Hikayat Aktivis Lingkungan Berta Caceres

Oleh: Faisal Irfani - 9 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Berta Caceres berdiri di garda terdepan untuk menolak dan melawan pembangunan yang dianggapnya hanya akan membawa sengsara masyarakat.
tirto.id - Perjuangan aktivis lingkungan kerap berujung penangkapan, pidana, kekerasan, hingga tak jarang kematian.

Berta Cáceres, aktivis dari Honduras, adalah salah satu korbannya. Maret 2016, Berta tewas ditembak sekelompok orang bersenjata di kediamannya yang terletak di La Esperanza. Ia dibunuh karena dianggap amat keras menentang proyek pembangunan bendungan. Baginya, pembangunan yang dikerjakan perusahaan bernama DESA itu cuma dipandang merusak lingkungan.


Upaya demi upaya Berta tempuh agar bendungan tak jadi didirikan, sekalipun ia butuh waktu yang lama dan harus bertarung dengan kekuatan besar berwujud korporasi—dan juga negara. Satu bulan sebelum tewas, misalnya, ia sama sekali tak mengendurkan teriakan protes meski tentara dan polisi menekannya. Suaranya begitu lantang.

Namun, Berta dipaksa menyerah dengan cara yang keji. Perlawanannya dibungkam menggunakan timah panas yang membikinnya tewas, dua hari sebelum ia merayakan ulang tahunnya yang ke 45.

Negara dan Korporasi: Dua Musuh Berta


Delapan tahun yang lalu, Kongres Honduras mengeluarkan regulasi yang memberikan kontrak kerja kepada beberapa perusahaan swasta, termasuk DESA untuk membangun lusinan bendungan hidroelektrik di seluruh wilayah Honduras. Empat bendungan di antaranya dikenal dengan nama Bendungan Agua Zarca yang terletak di sepanjang Sungai Gualcarque, Honduras barat yang banyak dihuni masyarakat asli Lenca.

Penolakan pun muncul dari masyarakat Lenca, tak lama usai pemerintah mengumumkan rencana pembangunan tersebut ke publik pada 2011. Mulanya, mereka menolak secara formal lewat audiensi. Namun, upaya mereka tak digubris. Masyarakat yang kecewa akhirnya mengambil cara lain: memblokade jalan dan demonstrasi.

Pada 2013, semua berubah jadi lebih buruk. Mengutip “Dam Violence: The Plan That Killed Berta Cáceres” yang disusun Roxanna Altholz, Jorge E. Molano Rodríguez, Dan Saxon, serta Miguel Ángel Urbina Martínez (2017), konfrontasi dengan polisi yang disertai aksi kekerasan tidak bisa dihindari karena banyak orang-orang Lenca ditangkap tanpa prosedur jelas. Tentara juga bikin situasi makin runyam dengan menembaki kerumunan masyarakat sehingga menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya.

Sejak awal, Berta berdiri di garda terdepan menolak pembangunan bendungan. Bersama LSM yang didirikannya, Dewan Organisasi Pribumi Honduras (Copinh), Berta mengorganisir massa. Aktivisme Berta punya dasar yang kuat: ia lahir sebagai orang Lenca dan oleh karena itu sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga tanah tempat ia dilahirkan agar tak dirusak pembangunan. Sebelum kasus bendungan ini, Berta juga sempat memimpin aksi massa menolak perampasan lahan di Lenca.

Seiring waktu, kencangnya penolakan Berta terhadap proyek bendungan dibarengi pula dengan meningkatnya ancaman yang ditujukan terhadap dirinya. Ia diawasi, diikuti, dikriminalisasi, diteror, dan digambarkan media sebagai orang jahat. Keadaan ini memaksa keluarganya melarikan diri dari Honduras.


Masifnya ancaman yang diarahkan pada Berta dan aktivis lainnya membikin pemerintah Honduras berada di bawah tekanan. Organisasi-organisasi HAM asing menuntut pemerintah mengambil tindakan pencegahan guna menjamin keamanan warga sipilnya. Di lain sisi, eskalasi konflik yang kian mendidih juga memaksa dua penyandang dana proyek bendungan, Sinohydro (perusahaan konstruksi asal Cina) dan Bank Dunia, menarik dukungannya.

Namun, pemerintah Honduras tak bisa mewujudkan hal itu. Nyawa Berta justru hilang oleh peluru yang mendarat di kepalanya.

Dalam keterangannya, sebagaimana ditulis Jonathan Blitzer dalam “The Death of Berta Cáceres” yang dirilis The New Yorker, polisi menyebut Berta tewas karena perampokan, alih-alih pembunuhan berencana. Sementara Presiden Honduras, Juan Orlando Hernandez, mengatakan bahwa kematian Berta adalah “pukulan bagi masyarakat.”

Di balik segala pernyataannya, pemerintah Honduras nyatanya turut mensponsori aksi-aksi kekerasan yang ditujukan kepada aktivis. Seperti ketika pemerintah tidak melakukan tindakan apa pun untuk menghentikan bentrokan antara warga Lenca dan DESA. Para preman yang memukuli, mengintimidasi, dan mengusir penduduk Lenca bahkan diberi perlindungan oleh pasukan federal, yang juga seringkali membubarkan paksa demonstrasi damai.

Pemerintahan Hernandez memang banyak cacat. Sebelum kematian Berta, ia sudah lebih dulu bikin masalah. Pada 2009, saat ia masih menjabat sebagai anggota Kongres dari Partai Konservatif, ia mendukung kudeta militer yang menggulingkan Presiden Manuel Zelaya. Beberapa tahun setelahnya, Hernandez lagi-lagi terlibat dalam aksi penggulingan. Kali ini targetnya ialah empat hakim Mahkamah Agung. Hernandez juga kemudian memimpin upaya penunjukkan jaksa agung baru secara ilegal.

Pada 2013, Hernandez ikut dalam kontestasi pilpres. Partisipasinya pun meninggalkan catatan buruk: ia diduga membeli suara, mengintimidasi, dan membunuh lawan politiknya. Namun, Hernandez tetap menang dan kian brutal kala memimpin jalannya pemerintahan. Honduras, di bawah komando Hernandez, terjerumus ke dalam periode kekerasan dan pelanggaran hukum yang tak pernah terjadi sebelumnya. Klaim perkosaan, serangan terhadap sipil, hingga pembunuhan merupakan hal-hal yang membuntuti rezim Hernandez.

Menangkap Pelaku Sebenarnya

Laporan Global Witness menyebut bahwa selama delapan tahun terakhir, sekitar 123 aktivis lingkungan telah dibunuh di Honduras. Kondisi ini menjadikan Honduras sebagai negara paling berbahaya untuk kehidupan para aktivis. Yang lebih ironis lagi: 98 persen kejahatan dan kekerasan yang ditujukan kepada para aktivis di Honduras tak pernah terselesaikan dengan tuntas.

Langgengnya kekerasan terhadap aktivis lingkungan, seperti yang dialami Berta, adalah gambaran ketika struktur kekuatan tradisional—ekonomi, sosial, dan politik—menjadi alat untuk merepresi mereka yang memperjuangkan perlindungan lingkungan. Faktor tersebut, di lain sisi, juga menimbulkan impunitas bagi para pelaku, membuat pengusutan kasus-kasus kekerasan berjalan di tempat. Aktivis bertumbangan, sementara eksploitasi sumber daya alam jalan terus.

Namun, untuk kasus Berta, cahaya terang perlahan muncul. Akhir November lalu, sebagaimana diwartakan The Guardian, tujuh orang dinyatakan bersalah atas pembunuhan Berta. Pengadilan Honduras menyatakan bahwa pembunuhan diperintahkan oleh para eksekutif DESA. Alasannya: aksi protes Berta membikin proyek pembangunan bendungan seringkali tertunda yang berdampak pada keuangan perusahaan. Eksekutif DESA pun meminta sekelompok pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Berta.

Infografik Berta caceres



Ketujuh pelaku itu antara lain: Sergio Ramón Rodríguez, manajer hubungan masyarakat dan lingkungan DESA; Douglas Geovanny Bustillo, mantan kepala keamanan DESA dan mantan letnan tentara yang dilatih militer AS; Mariano Díaz Chávez, jenderal pasukan khusus yang dilatih AS dan bekerja bersama Bustillo; Henry Javier Hernández, mantan sersan pasukan khusus yang pernah bertugas dengan Díaz; Edwin Rapalo; Edilson Duarte Meza; dan Oscar Torres.

Putusan pengadilan disambut positif oleh keluarga dan rekan-rekan Berta. Akan tetapi, mereka meminta pihak berwenang menemukan dalang di balik semuanya, yang sejauh ini belum ada tanda-tanda bakal ditangkap.

“Hari ini, tidak ada kepuasan atau kebahagiaan. Tetapi, kami senang melihat para pembunuh yang membunuh ibuku hanya karena membela sumber daya alam pada saat dia tidak berdaya ditangkap. Kami tidak ingin membalas dendam karena kami bukan pembunuh seperti mereka, tetapi kami menuntut agar otak di balik pembunuhan itu dibawa ke pengadilan,” kata Olivia Zuniga, putri tertua Berta.

Kita mengingat Berta sebagai aktivis yang gigih menentang eksploitasi lingkungan. Di saat bersamaan, Berta juga mengingatkan kita bahwa perjuangan untuk mempertahankan hak hidup belumlah selesai.

Baca juga artikel terkait ISU LINGKUNGAN atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Hukum)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono
Infografik Instagram