Ugo Untoro di Antara Kuda dan Pulang Kampung

Ugo Untoro. Instagram/ugountoro
Oleh: Joan Aurelia - 28 Januari 2020
Dibaca Normal 5 menit
Ugo Untoro dulu ingin jadi Spider-Man, kini jadi seniman.
Kami berjumpa beberapa jam setelah Ugo diperbolehkan keluar dari rumah sakit setelah dua malam dirawat karena penyakit yang ia rahasiakan. “Malu lah,” katanya ketika Tirto bertanya soal penyakitnya itu.

Dengan langkah pincang ia berjalan menuju area yang cukup tersembunyi dan jarang dilewati para pengunjung Galeri Nasional Indonesia, Gambir, Jakarta Pusat. Ugo menyandarkan punggung di dinding seberang pintu toilet pria, menyelonjorkan salah satu kaki, memastikan posisi bokongnya nyaman, mempersilakan saya untuk duduk dan memulai obrolan.

Siang itu sebenarnya waktu Ugo untuk beristirahat setelah menutup pameran tunggal bertajuk "Rindu Lukisan Merasuk di Badan" yang diselenggarakan pada 21 Desember 2019-12 Januari 2020. Tapi waktu rehatnya tidak maksimal ia pergunakan. Ugo mesti memastikan sekitar 70-an karya seni yang ia buat untuk pameran agar terbungkus dengan baik dan aman dikirimkan kembali ke studionya di Yogyakarta.

Beberapa meter dari tempat kami bicara, ‘terparkir’ tiga replika mobil tua--dalam skala yang sebenarnya--yang terbuat dari resin. Saat pameran berlangsung, tiga mobil diletakkan berderet di ruang yang dinginnya seperti kulkas, dilatari suara angin dan mesin, serta dilengkapi sedikit percikan air. Sensasinya mirip seperti masuk ke area cuci mobil otomatis.

Kata Ugo, mobil-mobil itu menandakan zaman yang sudah serba cepat. Hal yang tidak begitu ia sukai. Karya instalasi tiga mobil nampak kontras dengan lukisan dan karya dua dimensi lain yang mayoritas memenuhi seluruh tembok ruang pameran.


Ugo dan kurator Hendro Wiyanto sepakat bahwa ekshibisi tunggal kali ini adalah wujud pemaknaan Ugo terhadap peristiwa pulang kampung--aktivitas yang cukup sering ia lakukan setelah sang ayah meninggal.

Kampung halaman Ugo terletak di Purbalingga, Jawa Tengah. Layaknya orang yang telah puluhan tahun merantau, pulang kampung bisa dilihat sebagai momen ‘melambat’, melepas beban yang dipikul di tempat perantauan, merayakan ingatan menyenangkan di masa lalu, leyeh-leyeh.

Ugo pun tidak memikirkan soal melukis atau membuat pameran. “Aku menyadari ternyata ada banyak hal yang enggak kusentuh dan enggak kurasakan sebelumnya. Mengurus sawah, ngopi dengan ibu,” kata Ugo dalam wawancara dengan tim Indonesia Visual Art Archive (IVAA) yang dipublikasikan 20 Desember 2019.

Ia mengaku menikmati suasana kampung dan merasa baik-baik saja meski sudah tidak melansir koleksi karya dalam kurun waktu setahun lebih.

Rutinitas pulang kampung yang santai tak berlangsung abadi. Seorang kawan Ugo, Dodo Hartoko, berinisiatif menyelenggarakan pameran tunggal Ugo di Jakarta. Ugo tidak menolak tawaran tersebut dan kemudian menjadikan pulang kampung sebagai tema besar pameran.

Selama kurang lebih setahun ia menggali makna pulang, membungkusnya sebagai nostalgia dengan sisi romantis. Ayah dari dua putra ini mulai merinci tiap gagasan yang ia miliki sehubungan dengan pulang.

Setidaknya ia memaknai pulang seperti ini: pulang sebagai nostalgia, pulang kampung sebagai sesuatu yang romantis, pulang kampung sebagai tindakan menelusuri jejak kehidupan, pulang sebagai pengingat terhadap momen di mana ia memutuskan untuk jadi pelukis.

Dalam ruang pamer, karya yang merupakan wujud interpretasi terhadap makna romantis ditaruh di bagian depan dan rasanya cukup mengejutkan karena pada bagian ini Ugo memutuskan memodifikasi karya seniman lukis aliran romantik asal Perancis, Eugene de la Croix.

Ugo memodifikasi delapan karya de la Croix. Karya-karya yang dimodifikasi diantaranya Massacre at Chios, Madea, Barke of Dante, dan Fanatic of Tangier. Hasil modifikasi Ugo membuat lukisan-lukisan itu terlihat lebih kelam dan cenderung abstrak. Ia tidak membuat gambar dengan garis-garis rapi dan membiarkan lelehan cat menggambarkan figur yang ada pada kanvas. Ia juga tidak menggambar menggunakan banyak warna melainkan sengaja menyusun gambar dalam lukisan tersebut di atas dalam dominasi warna hitam dan merah tua.

Tidak ada yang salah dari lukisan itu, tapi, peletakan di sisi depan ruang pamer membuat saya, sebagai pengunjung, spontan berpikir apakah Ugo sedang kehabisan ide atau minim inspirasi sampai memutuskan untuk memodifikasi lukisan orang lain setelah sekian lama tidak menyelenggarakan pameran lukisan tunggal di Jakarta.

Saya beradap disambut gambar-gambar kelam seperti figur yang ada dalam lukisan 41, Piano, Mengurai Rantai atau artwork sejenis Ephos 1, How teeth are You.


Pajangan karya modifikasi lukisan de la Croix dilanjutkan dengan gambar hasil modifikasi karya S. Sudjojono. Ugo merasa punya selera yang sama dengan Sudjojono karena suka menaruh kata-kata dalam kanvas.

Karya Djon yang dimodifikasi adalah Kawan-Kawan Revolusi. Dalam versi Ugo, tidak ada lagi sosok manusia dan kata-kata. Yang nampak adalah garis-garis acak melingkar yang tersusun dari berbagai macam warna.

Selanjutnya adalah jajaran lukisan telapak kaki berjudul Sleeping Buddha Series. Bagi Ugo, ajaran Buddha mengingatkan manusia pada akarnya yakni bagian dari dan hidup dalam semesta. Dalam seri ini, gambar yang ditampilkan tidak hanya kaki Buddha melainkan pula sepatu bot, wajah Siddharta Gautama, dan telapak kaki manusia.

“Kaki ini bisa kaki siapa saja. Bisa pula menyiratkan jejak langkah, jalan, dan medium untuk melihat sesuatu yang ditinggalkan di masa lalu,” lanjut Ugo kepada tim IVAA.

Seri Buddha diikuti oleh Painting Series. Rangkaian karya berupa ‘modifikasi kanvas’ seperti kanvas yang digulung dan digantung, disobek-sobek hingga memperlihatkan rangka, kanvas yang hanya dibubuhi lukisan kecil pada sisi sudut tas, kanvas yang diremas, ditarik, dan dilipat. Bagi Ugo, seri kanvas menandakan identitas diri sebagai pelukis.

Menurut pikiran Ugo, perihal melukis tidak selalu harus tertuang dalam gambar yang jelas. Titik, garis, kata-kata, atau bentuk apapun yang ada di atas kanvas bisa ia sebut sebagai lukisan.

Konsekuensi ‘Melambat’

“Pameran ini kurang greget. Aku tidak melihat Ugo melakukan pembaruan artistik,” kata Opee Wardany, peneliti seni rupa dan penulis Sebab Jalan Belum Berujung, via telepon pada 15 Januari 2020.

Opee adalah teman dekat sekaligus pengagum Ugo. Perkenalannya dengan karya-karya Ugo berawal pada 2008 kala berkunjung ke rumah seorang kawan yang memperlihatkan belasan lukisan Ugo.

“Sebagian besar lukisannya bikin saya terharu. Saya ingat Immanuel Kant pernah bilang bahwa estetika tertinggi karya seni terbukti ketika karya bisa memunculkan keharuan. Dari sana saya konsisten mengamati Ugo ketimbang seniman lain seangkatannya,” lanjutnya.

Tak hanya mengamati, Opee pun berkawan dengan si pelukis dan lantas menjadikan proses kreatif dari salah satu pameran Ugo, Melupa, sebagai topik tesis Opee di Insitut Seni Indonesia Yogyakarta. Tesis itu kemudian dibukukan dengan judul Sebab Jalan Belum Berujung.

Dalam Melupa, semua karya berbentuk teks yang ditulis dalam berbagai medium seperti kanvas, kertas rokok, buku, cap lilin.

Keunikan yang sama ia temukan pula pada pameran-pameran Ugo yang lain seperti Poem of Blood, Corat Coret, Goro-Goro, dan pameran 500 sketsa karya Ugo.


“Pameran 500 karya ada saat skena seni di Jogja fokus pada jualan karya yang sudah jadi. Lewat pameran itu, Ugo menghadirkan wacana kalau proses sebelum lukisan jadi juga layak jadi perhatian.”

“Dalam pameran di Nadi Galeri, ia menghadirkan boneka-boneka yang mengerikan. Ia juga menggambarkan wayang yang lain daripada yang lain.”

“Dalam Poem of Blood ia menghentak pengunjung lewat pameran yang berangkat dari kejadian kuda kesayangan Ugo yang meninggal.”

Awalnya pameran diselenggarakan di Taman Budaya Yogya dan Galeri Nasional pada 2007 dan Biasa Artspace Bali pada 2020.



Pameran itu adalah hasil pemaknaan Ugo terhadap kuda kesayangannya yang mati. Ugo mengaku pernah memiliki 20-an kuda dan ada masanya ia rutin mengikutsertakan merekadalam pertandingan pacuan. Sebagian waktu bersantainya dulu digunakan untuk jalan-jalan di kota Yogya menggunakan kuda.

Dalam Poem of Blood, Ugo menampilkan instalasi potongan tubuh kuda yang sudah diawetkan. Ada pula instalasi sejumlah tubuh kuda yang menggantung yang nampak seperti daging kuda yang dijajakan di pasar tradisional. Selain itu ada pula video yang menampilkan gerak kuda, dan lukisan-lukisan tubuh kuda yang tidak utuh dan lebih nampak seperti arwah kuda yang digambar dalam warna-warna gelap seperti biru tua dan hitam.

Kolektor seni Oei Hong Djien bilang bahwa pameran tersebut gila dan terlalu ekstrem. “Dia bisa digugat para pecinta lingkungan kalau begini caranya. Tapi ya saya rasa ini estetika seni Ugo,” katanya.

Kenyataannya tidak ada aktivis yang menggugatnya. Dan komentar dari para pengunjung pameran adalah kata-kata seperti : “Sadis”, “Ugo banget”, “Kesakitan Ugo”, dan respons gestur menggelengkan kepala.

Tentang Imajinasi

Pameran Rindu Lukisan Merasuk di Badan tidak mengundang komentar serupa. “Aku tidak ingin menyampaikan pesan apa-apa dalam pameran ini,” kata Ugo santai.

Ia boleh jadi hanya ingin merayakan hidup santai, mewujudkan impian masa SMU, hidup ‘nggembel’ di daerah seniman Jogja di Malioboro. Aku tidak suka berpikir yang susah-susah. Ruang kelas membuatku gelisah.”

Tapi ia akhirnya kuliah seni--setelah ayahnya, yang bekerja sebagai guru, melempar kepalanya dengan koran dan menyuruhnya melanjutkan sekolah. Tadinya ia pikir kurikulum sekolah seni hanya menggambar--sayangnya tidak dan ia lulus delapan tahun kemudian.

Ugo pernah jadi mahasiswa yang berdemo saat sebuah panggung seni di Malioboro, tempat kongkownya, hendak dihancurkan pada pertengahan 1990-an. Kelak tempat itu memang benar-benar diratakan dengan tanah.

Ia tak mau mengikuti aliran lukis tertentu yang tertera di buku-buku teori seni. Ia juga enggan membuat karya bertema sosial politik. “Aku enggak bisa.” Ugo hanya mau mengikuti imajinasi pribadinya, yang salah satunya terbangun setelah dari komik dan sastra.

Ganes TH, Jan Mintaraga, Teguh Santosa, Knut Hamsun, Omi Intan Naomi, dan Sapardi Djoko Damono adalah rombongan penulis favoritnya.

Ugo bukan orang yang banyak bicara dan artikulatif. Untuk tahu persis apa yang ada di kepalanya orang mesti menghabiskan waktu berhari-hari atau bertahun-tahun dengannya atau bicara dengan sejumlah kawan yang selalu punya beragam pemaknaan tentang Ugo.

Bagi seniman Wok The Rock, meski nyentrik, karya-karya Ugo mengandung perspektif kritis.

Di mata Hendro, karya yang tanpa pesan tidak berarti buruk atau jelek.

Ugo boleh jadi lahir dengan bakat dan selera seni yang baik. Jangan lupa, pada masanya Ugo adalah anak kecil yang gemar memenuhi kamar dengan laba-laba dan berimajinasi bisa jadi Spider-Man setelah mendapat gigitan hewan itu.

Baca juga artikel terkait PAMERAN SENI atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight