Beli Emas

Harga Emas Naik Tinggi, Jangan Langsung Tergiur

Infografik Emas Antam
Petugas menunjukkan sampeli emas batangan di Butik Emas Logam Mulia Mall Ambasador, Jakarta, Senin (24/6/2019). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.
Oleh: Ringkang Gumiwang - 29 Agustus 2019
Dibaca Normal 2 menit
Spekulan punya pengaruh sangat besar terhadap harga emas yang melambung belakangan ini
tirto.id - Malam itu, Adi (35 tahun) tengah asyik mengobrol bersama kawannya di sebuah angkringan di pinggir jalan dekat kantornya. Topik pembicaraan kali ini adalah seputar investasi emas, yang memang sedang hangat dibicarakan karena harganya terus merangkak naik.

“Ini harga emas sedang naik nih. Mungkin sudah waktunya beli. Sampai sekarang, simpanan emas-ku cuma 1 gram. Enggak naik-naik,” katanya sembari sesekali menyuruput es teh manis di depannya.

Kawannya membalas, “Memang sekarang harganya berapa? Saya juga punya [emas] tapi sudah lama enggak beli. Harganya itu loh pelan naiknya.” Tak lama, ia pun mengecek harga emas melalui ponselnya. Kepalanya terlihat mengangguk-angguk.


Emas saat ini memang sedang berkilau. Tiga bulan terakhir ini, harga emas melesat tajam. Dilansir dari harga-emas.org, harga emas Antam per 24 Agustus 2019 mencapai Rp766.500 per gram naik 15 persen dari harga per 2 Juni 2019 sebesar Rp665.000 per gram.

Sebelum itu, pergerakan harga emas relatif stagnan. Harga emas Antam per 23 Agustus 2018 hanya sebesar Rp655.000 per gram. Apabila ditarik sampai dengan 2 Juni 2019, kenaikannya hanya sekitar 1,5 persen.

Bukan tanpa sebab harga emas mulai merangkak naik. Gejolak ekonomi global yang belum menentu, bahkan cenderung memburuk membuat para investor melirik emas sebagai safe haven atau aset investasi berisiko rendah. Menteri Keuangan Sri Mulyani juga mengakui bahwa emas kerap menjadi pilihan investor di kala ketidakpastian ekonomi global saat ini.

Tren harga emas yang merangkak naik pun diyakini masih akan berlanjut. Pasalnya, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina tampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat ini. Apalagi AS bahkan diproyeksikan sedang di ambang resesi. Proyeksi itu membuat investor untuk sementara menjauh dari aset-aset yang berisiko, dan memilih investasi yang aman seperti emas.

Dijepit Krisis dan Spekulasi


Saat perang dagang memanas pada akhir pekan lalu, harga emas langsung melejit. Seperti diketahui, pada akhir pekan lalu, Amerika Serikat dan Cina saling berbalas mengenakan tarif atas barang-barang impor. Investor khawatir perang dagang akan semakin memanas dan mengancam perekonomian dunia. Akibatnya, pada Senin (26/8), pasar saham mengalami kejatuhan. Sementara harga emas tercatat naik hingga 2 persen di kisaran $1.1537,70 per troy ounce.

Harga emas memang selalu memiliki relasi dengan kondisi perekonomian. Saat ekonomi tidak kondusif, investor akan cenderung menghindari aset-aset yang berisiko dan memburu aset-aset yang lebih aman. Sebaliknya, saat ekonomi sedang relatif baik, maka investor akan berani untuk memburu aset-aset berisiko dengan harapan bisa mendapatkan imbal hasil lebih tinggi. Dalam kondisi ini, investor cenderung lebih memilih produk investasi di luar emas di mana lebih menguntungkan, seperti saham, obligasi atau properti.



Setidaknya ada tiga alasan emas baru dipilih manakala ekonomi sedang tidak menentu atau terdapat gejolak geopolitik. Pertama, nilai emas tetap terjaga meski terjadi inflasi atau deflasi.

Kedua, nilai emas tetap terjaga meski terjadi krisis ekonomi atau perang. Ketiga, permintaan akan emas tidak berkurang seiring dengan ketersediaan emas yang terbatas. Tak heran, pamor emas umumnya melejit ketika sedang krisis.



Namun demikian, para pemburu emas tetap harus waspada karena kondisi ekonomi yang tidak stabil bisa dimanfaatkan oleh para spekulator. Peran spekulator dalam mengerek harga emas disebutkan oleh Aylin Erdogdu, akademikus dari Istanbul Arel University dalam papernya yang berjudul “The Most Significant Factors Influencing the Price of Gold: An Empirical Analysis of the US Market” (2017).

Ia menilai indikator makro ekonomi seperti dolar AS, inflasi, harga minyak, Dow Jones Index memang memiliki peran memengaruhi harga emas. Namun, spekulan memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap pembentukan harga emas itu.


Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi tidak menampik ada peran spekulan dalam mengerek harga emas akhir-akhir ini. Hal itu terlihat dari harga emas yang saat ini dinilainya sudah terlampau tinggi.

“Masyarakat harus hati-hati. Spekulan memang sedang bermain terlihat dari harga emas yang tumbuh tidak wajar ini. Harga yang naik sangat tinggi bisa berubah arah menjadi turun sangat dalam,” tuturnya kepada Tirto.

Besaran harga emas jika turun drastis yang dimaksud Ibrahim adalah harga emas yang bisa menyentuh ke angka terendah US$1.100 per troy ounce sejak 2005. Adapun, harga emas saat ini sebesar US$1.541 per troy ounce.

Meski begitu, ia memperkirakan tren kenaikan emas masih akan berlanjut, setidaknya sampai dengan September 2019, menunggu keputusan The Fed atau Bank Sentral AS terkait turun tidaknya suku bunga acuan.


Apabila Bank Sentral AS kembali menurunkan suku bunga, maka tren kenaikan harga emas masih berlanjut. Adapun, faktor global lainnya seperti kelanjutan perang dagang AS-China dan geopolitik di Timur Tengah dan Semenanjung Korea juga menjadi perhatian.

“Kondisi ekonomi global saat ini memang sedang tidak menentu, terutama AS sehingga emas menjadi pilihan untuk menjaga nilai kekayaan. Kita bisa mencari untung dari tren ini, namun tentu dengan perhitungan yang matang,” jelas Ibrahim.

Baca juga artikel terkait HARGA EMAS atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight