kemudian menerapkan taktik devide et impera atau siasat adu domba untuk memecah kekuatan Mangkubumi dan Said.


VOC menghubungi Mangkubumi secara diam-diam. Dijanjikan, Mangkubumi akan menerima separuh wilayah Mataram yang kini dikuasai Surakarta jika menghentikan perlawanannya.

Di sisi lain, VOC juga mengutus orang kraton untuk menemui Raden Mas Said. Said dihasut bahwa Mangkubumi sebenarnya tidak suka kepadanya dan khawatir akan dikhianati. Taktik ini berhasil. Said akhirnya memisahkan diri dari pasukan Mangkubumi (Ki Sabdacarakatama, Sejarah Keraton Yogyakarta, 2009:93).

Said merasa pilihannya tepat setelah mengetahui Mangkubumi berunding dengan VOC pada 13 Februari 1755 (Perjanjian Giyanti). Dituliskan Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris (1996), wilayah Mataram dibagi sama rata antara Surakarta dan Mangkubumi (hlm. 46). Mangkubumi pun berhak mendirikan kerajaan baru asalkan melepas gelar PB III yang masih diklaimnya.


Mangkubumi setuju, dan memakai gelar baru, yakni Sultan Hamengkubuwana (HB) I. Tanggal 1 Oktober 1756, Mangkubumi resmi mendirikan Kesultanan Yogyakarta, kerajaan Mataram ke-2 setelah Kasunanan Surakarta.

Sementara itu, Raden Mas Said marah besar karena merasa dipecundangi. Ia semakin gencar melakukan perlawanan, baik terhadap Surakarta, Yogyakarta, maupun VOC. Murka Said membuat Belanda amat kewalahan, seperti dipaparkan dalam buku Sambernyawa Menggugat Indonesia karya Soeryo Soedibyo Mangkoehadiningrat (hlm. 13).

Demi menjaga pengaruhnya di Jawa, VOC membujuk Said agar mau berunding. Perjanjian Salatiga tanggal 17 Maret 1757 menghasilkan kesepakatan, Said diberi jatah seluas 4.000 cacah atau sekitar 2.800 hektare dari wilayah Kasunanan Surakarta (Wasino, Kapitalisme Bumiputra: Perubahan Masyarakat Mangkunegaran, 2008:12).

Berdirilah kerajaan ke-3 wangsa Mataram setelah Surakarta dan Yogyakarta, yakni Kadipaten Mangkunegaran. Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa menjadi pemimpinnya dengan gelar Mangkunegara I.


Infografik mozaik sultan hamengkubuwana I


Tiada Kawan atau Lawan Abadi

Setelah menjadi raja, petualangan politik Mangkubumi atau Sultan HB I terus berlanjut. Ia ternyata masih berambisi untuk menyatukan seluruh wilayah Mataram di bawah kendalinya. Sempat bekerjasama dengan Surakarta saat menghadapi Pangeran Sambernyawa, HB I berencana berbalik melawan.

Surakarta, yang sejak 1788 dipimpin oleh PB IV, ternyata sadar akan niat HB I. Maka, ia mengangkat saudaranya menjadi Mangkubumi (gelar yang sebelumnya milik HB I) untuk menegaskan pertentangannya. Selain itu, PB IV juga tidak mengakui hak waris putra mahkota Yogyakarta. Jawa kembali terancam perang saudara.

Untuk menghadapi PB IV, HB I menjalin relasi lagi dengan Raden Mas Said alias Mangkunegara I yang dulu pernah dikhianatinya. Selain itu, HB I juga didukung VOC yang khawatir akan manuver PB IV. Saat itu, PB IV dikelilingi para penasihat mencemaskan VOC.

Bagi HB I, tidak ada kawan dan lawan yang abadi untuk urusan politik dan kekuasaan. Zainudin Fananie (1957) melalui Pandangan Dunia KGPAA Mangkunegoro I dalam Babad Tutur, bahkan dengan tegas menyebut Pangeran Mangkubumi atau HB I sebagai politikus ulung yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.


Kerjasama antara HB I, Mangkunegara I, dan Belanda membuat PB IV terdesak dan akhirnya takluk, menuruti kehendak VOC. Ini merupakan kemenangan besar bagi Belanda di tanah Jawa. VOC bisa mengontrol pergerakan ketiga kerajaan itu dan menanamkan pengaruh yang sangat kuat, termasuk dalam urusan internal.

HB I sendiri pada akhirnya terpaksa mengubur ambisi untuk menguasai seluruh bekas wilayah Mataram. Jika tetap dipaksakan—meskipun ia punya kekuatan militer yang besar—persoalan ini bakal berlarut-larut karena VOC pasti bakal ikut campur, juga faktor kepentingan dari Surakarta dan Mangkunegaran.

Terlepas dari gayanya yang terkesan oportunis, nama HB I tetap saja harum, ia bahkan dianggap raja Mataram terbesar setelah Sultan Agung. Sultan HB I tidak sepenuhnya menurut kepada Belanda. Beberapa kali ia berupaya mempersulit Belanda yang selalu ingin mencampuri urusan internal kerajaan.


Sultan Hamengkubuwana I wafat di Yogyakarta tanggal 24 Maret 1792, tepat hari ini 226 tahun lalu, dalam usia 74. Pemerintah RI menetapakannya sebagai pahlawan nasional pada 10 November 2006. HB I adalah pendiri sekaligus peletak dasar-dasar Kesultanan Yogyakarta dan warisannya masih masih bertahan hingga kini.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan

DarkLight