Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei dan Sejarah Berdirinya Budi Oetomo

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 20 Mei 2020
Dibaca Normal 1 menit
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati tiap 20 Mei di Indonesia.
tirto.id - Hari Kebangkitan Nasional diperingati setiap tanggal 20 Mei oleh bangsa Indonesia. Tanggal tersebut merupakan hari berdirinya Boedi Oetomo (B0) pada 20 Mei 1908. BO adalah salah satu organisasi awal di Hindia Belanda (Indonesia) yang menyuarakan nasionalisme.

Menurut B.J.O. Schrieke seperti dikutip Akira Nagazumi dalam Bangkitnya Nasionalisme Indonesia, Budi Utomo 1908-1918 (1989), BO sebenarnya merupakan perkumpulan cendekiawan Jawa dan memiliki ikatan kuat dengan kebudayaan Jawa (hlm. 230-231).

Berdasarkan catatan yang dikumpulkan Nagazumi, BO pada dasarnya didirikan di bawah filosofi dan kebudayaan Jawa dengan mengikuti garis-garis modern dari Barat atau Eropa.

Masih di buku yang sama, ia memaparkan dominasi orang Jawa dalam daftar siswa STOVIA (sekolah dokter Jawa yang didirikan pemerintah kolonial) yang berpartisipasi dalam kegiatan pembentukan organisasi ini.

Boedi Oetomo merupakan nama yang diusulkan Soeradji, kawan sekelas Soetomo yang juga menghadiri pertemuan dengan Wahidin.

Imam Supardi dalam Dr. Soetomo: Riwayat Hidup dan Perjuangannya (1951: 28) memaparkan, nama itu terbersit di benak Soeradji ketika menyaksikan Wahidin berpamitan untuk meneruskan perjalanannya ke Banten.

Dalam suasana itu, Soetomo dengan mata berbinar memuji tekad seniornya itu sebagai sebuah “budi utomo”.

BO kemudian dipandang sebagai salah satu dampak keberhasilan politik etis di tanah Jawa. Tidak seperti organisasi pribumi lainnya yang memilih jalur radikal, BO yang moderat-progresif tidak mendapat suatu kesulitan apapun sejak didirikan.

Belum genap satu tahun berdiri, perkumpulan ini sudah mendapat pengakuan dari Gubernur Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz dan berhak berdiri di hadapan pengadilan Hindia Belanda dalam kedudukan yang sama dengan seorang sipil Eropa.

BO yang lahir dari gedung asrama mahasiswa STOVIA lebih banyak mendiskusikan persoalan nasionalisme priayi Jawa dan persoalan adat kolot mereka.

Seperti dipaparkan Robert van Niel dalam Munculnya Elit Modern Indonesia (1984: 81), STOVIA memang didirikan pemerintah kolonial untuk memberikan pendidikan lanjutan cara Barat kepada anak-anak priayi rendah.

Priayi rendah, menurut van Niel, adalah kelompok yang paling sering tersisih dalam struktur pemerintahan tradisional Jawa.

Meski posisi mereka semakin tinggi dibandingkan sebelum abad ke-20, ada kalanya anak-anak dari keluarga ini tidak mampu bersaing dengan hak-hak istimewa yang dimiliki priayi tinggi seperti halnya keluarga bupati.


Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2020

Momentum Hari Kebangkitan Nasional 2020, menurut Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB K.H. Maman Imanulhaq bisa dimaknai meraih kebangkitan melawan COVID-19. Apalagi, hari ini juga bertepatan dengan momentum puasa dan Lebaran .

"Ikuti anjuran pemerintah, insyaallah, kita segera akan melewati cobaan ini,” kata Maman Imanulhaq dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (18/5/2020), seperti dikutip Antara News.

Maman mengutarakan, pandemi virus corona ini telah memberi pelajaran penting bagi bangsa Indonesia.

Pertama, untuk menumbuhkan kembali karakter gotong royong dengan solidaritas kebangsaan yang kuat.

Kedua, lanjut Maman, menguatkan pola keberagamaan yang subtansional penuh dengan kasih sayang, toleransi, dan semangat berbagi.

"Kebencian, radikalisme, dan terorisme ternyata bisa kita lawan bersama dengan menyadari bahwa persoalan kemanusiaan kita bukan politik identitas yang menonjolkan perbedaan, melainkan kemiskinan, kebodohan, dan pandemi COVID-19,” jelas Maman.

Poin selanjutkan, kata dia, mendorong pemerintah untuk melayani masyarakat dengan profesional, berbasis data dan koordinatif.

Ketiga poin itulah dinilai menjadi momen bagi bangsa Indonesia pada bulan Ramadan dan Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei.

Baca juga artikel terkait HARI KEBANGKITAN NASIONAL atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Agung DH
DarkLight