Menuju konten utama

Imam Al-Zarnuji, Pentingnya Adab dalam Menuntut Ilmu

Kitab Ta'lim Muta'allim karya Imam Al Zarnuji menjadi rujukan banyak lembaga pendidikan di dunia Islam, termasuk pesantren tradisional di Indonesia.

Imam Al-Zarnuji, Pentingnya Adab dalam Menuntut Ilmu
Header Mozaik Talim Mutaalim. tirto.id/Ecun

tirto.id - "Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, juga keutamaan dan tanda bagi setiap sesuatu yang terpuji." (Imam al-Zarnuji)

Syahdan, seorang imam di Bukhara, Uzbekistan, sedang mengajar murid-muridnya di sudut ruang masjid usai salat berjamaah. Ia mengajar sambil duduk, posisi yang sama dengan murid-muridnya yang tengah menyimak dengan tertib. Tiba-tiba ia berdiri di tengah pengajarannya.

Murid-murid kemudian bertanya, lantas sang imam memberi penjelasan, “Seorang anak dari guruku sedang bermain dengan teman-temannya di jalanan, dan terkadang ia singgah ke sini, ke gerbang masjid. Setiap kali aku melihatnya, aku berdiri untuknya dengan maksud untuk menghormati guruku.”

Tidak ada kelanjutan apapun dari kisah ini yang tertuang dalam Ta’lim Muta’allim fi Thariq at-Ta’lim pada bahasan mengenai ahli ilmu dan penghormatannya di bab empat. Kitab ini merupakan salah satu kitab kuning yang kerap jadi pijakan wajib para santri dalam menuntut ilmu di pesantren.

Dalam kitab ini disebutkan pula beberapa hal yang dapat dikategorikan memuliakan orang alim atau guru, seperti tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, tidak mengajak berbicara tanpa seizinnya, dan lain-lain.

Ta’lim Muta’allim secara garis besar menekankan bagaimana pentingnya adab atau etika dibanding dengan ilmu. Kitab ini juga disusun dengan cara unik karena terdapat nazam-nazam sebagai unsur penyajiannya.

Yusuf Alyan dalam pengantar Aliy As’ad pada terjemahan Ta’lim muta’allim menuturkan bahwa naskah kitab ini pertama kali dicetak di Jerman tahun 1709 M oleh Ralandus, lalu dalam kitab syarah oleh Syekh Ibrahim bin Ismail tahun 996 H.

Kitab ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Turki oleh Abd. Majid bin Nusuh bin Isra’il dengan judul Irsyad al-Ta’lim Fi Ta’lim al-Muta’allim.

Namanya Tak Setenar Karyanya

Pengarang kitab Ta’lim Muta’allim adalah seorang ulama bernama Imam al-Zarnuji. Tidak seperti karyanya yang populer, biografinya justru jarang ditulis para cendekiawan.

Ia lahir di Zarnuj, sebuah wilayah di Provinsi Khojand, Afghanistan sekarang. Ada juga yang bilang wilayah Zarnuj merupakan kota yang berdekatan dengan sungai Oxus di Turki. Para sejarawan dan ulama tarikh sampai hari ini tidak dapat memastikan tahun lahir dan wafatnya.

Dr. H. Hoerul Umam dkk dalam Percikan Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat (2022) menyebutkan bahwa Imam al-Zarnuji hidup pada masa keemasan Islam di akhir pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang ditandai dengan menjamurnya pemikir-pemikir Islam yang tak tertandingi oleh Barat di zamannya.

“Kondisi pertumbuhan dan perkembangan tersebut, sangat menguntungkan bagi pembentukan al-Zarnuji sebagai seorang ilmuan dan ulama yang luas pengetahuannya,” terangnya.

Pada masa itu, madrasah dan institusi pendidikan begitu menjamur dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, menyebabkan pemikiran ulung al-Zarnuji dapat disejajarkan dengan Ibnu Sina maupun Imam al-Ghazali.

Al-Zarnuji memiliki nama lengkap Burhanuddin Ibrahim al-Zarnuji al-Hanafi. Ia bermazhab Hanafi dan memiliki banyak guru saat menuntut ilmu di Bukhara dan Samarkand, wilayah di sekitar Uzbekistan. Salah satu gurunya yang terkenal dan banyak dikutip dalam kitabnya ialah Burhanuddin Ali bin Abu Bakar al-Marghinani, ahli fikih yang menulis kitab Al-Hidayah fi al-Fiqh, wafat pada tahun 593 H.

