Ibu Hamil, Waspadalah Jika Tekanan Darah Anda Tinggi

Oleh: Aditya Widya Putri - 23 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Terapkan pola hidup sehat dan rutin memeriksakan kandungan.
tirto.id - Preeklampsia menjadi salah satu momok menakutkan bagi ibu hamil. Pada sebagian kasus, ibu hamil harus memilih untuk merelakan janin karena berisiko membahayakan nyawa ibunya.

Penyakit ini, seperti dijelaskan situs American Pregnancy Association, merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai tekanan darah tinggi dan kerusakan organ. Misalnya kerusakan ginjal sehingga kadar protein pada urine tinggi atau biasa disebut proteinuria. Penyakit ini biasa menyerang para ibu di usia kehamilan lebih dari 20 minggu. Mereka yang sedang dalam usia kehamilan tersebut, perlu waspada jika mendapati gejala-gejalanya.

Wanita hamil yang mengalami bengkak atau memar pada kaki dan tangan, tekanan darah tinggi, nyeri kepala hebat, atau muntah-muntah, sebaiknya memeriksakan diri lebih lanjut. Tekanan darah wanita dengan preeklampsia dapat mencapai 140/90 mmHg atau lebih tinggi dari itu.

Preeklampsia dialami 5 hingga 8 persen ibu hamil. Dampaknya tak boleh disepelekan, karena bisa mengancam keselamatan ibu hamil beserta janinnya. Kondisi preeklampsia mengakibatkan plasenta kekurangan darah, membuat suplai makanan dan oksigen kepada bayi berkurang. Risiko terburuknya adalah bayi akan berberat badan rendah, bahkan meninggal dunia.

“Ini salah satu kondisi yang sangat ditakutkan saat kehamilan. Pertumbuhan janin dapat terlambat karena ari-arinya keropos dan bayinya bisa meninggal di dalam [kandungan],” jelas dr. Ulul Albab, Sp. OG, spesialis kandungan kepada Tirto.

Baca juga:
Dokter Ulul mengelompokkan preeklampsia sebagai satu dari empat gangguan tekanan darah tinggi yang dapat terjadi selama kehamilan. Tiga lainnya adalah hipertensi gestasional, hipertensi kronis, dan hipertensi kronis dengan preeklampsia berlapis.

Wanita dengan hipertensi gestasional memiliki tekanan darah tinggi, tapi tidak ada kelebihan protein dalam urine atau tanda kerusakan organ lainnya. Namun, hati-hati. Wanita yang sudah terkena hipertensi gestasional lebih berisiko mengalami preeklampsia.

Gangguan selanjutnya, hipertensi kronis, timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu atau didiagnosis setelah umur kehamilan 20 minggu dan menetap sampai 12 minggu pasca-persalinan.

Gangguan terakhir adalah hipertensi kronis dengan preeklampsia berlapis yang terjadi pada wanita dengan tekanan darah tinggi kronis sejak sebelum hamil. Kondisi itu bisa memburuk karena tekanan darah tinggi jika dibarengi kadar protein yang tinggi dalam urine dan/atau komplikasi kesehatan lainnya selama kehamilan.

Preeklampsia dapat berlanjut ke keadaan yang lebih berat, yaitu eklampsia. Masalah yang disebut terakhir ini adalah kondisi di mana penderita mengalami kejang dan koma.

“Untuk membedakan, kita [harus melakukan] tes. Kalau ditemukan protein dalam urine, berarti dia [mengalami] preeklampsia. Kalau tidak, berarti dia hipertensi,” papar dokter Ulul.

Baca juga: Daging Kambing Tak Sebabkan Tekanan Darah Tinggi

Preeklampsia Membunuh Ibu dan Bayi

Di awal kehamilan, akan ada perkembangan pembuluh darah baru untuk mengirim darah ke plasenta. Fungsinya untuk mengalirkan darah, oksigen, dan memberi nutrisi pada janin selama kehamilan. Pada wanita dengan preeklampsia, pembuluh darah tidak berkembang atau berfungsi dengan baik. Ukurannya jadi lebih sempit dari pembuluh darah normal sehingga membatasi jumlah darah yang mengalir.

Jika kehamilan masih di bawah 34 minggu, dokter akan memantau kondisi kehamilan. Apabila tekanan darah tak kunjung menurun sebelum kandungan berusia 34 minggu, janin terpaksa digugurkan. Sebab, kondisi ini membahayakan ibu. Janin pun berisiko meninggal di dalam kandungan.

“Kalau kehamilan sudah mencapai lebih dari 34 minggu, kita pertahankan [janin] dengan lahiran cepat,” katanya.

Menunda untuk mengeluarkan bayi, menurut dokter Ulul, akan menimbulkan risiko tinggi pada ibu. Preeklampsia bisa mempengaruhi kerusakan organ lain ibu seperti ginjal, hati, paru-paru, jantung, mata. Ia juga dapat menyebabkan stroke atau cedera otak lainnya. Yang terparah adalah kejang dan kematian.

Baca juga: Momentum Legalisasi Ganja untuk Medis

Infografik Preeklampsia


Untuk itu, ia menyarankan para ibu hamil memeriksakan kehamilannya secara rutin, setidaknya setiap sebulan sekali sebelum usia kandungan mencapai 8 bulan. Ketika memasuki usia kehamilan 8 bulan, intensitasnya bertambah menjadi per 2 minggu, dan menjadi seminggu sekali saat memasuki usia kehamilan 9 bulan.

“Yang terpenting, kami tetap sarankan untuk menjalankan gaya hidup sehat selama kehamilan.”

Salah satu faktor risiko terjadinya preeklampsia berkaitan dengan pola hidup tak sehat. Beberapa penyakit bisa diakibatkan, misalnya hipertensi, diabetes tipe 1 atau tipe 2, dan sakit ginjal. Namun, selain gaya hidup, terdapat faktor risiko bawaan. Salah satunya adalah jika ada keluarga yang juga mengidap preeklampsia.

Faktor risiko lain adalah usia. Risiko preeklampsia lebih tinggi pada wanita yang hamil di umur sangat muda, serta yang berusia lebih dari 40 tahun. Preeklampsia juga lebih mungkin ditemukan pada kehamilan pertama dan setiap kehamilan dengan pasangan baru. Wanita yang mengandung janin kembar juga perlu lebih waspada. Faktor lainnya adalah kehamilan dengan interval antar-kehamilan kurang dari dua tahun atau lebih dari sepuluh tahun.

Baca juga: Melawan Obesitas dengan Pajak Gula dan Minuman Ringan

Baca juga artikel terkait OBESITAS atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri