'Ibadah' Melukis Srihadi yang Tak Lekang oleh Waktu

Pengunjung melihat lukisan karya Srihadi Soedarsono yang dipamerkan dalam pameran tunggal Srihadi Soedarsono bertajuk Man x Universe di Galeri Nasional, Jakarta, Rabu (11/3/2020). tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Joan Aurelia - 31 Mei 2020
Dibaca Normal 5 menit
Lukisan-lukisan kontemplatif membedakan Srihadi dari seniman lain di angkatannya.
Srihadi Soedarsono tak akan bikin Anda gusar meski ia sedang menyampaikan protes atau mengkritik kaum oligarki dalam lukisannya. Karya-karyanya mendamaikan selaras dengan sosoknya yang tenang.

Pria ini tidak pernah bilang ke publik bahwa dirinya mempelajari ilmu psikologi warna dan sengaja menaruh warna-warna yang menenangkan di dalam kanvas. Yang kerap dituturkan Srihadi adalah kebiasaannya mengikuti sang kakek tirakat di atas gunung ketika ia masih kanak.

Sejak Srihadi berumur empat, sang kakek selalu meminta dia mengamati hal-hal yang terjadi di sekeliling kala mereka sedang bermeditasi. “Diminta mengamati daun yang jatuh kemudian memungutnya satu-persatu, mendengar suara-suara yang ada di alam terbuka, dan merenung,” kata Farida, istri Srihadi.

Saya cukup yakin warna-warna yang ada di lukisan karya Srihadi adalah warna-warna yang ia tangkap saat mengamati alam tanpa memikirkan hal lain, tanpa menganalisis penyebab dari kejadian yang berlangsung di hadapannya.

Gunung Merapi bisa saja punya bias cahaya berwarna oranye di sekitarnya. Dari kejauhan, warnanya tidak selalu nampak abu-abu tetapi masih menyisakan unsur warna biru dan cokelat. Awan-awan yang mengitarinya juga tidak melulu putih tapi bisa sedikit kemerahan akibat pantulan cahaya matahari yang menyinari beberapa bagian gunung.

Langit di atas Borobudur tidak selalu berwarna biru atau hitam karena ada kalanya senja membuatnya berwarna ungu. Ketika malam mulai datang, langit ungu nampak sebagai aksen di langit hitam dan membuat lanskap Borobudur terkesan misterius tapi tidak menakutkan.

Di benak Srihadi, bila ada terang bulan di malam hari, sinarnya bisa sampai di bagian atas candi dan membuat bagian tersebut dan langit di sekitarnya lebih terang. Hal itu ia tuangkan dalam lukisan lanskap Borobudur di malam hari.

Memayu hayuning bawana. Kata Srihadi, 88 tahun, menyebut inti dari proses melukis.


Kami berjumpa jelang sore di Galeri Nasional Indonesia pada 11 Maret lalu. Di dalam ruang pertemuan yang dipadati belasan wartawan media nasional yang menunggu giliran untuk mengajukan satu sampai dua pertanyaan.

Perjumpaan berlangsung sekitar satu jam setelah Srihadi datang dari kediamannya di Bandung. Malamnya, pameran tunggal bertajuk Man x Universe yang menampilkan 44 karya lukis Srihadi tentang lanskap, dibuka oleh Menteri BUMN Erick Thohir.

Kata Srihadi, angka 88 dalam budaya Jawa menandakan kesinambungan. Oleh karena itu, Srihadi hendak merayakan usianya dengan menyelenggarakan ekshibisi. Ia memilih tema lanskap karena dianggap paling tepat melambangkan pandangannya terhadap kehidupan.

“Kita ini kecil dan tidak ada apa-apanya di bawah yang mahakuasa. Kita harus memelihara dunia ini,” katanya menerangkan makna lukisan-lukisan panorama.

Srihadi memutuskan memelihara dunia dengan membuat lukisan yang berangkat dari nilai-nilai dalam ajaran Kejawen--yang di antaranya mengandung ajaran tentang kebesaran semesta dan bagaimana manusia patut menyadarinya. Kelak ia lebih suka menyebut lukisannya sebagai penyampaian kepuasan ‘roso’ atau perasaan/rasa dalam bahasa Indonesia.

Tak heran bila kemudian Srihadi gemar menggambarkan semesta langit, laut, tanah, padang rumput dalam warna-warna yang vibran. Dan memperlihatkan interaksinya dengan hal yang ada di bumi seperti manusia, tempat ibadah, atau moda transportasi--yang ia desain dengan ukuran sangat kecil sampai-sampai penikmat lukisan tidak menyadari keberadaan benda tersebut bila tidak memperhatikan seluruh bagian kanvas dari dekat.

Jean Couteau, dosen dan penulis seni yang juga merupakan penulis buku Man X Universe, bilang kepada saya, “Srihadi ini seperti orang yang melakukan ritual sembahyang dengan cara melukis.”