Ia juga menyebut mufti Bukhara, Imam Ruknul Islam Muhammad bin Abu Bakar, sebagai gurunya yang terkenal dalam bidang fikih yang bermazhab Hanafi sekaligus seorang penyair, wafat pada tahun 573 H.

Guru-guru lainnya adalah Hammad bin Ibrahim (ahli fikih dan kalam, wafat 576 H), Fakhruddin Kasyani (ahli fikih penulis Bada’i ash Shana’i, wafat 587 H), Fakhruddin Qazi Khan al-uzjandi (ulama mujtahid, wafat 592 H), dan Ruknuddin al-Farghani (ahli fikih dan penyair, wafat 594 H).

Dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kemungkinan besar Imam al-Zarnuji hidup di masa pertengahan abad ke-6 sampai akhir sepertiga pertama abad ke-7 H/14 M.

Adapun karya-karya lain dari Imam al-Zuruji diduga ikut hangus dan lenyap saat tentara Mongol melakukan invasi ke kawasan Persia, dan ini banyak disinggung oleh para ahli sejarah. Hal ini juga diperkuat dalam kitab Ta’lim Muta’allim di bagian akhir bab dua. Imam al-Zarnuji menuturkan bagaimana gurunya menyuruhnya untuk menuliskan wasiat-wasiat Imam Abu Hanifah.

“…adalah juga memerintahkan kami waktu mau pulang ke daerah agar menulis buku tersebut, dan kamipun melakukannya,” tuturnya.

TRADISI MEMBACA KITAB KUNING

Sejumlah santri mengikuti kajian kitab kuning di Pondok Pesantren Qomaruddin, Gresik, Jawa Timur, Jumat (24/3/2023). ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/Zk/aww.

Kewajiban Menuntut Ilmu

Martin Plessner, seorang orientalis yang mengkaji riwayat hidup Imam al-Zarnuji, memperkirakan dalam First Encyclopedia Of Islam, Vol. VIII (1987) bahwa kitab Ta’lim Muta’allimin ditulis setelah tahun 593 H.

Latar belakang penulisan kitab ini karena Imam al-Zarnuji merasa bahwa terdapat kebutuhan yang besar di kalangan masyarakat muslim untuk mempelajari ajaran agama secara lebih mendalam.

Ia mengamati bahwa banyak orang muslim hanya memiliki pengetahuan yang terbatas tentang agama mereka. Ada pula yang bersungguh-sungguh belajar, namun kurang memiliki pengetahuan tentang cara mengamalkannya sehingga dapat bermanfaat buat dirinya sendiri dan masyarakat luas.

“Hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. karena, barangsiapa salah jalan, tentu tersesat tidak dapat mencapai tujuan,” ujarnya dalam pembukaan Ta’lim Muta’allim.

Oleh karena itu, ia merasa tertantang untuk menulis kitab Ta’limul Muta’allim sebagai sarana untuk membantu masyarakat muslim memperluas pengetahuan agama lewat metode menuntut ilmu yang sesuai dengan adab, disertai dengan syarat-syaratnya, sesuai dengan cara belajar yang telah ia dapatkan dari guru-gurunya yang alim dan penuh dengan ilmu hikmah.

Kitab Ta'lim Muta'allim memaparkan metode pembelajaran, karakteristik pengajar dan peserta didik, serta adab atau etika belajar mengajar yang baik dalam Islam. Ia mengharapkan lahirnya peserta didik atau santri yang cerdas dengan pondasi perilaku yang berakhlak mulia.

Terdapat 13 bab bahasan dalam kitab, yang terdiri dari:

Bab I: Pengertian ilmu dan fiqih, serta keutamaannya

Bab II: Niat di waktu belajar

Bab III: Memilih ilmu, guru, teman, dan mengenai ketabahan

Bab IV: Menghormati ilmu dan ulama

Bab V: Sungguh-sungguh, kontinuitas dan antusias

Bab VI: Permulaan, ukuran dan tata tertib belajar

Bab VII: Tawakal

Bab VIII: Saat terbaik untuk belajar

Bab IX: Kasih sayang dan nasihat

Bab X: Istifadlah (mengambil pelajaran)

Bab XI: Wara’ di kala belajar

Bab XII: Penyebab hafal dan lupa

Bab XIII: Hal-hal yang menyebabkan bertambah atau berkurangnya rezeki dan umur.

Kitab ini dibuka dengan kalimat basmallah, rasa syukur kepada Allah, dan sanjungan terhadap Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya.

Pada bab awal, Ta'lim Muta'allim menjelaskan bagaimana wajibnya menuntut ilmu dan keutamaan-keutamaannya.

“Perlu diketahui bahwa kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia,” tulisnya.

Pada bab ini juga dipaparkan ilmu-ilmu yang wajib dimiliki seseorang dalam satu wilayah (fardu kifayah) dan ilmu-ilmu umum yang boleh dipelajari, misalnya ilmu fikih dan ilmu kedokteran.

“Boleh pula mempelajari ilmu kedokteran, karena ia merupakan usaha penyembuhan yang tidak ada hubungannya dengan sihir, jimat, tenung, dan lain-lainnya. Karena Nabi juga pernah berobat.”

Toko Kitab Warung Nangka

Tiga pegawai toko Kitab Warung Nangka sedang bercengkerama, satu orang tampak sedang mencatat ketersediaan kitab yang ada di Toko Kitab Warung Nangka di Jl. Raya Ciawi Bogor. (4/4). Foto/Ali Zaenal

Dahulukan Adab, Baru Ilmu

Kitab Ta'limul Muta'alim menekankan pentingnya adab dalam belajar ilmu. Menurut Imam Al-Zarnuji, adab mencakup perilaku, etika, sopan santun, dan tata krama yang baik serta memenuhi hak-hak Allah dan manusia.

Ia menekankan bahwa adab adalah dasar atau pondasi dari ilmu yang akan dipelajari, sejauh mana adab yang dimiliki maka sejauh itulah ilmu yang didapatkan. Adab harus beriringan dengan ikhtiar menuntut ilmu yang sungguh-sungguh agar mendapatkan manfaatnya.

Dalam tiga belas bab kitabnya, al-Zarnuji menggambarkan beberapa alasan mengapa adab sangat penting. Alasan-alasan ini khususnya ditujukan kepada para pelajar atau santri.

Pertama, adab membantu menghargai ilmu itu sendiri. Ilmu adalah karunia yang sangat besar dari Allah SWT, sehingga perlu dikhususkan waktunya dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Setiap muslim harus memperlihatkan rasa syukur dan penghormatan yang tulus kepada ilmu agar bisa meraih manfaat yang sebesar-besarnya.

Kedua, adab membantu untuk menyerap ilmu dengan lebih baik. Dalam belajar, para santri harus menjaga pikiran dan hati tetap tenang, serta menerima ilmu dengan penuh kesabaran dan ketundukan.

“Maka sebaiknya pelajar mempunyai hati tabah dan sabar dalam belajar kepada sang guru, dalam mempelajari suatu kitab jangan sampai ditinggalkan sebelum sempurna dipelajari, dalam satu bidang ilmu jangan sampai berpindah bidang lain sebelum memahaminya benar-benar,” tulisnya pada bab tiga.

Infografik Mozaik Talim Mutaalim

Infografik Mozaik Talim Mutaalim. tirto.id/Ecun

Ilmu tidak bisa dikuasai hanya dengan cara menghafal, tetapi harus memahaminya secara mendalam. Adab juga membantu menjaga konsentrasi dan fokus dalam belajar, sehingga pikiran bisa lebih terbuka dan menerima ilmu dengan lebih baik.

Ketiga, adab membantu para santri untuk mengamalkan ilmu dengan benar. Ilmu yang dipelajari tidak sekadar menambah pengetahuan, tetapi harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, adab membantu setiap muslim untuk mengamalkan ilmu dengan cara yang benar dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Penekanan lainnya dalam kitab ini ialah penghormatan akan ilmu sehingga dapat terhindar dari sifat-sifat sombong.

Ia juga membagikan kiat-kiat waktu yang tepat dalam menuntut ilmu yang dibahas pada bab delapan. Meskipun secara umum mencari ilmu adalah proses belajar seumur hidup, mulai dari lahir hingga masuk ke liang lahat, namun Imam al-Zarnuji melihat bahwa usia terbaik menuntut ilmu adalah ketika remaja.

“Masa yang paling cemerlang untuk belajar adalah permulaan masa-masa jadi pemuda.” Ia juga menyampaikan bahwa waktu sahur berpuasa (sepertiga malam) serta waktu di antara magrib dan isya merupakan waktu terbaik untuk muthalaah--menghafal kajian dan mengulang pelajaran.

Sampai hari ini, pengaruh kitab Ta'lim Muta'allim bisa dirasakan di kalangan pesantren, terutama pesantren-pesantren tradisional. Para guru, kiai, dan pengajar di pesantren masih sering mengutip dan memakai referensi dari kitab tersebut sebagai bahan rujukan dalam mempelajari kaidah-kaidah ilmu adab.

Baca juga artikel terkait ADAB atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi