Hari Tanpa Bayangan Maret 2021 & Jadwal 34 Propinsi, Surabaya-DKI

Oleh: Yulaika Ramadhani - 1 Maret 2021
Dibaca Normal 2 menit
Fenomena hari tanpa bayangan akan terjadi di seluruh wilayah Indonesia, berikut jadwal dan penjelasannya dari BMKG.
tirto.id - Hari Tanpa Bayangan atau Kulminasi Utama akan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Hal ini diumumkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam laman resminya.

Fenomena hari tanpa bayangan akan terjadi di wilayah 34 provinsi Indonesia pada hari berbeda-beda. Rata-rata fenomena hari tanpa bayangan akan berlangsung pada pukul 11 sampai dengan 12.30 siang.

Hari tanpa bayangan sebenarnya adalah fenomena tahunan. Oleh karena posisi wilayah Indonesia berada di sekitar ekuator, hari tanpa bayangan biasa terjadi dua kali dalam setahun dan waktunya tidak jauh dari saat Matahari berada di khatulistiwa. Periode September-Oktober 2020 merupakan waktu fenomena hari tanpa bayangan yang kedua pada tahun ini.

Jadwal Hari Tanpa Bayangan di 34 Propinsi dari Banda Aceh, Jakarta, Jogja, hingga Jayapura

Hari Tanpa Bayangan bulan ini, Maret 2021 akan terdi di beberapa wilayah di Indonesia, yaitu di Surabaya pada 1 Maret 2021 pukul 11.41 WIB, Semarang pada 2 Maret 2021 pukul 11.50 WIB, Jakarta Pusat pada 4 Maret 2021 pukul 12.04 WIB, berikut jadwal lengkapnya di 34 propinsi di Indonesia, sebagaimana dikutip dari BMKG:


1. Banda Aceh pada 3 April 2021 pukul 12.42 WIB
2. Medan pada 29 Maret 2021 pukul 12.30 WIB
3. Padang pada 18 Maret 2021 pukul 12.26 WIB
4. Pekanbaru pada 22 Maret 2021 pukul 12.21 WIB
5. Bengkulu pada 11 Maret 2021 pukul 12.20 WIB
6. Jambi pada 16 Maret 2021 pukul 12.14 WIB
7. Tanjung Pinang pada 23 Maret 2021 pukul 12.08 WIB
8. Palembang pada 13 Maret 2021 pukul 12.10 WIB
9. Bandar Lampung pada 6 Maret 2021 pukul 12.10 WIB
10. Pangkal Pinang pada 15 Maret 2021 pukul 12.04 WIB
11. Serang pada 5 Maret 2021 pukul 12.06 WIB
12. Jakarta Pusat pada 4 Maret 2021 pukul 12.04 WIB
13. Bandung pada 3 Maret 2021 pukul 12.01 WIB
14. Semarang pada 2 Maret 2021 pukul 11.50 WIB
15. Yogyakarta pada 28 Februari 2021 pukul 11.51 WIB
16. Surabaya pada 1 Maret 2021 pukul 11.41 WIB
17. Pontianak pada 20 Maret 2021 pukul 11.50 WIB
18. Palangkaraya pada 15 Maret 2021 pukul 11.33 WIB
19. Banjarmasin pada 12 Maret 2021 pukul 12.31 Wita
20. Samarinda pada 19 Maret 2021 pukul 12.19 Wita
21. Tanjungsalor pada 27 Maret 2021 pukul 12.15 Wita
22. Denpasar pada 26 Februari 2021 pukul 12.32 Wita
23. Mataram pada 26 Februari 2021 pukul 12.28 Wita
24. Kupang pada 22 Februari 2021 pukul 11.59 Wita
25. Mamuju pada 13 Maret 2021 pukul 12.13 Wita
26. Makassar pada 7 Maret 2021 pukul 12.13 Wita
27. Palu pada 18 Maret 2021 pukul 12.08 Wita
28. Kendari pada 10 Maret 2021 pukul 12.00 Wita
29. Gorontalo pada 22 Maret 2021 pukul 11.54 Wita
30. Manado pada 24 Maret 2021 pukul 11.46 Wita
31. Sofifi pada 22 Maret 2021 pukul 12.36 WIT
32. Ambon pada 11 Maret 2021 pukul 12.37 WIT
33. Manokwari pada 18 Maret 2021 pukul 12.11 WIT
34. Jayapura pada 14 Maret 2021 pada 11.46 WIT


Apa Itu Hari Tanpa Bayangan?

BMKG menjelaskan kulminasi atau transit atau istiwa' adalah fenomena ketika Matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. Saat deklinasi Matahari sama dengan lintang pengamat, fenomenanya disebut sebagai Kulminasi Utama.

Pada saat itu, Matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat "menghilang", karena bertumpuk dengan benda itu sendiri.

Karena itu, hari saat terjadinya kulminasi utama dikenal juga sebagai hari tanpa bayangan.

Fenomena hari tanpa bayangan itu dapat terjadi karena bidang ekuator bumi (bidang rotasi bumi) tidak tepat berimpit dengan bidang ekliptika (bidang revolusi bumi). Kondisi inilah yang membuat posisi Matahari akan terlihat dari Bumi terus berubah sepanjang tahun, antara 23,5 derajat Lintang Utara sampai dengan 23,5 derajat Lintang Selatan.

Posisi matahari yang tampak terus berubah dari utara ke selatan bumi dalam periode satu tahun itu disebut gerak semu harian Matahari. Disebut "gerak semu" karena yang sebenarnya bergerak dan berubah posisi bukan matahari, melainkan bumi.

Fenomena hari tanpa bayangan pernah dimanfaatkan oleh seorang ilmuwan Yunani, Erastothenes yang hidup pada abad ke-3 sebelum masehi untuk menghitung keliling bumi.


Baca juga artikel terkait HARI TANPA BAYANGAN atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Agung DH
DarkLight