Kami mengobrol di museum Cemara 6, kediaman kawan Couteau, Toeti Heraty Roosseno, keesokan pagi setelah pembukaan pameran. Jean punya cukup banyak waktu untuk memperlihatkan lukisan-lukisan yang menurutnya ‘benar-benar Srihadi’--mengandung elemen makro dan mikro atau dalam bahasanya : memuat dialektika perpaduan antara yang maha kecil dan maha besar.

Jean menunjuk Sawah dan Traktor Pembuka Jalan (1984), Mt. Bromo The Mystical Earth (2017), The Energy of Wave- Struggle of Life (2019), Gunung Kawi The Land of Prayer and Hope (2018), Jatiluwih The Prosperous Ricefield (2017), Tanah Lot The Holyess of Pray (2019), Pura Tanah Lot — The Dialogue of Man, Heaven and Earth (2019).

Dalam Jatiluwih The Prosperous Ricefield contohnya, wajar bila Anda tidak menyadari bahwa ada dua orang yang digambarkan seolah sedang berdiri di tengah sawah karena yang terekspos dengan jelas adalah terasering yang bentuknya seperti gelombang laut. Tidak semuanya hijau tetapi ada paduan warna putih abu-abu seperti sedang terkena pantulan matahari di tengah hari.

Itu “cara kerja” Srihadi. Dia menggunakan gradasi dan perpaduan warna untuk membuat penikmat lukisannya semakin mendekati kanvas, menyerap keindahannya, dan mengamati bentuk-bentuk yang hadir di sana pelan-pelan.


Posisi Srihadi sebagai Seniman Jawa Tengah

Terlepas dari itu, ketimbang membicarakan karya-karya Srihadi yang betul-betul kontemplatif semacam Horizon - Moment of Meditation (2016) atau Horizon - Red Sun Against Red Sky (1976), publik cenderung lebih suka mencari tahu dan membahas karya Srihadi yang mengandung kritik sosial dan mencari nilai nasionalis sang perupa.

Hal ini sesungguhnya tidak baru terjadi sekarang. Pelukis Sindhudarsono Sudjojono (Djon) pernah mempertanyakannya secara tidak langsung pada periode 1950an.

Periode tersebut adalah masa terjadinya ketegangan antara seniman Indonesia yang berdomisili di Jogjakarta dengan yang tinggal di Bandung. Seniman-seniman Jogja seperti Djon, Hendra Gunawan, Kusnadi, menganggap bahwa seni adalah alat perlawanan dan mesti melambangkan realita kehidupan rakyat Indonesia kelas bawah yang sebenarnya, tidak seperti lukisan mooi indie yang mengagungkan keindahan alam Indonesia.

Djon yang saat itu merupakan pelopor konsep ini, mengharapkan semangat perjuangan bisa tertuang dalam lukisan yang memadukan gaya lukis impresionisme dan ekspresionisme.

Srihadi bisa dibilang sempat jadi murid Djon ketika bergabung dalam Seniman Indonesia Muda--komunitas yang didirikan Djon pada 1947. Di sana Srihadi bertugas membuat poster dan baliho yang menyiratkan semangat rakyat Indonesia. Poster-poster tersebut kerap dipamerkan manakala ada tamu negara dari luar negeri yang datang ke Indonesia.

Srihadi sudah berpengalaman mendesain poster-poster sejenis karena sebelumnya sempat bergabung dalam asosiasi Ikatan Pelajar Indonesia--kelak jadi Tentara Pelajar--di Surakarta. Kala itu, ia kerap membuat gambar-gambar dan tulisan yang memperlihatkan semangat perjuangan di dinding gerbong kereta api.

“Kata-katanya seperti ‘Fight for Democracy, We Have to Win,’” kenang Srihadi dalam acara Ceramah: Saya dan Seni Lukis Indonesia di Komunitas Salihara 2015.

Djon nampaknya cocok dengan karya-karya Srihadi yang waktu itu masih remaja 17 tahun. Oleh karena itu, saat pemerintah meminta Djon untuk membentuk kepanitiaan untuk mengorganisir ruang seni di Yogyakarta pada 1947, ia mengajak Srihadi. Kepanitiaan ini tidak berlangsung lama karena peperangan dengan Belanda membuat organisasi tersebut terpaksa dibubarkan.

Kekecewaan Djon muncul ketika Srihadi memutuskan untuk berkuliah di Institut Teknologi Bandung--kampus yang awalnya dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia yang mengerti soal teknik di daerah koloni--ketimbang Institut Seni Yogyakarta.

Namun, sebenarnya alasan Srihadi sederhana. Ia ingin mempelajari bentuk kesenian baru. Waktu itu, Srihadi sudah mengenal para pengajar di ISI, pernah bekerja bersama mereka, dan mengerti gaya lukis dan arah seni mereka. Sementara ITB menawarkan kebaruan dengan mengajarkan gaya lukis kubisme dan abstrak kepada para murid.

Dosen-dosennya didatangkan dari Belanda. Salah satu yang populer ialah Ries Muelder, orang yang membuat Srihadi mengenal pelukis Cezanne dan Jacques Villon. Keduanya kemudian mempengaruhi karya-karya awal Srihadi.

“Ada semangat keterbukaan yang ditawarkan seni rupa ITB,” kata Srihadi.


Srihadi memulai karyanya dengan menggambar objek-objek seperti orang dengan prinsip kubisme. Sebelum sampai pada gaya lukis lanskap, ia juga sempat menjajal abstrak kubisme yang, menurut Jean, membuat beberapa lukisan Srihadi serupa karya Mark Rothko pada 1949 yang didominasi bentuk persegi.

Pada 1960, ia bersama kawan-kawan sesama murid Seni Rupa ITB menggelar pameran kolektif di Balai Budaja, Menteng, Jakarta Pusat. Media-media massa mengkritik pameran tersebut dan menyatakan bahwa mahasiswa ITB mengabdi pada Barat dan tidak menggambarkan jiwa orang-orang Indonesia.

Srihadi mengenang, di koran tertulis bahwa yang dirasakan dalam pameran mahasiswa itu adalah kebanggaan yang tidak pada tempatnya dan menyesatkan rasa, pikiran, dan materi yang ada di ranah seni rupa.

“Sebetulnya aliran ekspresionisme di dalam negeri dipelopori oleh Djon, hanya saja dia berganti haluan jadi realisme sosial yang diktatoris,” tutur Srihadi lagi dalam ceramah tersebut.

Djon juga bilang dengan sengit: Srihadi tidak sepatutnya memakan tai Muelder.

“Saya bisa memahami sikap Sudjojono. Saya terima saja.”

Srihadi sejatinya tak luput menyampaikan realita seperti yang dimaksud Djon. Pada dekade yang sama, ia melukis tentang orang-orang kelaparan. Lalu di sepanjang dekade 1970an, ia juga membuat lukisan yang punya unsur kritik sosial seperti Raden Saleh berseragam tentara, anak-anak Papua yang marjinal, pembangunan Jakarta yang terlalu padat, dan yang paling heboh: Air Mancar.

Lukisan Air Mancar adalah gambar Bundaran HI yang dipenuhi papan reklame perusahaan Jepang. Tadinya lukisan akan dipajang dalam acara peresmian Taman Mini Indonesia Indah yang dihadiri tamu-tamu negara. Namun, ketika melihatnya, Ali Sadikin marah, mencoretnya, lalu “mengamankan lukisan tersebut”.

Srihadi bilang, kala itu ia hanya melukis hal yang betul-betul ada di Jakarta.


“Untuk jenis lukisan protes, ia sengaja menggunakan pilihan warna yang dianggap ‘buruk’ dan menggunakan teknik menggambar yang semrawut. Tapi ketimbang sebagai lukisan protes, gambar tersebut nampak seperti lukisan seni kontemporer,” kata Jean.

Jean juga menjelaskan, Srihadi tidak membenci Jepang atau Belanda melalui lukisan-lukisannya yang terkesan revolusioner. “Dibuat bukan demi kebencian tapi kebenaran. Jadi saya rasa jangan menyempitkan makna nasionalis dalam diri Srihadi sebagai rasa kebangsaan tetapi lihat itu sebagai caranya memandang kebenaran.”

Srihadi paham bahwa lanskap tidak hanya produk alam tetapi juga hal-hal yang ia jumpai dalam keseharian. Oleh karena itu ia masih menggambar soal Jakarta Megapolitan - Patung Pembebasan Banjir (2020), Bandung Jelita II- Ledakan Pemukiman (2019).

Lukisan baginya adalah catatan peristiwa. “Seperti wartawan yang merekam peristiwa lewat tulisan,” ucapnya.

Memang pada kenyataannya ada hal yang terasa ganjil seperti ketika ia melukis begitu banyak orang dan perarakan di tengah sawah (lukisan yang ditonjolkan dalam ekshibisi ini). Tapi lukisan tersebut bisa dilihat sebagai momen yang wajar terjadi pada seniman. Terutama kala Srihadi, karena satu dan lain hal, mesti mengikuti keinginan calon pembeli lukisannya, sekalipun itu terjadi dalam skala minor dan tidak membuatnya tampak sebagai pelukis pesanan.

Pada akhirnya, perkataan Srihadi tentang, “apapun yang saya jalankan adalah ibadah”, masih terdengar jelas pada tahun ke 75 ia berkarya.

Baca juga artikel terkait PAMERAN LUKISAN atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight