Homeschooling Bisa Menjadi Opsi Menarik, tapi Siapkah Orangtua?

Oleh: Nindias Nur Khalika - 3 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Orangtua harus berkomitmen dan mempunyai peran penting dalam pelaksanaan homeschooling.
tirto.id - Tiga anak yatim-piatu pengidap HIV didesak keluar dari sekolah di Desa Nainggolan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Seperti yang dilaporkan CNN, masyarakat tak setuju mereka berada satu kelas dengan siswa lain sebab khawatir tertular HIV. Tak hanya dilarang sekolah, ketiga anak ODHA tersebut juga diminta untuk meninggalkan Kabupaten Samosir.

Menurut Kompas TV, tiga anak pegidap HIV itu memang bukan warga asli Kabupaten Samosir. Namun, mereka mengenyam pendidikan di daerah tersebut atas izin pemerintah kabupaten. Kini ketiganya berada dalam perlindungan Komite AIDS Gereja Kristen Huria Batak Protestan (HKBP).

VOA Indonesia mengatakan bahwa SS (7), SAS (10), dan HP (11) sebelumnya bersekolah di PAUD dan SD yang terletak di Desa Nainggolan. Baru mengenyam pendidikan sehari, ketiga anak itu lantas dilarang untuk bersekolah oleh masyarakat berdasarkan laporan Kompas TV.

Mediasi antara Komite AIDS HKBP, sekolah, masyarakat Desa Nainggolan, dan Pemerintah Kabupaten Samosir pun dilakukan guna menyelesaikan persoalan di atas. Menurut VOA Indonesia, hasil mediasi menyarankan agar ketiga anak ODHA menjalani homeschooling atau sekolahrumah. Namun, HKBP tak menyetujui hal ini sebab homeschooling dinilai akan membuat mereka semakin merasa terisolasi.


Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan Retno Listyarti, di sisi lain, juga menilai solusi sekolahrumah yang diberikan pada tiga anak pengidap HIV di Desa Nainggolan tidak tepat. Pasalnya, homeschooling membutuhkan pendampingan dan peran orangtua, sementara mereka sudah menjadi yatim piatu.

“Pada homeschooling, orangtua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak, sementara pada sekolah reguler tanggung jawab itu didelegasikan kepada guru dan sistem sekolah. Ketiga anak tersebut sudah tidak memiliki orangtua, lalu siapa yang akan bertanggung jawab atas proses pendidikan anak tersebut di tempat tinggalnya nanti,” kata Retno dalam rilis pers KPAI.

Di Indonesia, UNAIDS mencatat ada 2.500 anak usia 0 hingga 14 tahun yang hidup dengan HIV pada tahun 2005. Angka ini meningkat pada tahun 2010 menjadi 7.100 jiwa dan tahun 2017 jumlahnya mencapai 14.000 orang.

Homeschooling dan Peran Orangtua

Wiwin Herwina dalam “Penerapan Homeschooling sebagai Model Pendidikan Alternatif bagi Masyarakat Perdesaan” (2016; 9) menjelaskan homeschooling adalah model pendidikan di mana keluarga memilih bertanggung jawab atas pendidikan anaknya. Selain itu, dosen Prodi Pendidikan Luar Sekolah Universitas Siliwangi tersebut juga mengatakan bahwa homeschooling menjadikan rumah sebagai basis pelaksanaan proses belajar mengajar.

Ada dua hal yang penting dalam pendidikan homeschooling menurut Wiwin yang ia kutip dari Marsha Ransom, penulis buku The Complete Idiot’s Guide to Homeschooling. Pertama, sebagian besar pelaksana homeschooling melakukan aktivitas belajar di rumah dengan “membeli” kurikulum yang telah terstruktur. Kedua, orangtua dan anak bertanggung jawab terhadap pendidikan dan proses belajar. Mereka memutuskan hal-hal seperti apa yang akan dipelajari dan waktu juga bagaimana cara belajar.

Terkait peran orangtua selama homeschooling, penelitian yang dilakukan oleh Dan Carpenter dan Courtney Gann yang bertajuk “Educational Activities and the Role of the Parent in Homeschool Families with High School Students” (2015) menyebutkan bahwa orangtua lebih sering berlaku sebagai fasilitator atau pengatur aktivitas pendidikan anak. Mereka, menurut Carpenter dan Gann, tidak berperan banyak sebagai pemberi instruksi langsung ketika kelas dalam konteks homeschooling.


Kesimpulan ini didapat usai Carpenter dan Gann melakukan riset dengan metode studi kasus terhadap tiga keluarga dengan anak usia SMA yang menjalani sekolahrumah komunitas di negara bagian selatan Amerika Serikat. Mereka lantas menemukan bahwa para ibu berperan sebagai orangtua sekaligus guru. Namun, guru yang dimaksud di sini lebih mengarah pada peranan pengaturan.

Mereka, lanjut Carpenter dan Gann, lebih sering mencarikan tutor dan kursus yang bisa diikuti oleh sang anak. Para ibu juga kerap mendampingi dan membantu ketika belajar, menulis makalah, dan sebagainya.

Infografik Peran orangtua saat homeschooling


Kepada Tirto, Zia dan Asa, orangtua homeschooler yang tinggal di Yogyakarta, mengatakan bahwa orangtua memang berperan penting ketika anak menjalani sekolahrumah. Orangtua sebagai penanggung jawab homeschooling dalam hal ini bertindak sebagai pendidik maupun manajer aktivitas pendidikan yang dijalani sang anak.

Keduanya lantas menceritakan bahwa anak mereka yang kini berusia empat tahun menjalani homeschooling komunitas yang berlangsung dari hari Senin hingga Jumat pada pukul 8 pagi sampai 11 siang.

“Setelah jam itu mereka bebas untuk belajar untuk kelas kecil dan besar. Ada waktu khusus juga untuk anak-anak menghapal Al-Qur’an,” kata Asa kepada Tirto. Orang yang berperan sebagai guru saat homeschooling komunitas berlangsung adalah para orangtua homeschooler tersebut, kecuali saat membaca kitab suci.

Asa menjelaskan ia dan suami memilih cara itu lantaran sekolah formal tidak bisa mengakomodasi nilai inti keluarga yang dianut.

Core value keluarga kami adalah dakwah dan seni. Itu bisa berjalan dengan homeschooling, kalau di sekolah umum itu tidak. [Jadi] ini pilihan yang didasari bukan karena homeschooling paling bagus tapi paling sesuai dengan core value keluarga,” ujarnya.

Zia mengatakan bahwa homeschooling pada dasarnya tidak menitikberatkan kesiapan anak melainkan orangtua.

“Mengutip Ivan Illich, orangtua yang memilih homeschooling berarti dia sedang membebaskan diri dari sistem pendidikan yang bersifat mengikat. Tapi konsekuensinya ia juga harus punya komitmen. Ini tidak banyak orangtua yang kemudian siap menerima komitmen ini,” jelasnya.

Baca juga artikel terkait HOMESCHOOLING atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Pendidikan)


Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Maulida Sri Handayani