tirto.id - Bukit-bukit kecil yang tersebar di Kabupaten Jember, Jawa Timur, selama ini menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari masyarakat. Namun, di balik bentang alam yang disebut gumuk atau gumok itu, tersimpan jejak sejarah geologi, fungsi ekologis, peninggalan arkeologi, hingga tradisi yang perlahan terlupakan.
Ketika sebagian gumok mulai berubah bentuk, bahkan rata dengan tanah akibat aktivitas pertambangan, pertanyaan tentang masa depan lingkungan tersebut semakin mendesak. Bukan hanya mengenai berapa banyak bukit yang tersisa, melainkan juga tentang pengetahuan, sejarah, dan ingatan masyarakat yang berpotensi hilang bersamanya.
Pertanyaan itulah yang menjadi pijakan Komunitas Sudut Kalisat ketika mengangkat tema Saujana Gumok dalam Pameran dan Edukasi Kalisat Tempo Dulu (KTD) ke-11 pada tahun ini. Kegiatan ini berlangsung pada 16–18 Oktober 2026 di ruang Komunitas Sudut Kalisat, Dusun Krajan, Desa Ajung, Kecamatan Kalisat, Jember.
Melalui pameran, riset, diskusi, serta pengaktifan kembali tradisi lokal, komunitas ini mengajak masyarakat mengenali ulang gumok sebagai bagian dari ruang hidup yang memiliki nilai ekologis, historis, dan kultural.
Bagi mereka, mengenal ulang gumok bukan sekadar mengingat bentuk bukit yang pernah menghiasi suatu wilayah. Upaya tersebut juga menjadi jalan untuk memahami bagaimana bentang alam terbentuk, bagaimana manusia hidup berdampingan dengannya, serta apa yang mungkin hilang ketika lanskap itu berubah atau lenyap.
Salah satu tim kurator Pameran Saujana Gumok dari Komunitas Sudut Kalisat, Muhammad Iqbal, menjelaskan bahwa ketertarikan mereka terhadap gumok sebenarnya telah tumbuh sejak beberapa tahun lalu. Dalam sejumlah pameran terdahulu, gumok sudah menjadi bagian dari cerita yang diangkat, tetapi belum menjadi fokus utama.
“Ya, seingatku teman-teman sudah belajar gumok dari beberapa tahun lalu karena kebetulan tetanggaan sama orang-orang yang belajar gumok juga. Terus setiap pameran, kami biasanya nampilin gumok-gumok, cerita-cerita tentang gumok, gitulah. Tapi, enggak pernah jadi poin utama, enggak pernah jadi fokus utamanya,” kata Iqbal sembari merapikan beberapa arsip pameran saat ditemui di lokasi kegiatan, Minggu (18/10/2026).
Perubahan arah itu terjadi setelah komunitas mengamati kondisi gumok di sekitar mereka pada November 2025 lalu. Mereka melihat gumok yang ditambang dan persoalan sosial yang menyertainya, termasuk konflik antarwarga.

“November tahun lalu, kami melihat situasi sekitar, melihat keadaan dan situasi gumok hari ini. Kami merasa ada keperluan mendesak karena lihat situasi gumok yang ditambang, ada yang bikin konflik antarwarga. Di Ajung ini sempat ada demo dari warga,” ujar Iqbal dengan nada prihatin, pandangannya sesaat menerawang ke arah luar ruangan, mengingat kembali gesekan sosial yang terjadi.
Pengamatan tersebut mendorong mereka mengubah rencana pameran yang semula hendak mengangkat tema lain. Gumok kemudian ditempatkan sebagai pokok pembahasan, dengan riset yang berlangsung hampir setahun sebelum hasilnya diperkenalkan kepada publik melalui KTD 11.
“Awalnya kami punya rencana untuk pameran yang lain, terus kami belokkan fokusnya ke gumok dan jadi fokus utama,” kata Iqbal dengan mata yang sedikit berbinar, menunjukkan antusiasmenya terhadap proses riset panjang tersebut.
Dia menegaskan, keputusan mengambil sudut pandang gumok berangkat dari kebutuhan untuk memperbarui pemahaman terhadap bentang alam yang selama ini dianggap biasa karena selalu hadir dalam keseharian warga.
“Tahun ini kami jadikan fokus utama karena kami pun merasa perlu belajar ulang, mengenal ulang gumok,” lanjutnya, memberikan penekanan pada frasa “belajar ulang” seolah menyadari besarnya realitas alam yang luput dari perhatian.
Membaca Kembali Jejak Gunung Gadung Purba
Upaya mengenal ulang gumok membawa tim Sudut Kalisat kembali menelusuri pengetahuan geologi. Mereka mempelajari literatur, berdiskusi dengan peneliti, serta membandingkan pemahaman yang berkembang sebelumnya dengan kajian yang mereka temukan selama proses riset.
Salah satu konsep yang mereka pelajari adalah debris avalanche, yakni peristiwa runtuhnya bagian tubuh gunung api yang menghasilkan longsoran material dalam skala besar. Dalam kajian geologi, bentang alam gumok di Jember dikaitkan dengan endapan longsoran purba dari Gunung Gadung, bagian dari kompleks vulkanik Gunung Raung.
Kajian ilmiah mengenai endapan longsoran Gunung Gadung ini membuka pemahaman yang lebih luas tentang proses terbentuknya bentang alam yang selama ini mereka kenal.
“Sebelum-sebelumnya, dari literatur atau wawancara bersama geolog dari tahun 2013, teman-teman mendapat konsep yang bilang gumok itu hanya ada tiga di dunia. Ada di Jember, Tasikmalaya, sama Jepang. Nah, setelah belajar ulang, ternyata kami kenal lagi dengan konsep baru, teori baru namanya Debris Avalanche,” tutur Iqbal dengan nada penuh semangat, layaknya seseorang yang baru saja memecahkan sebuah teka-teki usang.
Iqbal menjelaskan pemahaman tentang gumok tidak berhenti pada bentuk bukit yang terlihat di permukaan. “Debris Avalanche itu puing-puing yang longsor dan ternyata itu fenomena umum di dunia. Kami belajar lagi, oh, ternyata bukan cuma tiga di dunia,” kata Iqbal menambahkan, sembari sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
Pemahaman mereka tentang runtuhnya Gunung Gadung perlahan meluas setelah mereka mempelajari dokumentasi dan berjejaring.
“Nah, itu karena kami belajar juga dengan para geolog. Kami dapat data dari teman-teman IPB, mereka yang mendata gumok-gumok itu,” ujarnya, tersenyum simpul merespons kolaborasi silang disiplin ilmu yang tak disangka-sangka.

Dalam penelusuran tersebut, tim Sudut Kalisat memperoleh data pemetaan yang mencatat bahwa Kabupaten Jember memiliki sekitar 850 gumok. Namun, data itu memiliki batasan ketinggian.
“Kami periksa ulang datanya. Karena sudah semangat untuk mengenal ulang, kami coba pakai metode yang sama, tapi kami turunkan ketinggiannya. Soalnya, data yang dari IPB, kalau enggak salah, batasnya hanya untuk ketinggian 25 meter ke atas,” jelas Iqbal dengan raut wajah serius.
Dalam kehidupan masyarakat Kalisat, penamaan bentang alam tidak melulu mengikuti ukuran teknis geologi, melainkan pengalaman sosiologis.
“15 meter ke atas itu kan ukuran bukit secara geologi. Tapi, orang-orang di Kalisat punya ukuran sendiri. Ada yang menyebutnya kalau pendek itu potok, kalau agak tinggi gumok, kalau tinggi banget gunung,” kata Iqbal sembari terkekeh.
Karena perbedaan itulah, tim turun langsung ke lapangan. Rencana awal mereka adalah mendata desa-desa di sekitar Kecamatan Kalisat. Setelah sekitar empat bulan melakukan verifikasi, tim baru sanggup menjangkau tiga desa di Kecamatan Kalisat.
“Akhirnya, kami verifikasi ulang dengan menurunkan batas ketinggiannya. Kami dapat jumlah yang lebih dari itu. Tapi, kan kami enggak tahu, apa gumoknya masih ada, sudah ditambang, atau gimana,” ujarnya.
Dari proses itu, jumlah gumok yang teridentifikasi dalam pendataan mandiri tim di wilayah tersebut mencapai sekitar 400-an, meningkat dari sekitar 150 yang sebelumnya mereka catat. Sayangnya, banyak gumok bernasib miris.
“Kalau berkurangnya, ya kebanyakan memang karena pertambangan. Waktu kami jalan memverifikasi, dari depan terlihat beberapa gumok masih utuh. Tapi begitu kami melongok sedikit ke belakangnya, ternyata sudah habis tergerus,” ungkapnya dengan senyum getir yang ironis.
Dari Pameran Menjadi Ruang Belajar Bersama
Sejarawan sekaligus inisiator Komunitas Sudut Kalisat, R.Z. Hakim, menjelaskan bahwa Saujana Gumok dirancang untuk membaca gumok dari berbagai perspektif lintas disiplin.
“Agenda besarnya, teman-teman Sudut Kalisat ingin mengenal lebih dalam lagi lanskap di Jember. Bagaimana mulanya, keadaannya hari ini, apa ancamannya ke depan, dan fungsinya di kehidupan kita. Dari berbagai perspektif yang aku lihat, tujuannya seperti itu,” kata Hakim.
Pameran ini berhasil menyingkap fakta bahwa gumok menyimpan riwayat yang tak kasat mata.
“Rupanya enggak hanya flora-fauna, gumok juga berfungsi sebagai infrastruktur perang gerilya, pemecah angin alami, dan penyimpan air karena rongga-rongganya berpori," ungkap Hakim.
"Bahkan, jarak dekat dari gumok-gumok itu, teman-teman sering menemukan peninggalan arkeologi. Ada batu bata kuno sampai cerita-cerita orang tentang manik-manik kaca,” sambung Hakim seraya menunjuk ke arah salah satu bagian pameran yang memuat informasi tersebut.
Temuan manik-manik kaca yang dikaitkan dengan abad ke-4 hingga ke-9 Masehi itu membawa angin segar bagi penulisan sejarah daerah.
“Ini menjadi menarik karena Jember mengalami kekosongan narasi di tahun-tahun itu, dan ternyata kekosongan itu bisa diisi lewat manik-manik kaca,” kata Hakim.
Selain itu, pameran juga mengangkat kisah strategi Letkol Mohammad Sroedji dalam memanfaatkan lanskap gumok untuk perang gerilya, serta batu candi yang baru teridentifikasi di Desa Sumberkalong. Fakta-fakta ini, menurut Hakim, sudah sepatutnya membuat pemerintah turun tangan melindungi sisa bentang alam yang ada.
“Regulasinya jangan main-main. Kalau DPRD Jember sudah mengeluarkan regulasi bulan Juni 2026, ya harus disertai Peraturan Bupati. Setelahnya, harus dilaksanakan dan dikorelasikan dengan Undang-Undang Cagar Budaya dan UUD 1945 Pasal 33,” ujar Hakim dengan nada suara yang meninggi dan tegas, melemparkan teguran keras kepada pemangku kebijakan.
Hakim berharap kesadaran akan keterkaitan lingkungan, sejarah, dan masyarakat ini menjadi keresahan bersama.
“Mengingatkan keseharian kita ya... siapa pun yang tinggal di Jember, ke mana saja mata kita arahkan, kita akan menemukan yang namanya gumok,” kata Hakim.
“Jangan sampai kelak sejauh mata memandang hanya terlihat daratan flat (datar) saja. Mumpung masih ada, kita tidak perlu menunggunya hilang untuk merindukannya atau hanya bisa melihatnya dari lukisan. Kita harus segera memikirkannya, karena menurutku, situasi di Jember ini sudah genting,” lanjutnya dengan suara yang sedikit bergetar.
Nyonteng Gumok, Menghidupkan Ingatan melalui Tradisi
Upaya merawat gumok tidak berhenti pada diskusi ruangan. Rangkaian KTD 11 juga menghadirkan Merokat Kenangan: Nyonteng Gumok, sebuah program yang mengajak warga menelusuri tradisi lokal sekaligus menautkannya dengan kepedulian lingkungan.
Budayawan sekaligus pembina Sanggar Umah Wetan, Abdul Rasyid atau yang akrab disapa Cak Sid, menjelaskan bahwa tradisi nyonteng sangat lekat dengan masyarakat Jember wilayah utara.
“Di mata pelaku seni, ada hal-hal yang terkait dengan tradisi lama di Jember Utara, yaitu nyonteng. Sekilas, pandangan orang-orang terlihat secara zahirnya (fisiknya) ini hanya ritual semata,” tuturnya pelan.
Menurut Cak Sid, gumok yang masih memiliki keterkaitan dengan ritus atau makam leluhur cenderung tetap terjaga karena adanya batas-batas etika tak tertulis di masyarakat.
“Setelah melihat fenomena perusakan gumok, saya ingat ritual-ritual dulu. Oh, ternyata ketika ritual itu terjaga, masyarakat desa enggan merusak karena ada rasa takut dan unsur kesakralan,” kata Cak Sid.
“Saya berpikir, wah, pengerusakan ini terjadi karena sudah hilang kesakralan di tempat itu,” imbuh Cak Sid.

Pendekatan nyonteng tidak ditujukan untuk mengembalikan takhayul, melainkan untuk membangkitkan kepedulian yang pudar.
“Saya yakin, kalau tradisi ini kita tumbuhkan dan angkat lagi, kita bisa menjaga alam. Menganggap alam itu sakral adalah hal yang penting dan ini di luar urusan mistis, ya,” ujarnya dengan sorot mata yang penuh harap akan kembalinya kesadaran kolektif warga desa.
Dia menjelaskan bahwa leluhur membagi tradisi ini menjadi beberapa elemen vital kehidupan agraris. Di antaranya ada nyonteng gumok, nyonteng sungai, nyonteng sumber, dan nyonteng sawah.
“Tahun 80-an, saya sempat melihat orang-orang tua nyonteng sungai. Tapi, kalau nyonteng gumok, belum pernah saya lihat. Cuma, saya ada tutur dan mantranya dari Pakde. Untungnya dulu saya tulis. Jadi, baru kali ini saya nyonteng gumok,” tuturnya.
Pada pelaksanaannya, cerita tutur yang dihimpun warga Desa Sumberkalong diubah menjadi babad desa dalam bentuk tembang macapat. Cak Sid mengibaratkan lanskap desa sebagai anatomi tubuh manusia. Gumok diibaratkan sebagai hidung, sungai dan sumber air sebagai mata, sedangkan tegal dan sawah sebagai mulut.
“Di situ kami selipkan pesan. Kalau diibaratkan wajah, sekarang ini wajah desa itu sudah penuh luka,” ujarnya dengan nada lirih.
“Dan yang lebih memprihatinkan, justru yang melukai wajah itu adalah anak cucunya sendiri. Kami bahasakan ironi itu dengan bahasa khas tembang," imbuh Cak Sid dengan helaan napas berat.
Bagi Cak Sid, lirik tembang tersebut adalah tamparan halus.
“Artinya, ini soal bagaimana kita punya kesadaran moral,” katanya singkat.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan terus berlanjut.
“Rencananya teman-teman Sudut Kalisat mau mengagendakan nyonteng ini lebih sering lagi, entah itu ke sumber, sungai, atau sawah. Dari sisi tradisi atau budaya, semangat pelestarian itu yang kita ambil,” jelas Cak Sid.
“Itu yang paling penting, Mas. Kelestarian alam. Karena zaman sekarang kan gumok, sumber air, sungai, dan sawah ini sudah rusak. Kalau dibiarkan, pada akhirnya orang luar yang akan masuk dan seenaknya mengeksploitasi alam desa kita,” pungkasnya tegas, menutup perbincangan.
=============
Jember Yang Itu adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Jember Yang Itu
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































