Hukum Keluar Cairan Bening dari Kemaluan Saat Puasa, Batal Tidak?

Kontributor: Syamsul Dwi Maarif, tirto.id - 24 Mar 2022 09:20 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Hukum keluar cairan bening dari kemaluan (madzi) saat puasa Ramadhan, puasanya batal atau tidak?
tirto.id - Hukum keluarnya cairan bening dari kemaluan (madzi) saat berpuasa Ramadhan tidak membatalkan puasa tersebut. Akan tetapi, perilaku sengaja yang menyebabkan madzi keluar sebaiknya ditinggalkan ketika sedang berpuasa, karena mengurangi nilai dari ibadah wajib tersebut.

Puasa secara istilah sederhana adalah ibadah menahan diri dari segala hal yang membatalkanya, termasuk makan, minum, dan berhubungan badan antara suami-istri dari terbitnya fajar shidiq (waktu subuh) hingga terbenamnya matahari (waktu maghrib).

Lantas, bagaimana hukum keluarnya madzi atau cairan bening pada orang yang sedang berpuasa?

Madzi adalah cairan bening yang keluar dari kemaluan dengan tekstur tidak terlalu kental, tidak berbau, dan keluarnya tidak memancar. Madzi ini berbeda dengan mani yang keluar melalui proses inzal. Madzi ini mirip seperti air kencing atau sesuatu lain yang keluar.

Para ulama bersepakat jika hukum dari madzi najis. Namun, cara menyucikannya cukup dengan membersihkan dengan air dan berwudhu. Sementara itu, apabila madzi keluar ketika sedang berpuasa, maka hukumnya tidak membatalkan.

Dalam "Keluar Madzi Saat Puasa, Apa Hukumnya?" oleh Amien Nurhakim (NU Online) disebutkan bahwa Syekh Hasan Hitou dalam kitab Fiqh ash-Shiyam menyebutkan, "Jika seorang suami mencium istrinya dan dia sedang berpuasa, kemudian merasa nikmat dan keluar madzi, namun tidak mengeluarkan mani, maka jumhur berpendapat puasanya tidak batal, dan itu adalah pendapat ulama Syafi’iyyah tanpa ada perbedaan di antara mereka."

Syekh Hasan Hitou menyandarkan pendapatnya kepada Ibnu al-Mundzir yang merujuk soal orang yang keluar madzi tidak batal puasanya daripandangan Hasan al-Bashri, asy-Sya’bi, al-Awza’i, Abu Hanifah, hingga Abu Tsaur.

Dalam konteks berhati-hati demi menyempurnakan ibadah puasa, Imam Malik dan Imam Ibn Ishak punya pendapat khusus jika keluarnya madzi karena keadaaanya setelah berciuman dengan istri. Menurut mereka, jika orang tersebut dalam kondisi puasa, ia mesti mengganti puasanya (membayar qadha).


Ibnu Hajar Asqalani dalam kitab Fathul Baari memuat perkataan Imam Malik dan Ibn Ishak tersebut, dengan tulisan, "Hendaknya seseorang mengganti puasa dan membayar kafarat apabila keluar mani. Tetapi apabila yang keluar adalah madzi, maka ia cukup mengganti puasanya tanpa membayar kafarat.”

Imam Ahmad juga memiliki pandangan yang sama seperti Imam Malik dan Ibnu Ishak. Syekh Hasan Hitou masih dari kitab yang sama, Fiqh ash-Shiyam memaparkan perkataan Imam Malik dan Imam Ahmad terkait hukum madzi setelah berciuman ketika sedang berpuasa, yaitu "madzi yang keluar setelah berciuman itu membatalkan puasa.”

Perbedaan pandangan tersebut lahir lebih karena upaya para ulama dalam membantu umat untuk menyempurnakan ibadah puasa. Pendapat yang paling masyhur menurut jumhur ulama adalah: madzi tidak membatalkan puasa. Secara sederhana, madzi keluarnya seperti air kencing dan tidak melalui proses inzal layaknya mani.

Meskipun demikian, puasa semestinya tidak hanya dimaknai sebagai hanya menahan lapar, haus, dan hasrat untuk hubungan badan semata.

Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin Jilid I, memaparkan terdapat 3 tingkatan orang berpuasa. Yang pertama, adalah puasa orang awam. Yang kedua, puasa orang khusus. Lantas, yang terakhir adalah puasa khusus dari khusus. Jenis puasa terakhir adalah puasa dalam level nabi-nabi, orang-orang shiddiq, dan orang-orang muqarrabin.

Puasa orang awam adalah demi untuk mencegah perut dari makan, minum, dan menjaga diri dari godaan syahwat kemaluannya.

Sementara itu, puasa khusus adalah puasa ketika orang yang menjalankannya tidak hanya sekadar menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan badan. Namun, dia juga mempuasakan indera dan alat geraknya dari melakukan berbagai hal yang dilarang. Pendengaran, penglihatan, ucapan, hingga gerak tangan dan kaki diusahakannya agar tidak sampai melakukan tindakan maksiat.

Mencegah perbuatan yang disengaja sehingga tidak keluar madzi akan lebih utama dilakukan, daripada memikirkan bahwa ketika keluar madzi, hal tersebut tidak membatalkan puasa.

Bersikap hati-hati dalam setiap hal ketika berpuasa akan lebih baik. Rasulullah saw bersabda, "Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahalanya selain lapar, dan berapa banyak orang yang salat malam tidak mendapatkan selain begadang". (H.R. Ibnu Majah 1680)

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2022 atau tulisan menarik lainnya Syamsul Dwi Maarif
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Fitra Firdaus

DarkLight