Menuju konten utama

Hanung Bramantyo Tertarik Memfilmkan Keempat Novel Tetralogi Buru

Hanung mengaku seorang Pramis: sudah membaca karya-karya Pram sejak 1990-an. Begini pendapatnya soal polemik film Bumi Manusia.

Hanung Bramantyo Tertarik Memfilmkan Keempat Novel Tetralogi Buru
Para pemain, sutradara dan produser film Bumi Manusia dan Perburuan beserta anak dan cucu Pramodya Ananta Toer dalam peluncuran trailer film di XXI Epicentrum, Jakarta, Kamis (4/7/2019). tirto.id/Akhmad Muawal H.

tirto.id - Sutradara Hanung Bramantyo mengaku tertarik untuk memfilmkan tidak hanya Bumi Manusia yang diangkat dari novel pertama Tetralogi Buru karya Pramodya Ananta Toer, tapi juga ketiga novel lanjutannya, yakni Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

“Tapi semua tergantung Bu Erica (Frederica, produser Falcon Pictures). Semua tergantung respons penonton,” kata Hanung dalam acara peluncuran trailer film Bumi Manusia di XXI Epicentrum, Jakarta, pada Kamis (4/7/2019).

Fredrica bersepakat. Menurutnya proyek-proyek lanjutan memang harus mempertimbangkan respon penonton terhadap film yang akan dirilis pada tanggal 15 Agustus 2019 itu.

“Untuk Bumi Manusia, we did our best. Tinggal penonton gimana. Kemungkinan (memfilmkan ketiga novel lanjutan) pasti ada,” imbuhnya.

Trailer Bumi Manusia berdurasi sekitar tiga menit. Tokoh utama Minke, seorang pelajar pribumi, diperankan Iqbal Ramadhan yang tampil dalam busana Jawa. Latarnya di Wonokromo, Surabaya, pada awal abad ke-20.

Iqbal beradu akting dengan Mawar Eva de Jongh yang memerankan Annelies, gadis blasteran Indonesia-Belanda. Ibu Annelies bernama Nyai Ontosoroh, diperankan oleh Ine Febriyanti, sebagai perempuan pribumi gundik Tuan Mellema.

Ceritanya berkutat pada usaha mempertahankan hubungan Iqbal dan Annelies selepas kematian Tuan Millema. Sesuai cerita pada novelnya, film turut dibumbui kegelisahan Minke terhadap kultur feodal Jawa hingga rasa kagum pada keberanian dan kecerdasan Nyai Ontosoroh.

Sejak masa pra-produksi proyek film menuai konroversi mulai dari pemilihan Iqbal sebagai Minke, kekhawatiran film akan terlalu fokus pada percintaan Minke-Annelies, dan lain sebagainya. Polemik ini ramai diperbincangkan terutama di kalangan pecinta karya-karya Pram.

Menanggapi hal ini, Hanung mengatakan dirinya curiga bahwa orang-orang membayangkan Iqbal akan memerankan Minke hingga proyek film keempat—jika betul-betul direalisasikan.

Padahal, katanya, pemeran film bisa berubah sesuai kecocokan cerita. Tidak hanya untuk karakter Minke yang makin dewasa pada novel-novel kedua hingga keempat, tapi juga pemeran lain.

“Apalagi di Jejak Langkah, saat ngomongin pergerakan nasional,” katanya.

Hanung mengakui sebagai seorang Pramis. Pertama kali ia membaca Perburuan—novel pertama Pram yang juga diproduksi oleh Falcon Pictures. Film Perburuan dibintangi oleh Adipati Dolken dan Ayushita, serta akan dirilis bersamaan pada 15 Agustus mendatang.

Awalnya Hanung merasa tidak netral selama membaca buku-buku Pram sebab dipengaruhi oleh reputasi Pram sebagai salah satu musuh rezim Orde Baru, pernah dipenjara di Pulau Buru, sampai digemari oleh para aktivis “rebel” pada era 1980-an dan 1990-an.

“Saya lalu baca lagi pasca Orba jatuh. Saya mengalami sensasi yang berbeda. Betul-betul membaca karya sastra, bisa menganalisa secara lebih jernih, bisa kritis, tidak mengkultuskan lagi. Apalagi saya kan sudah pernah ditawari untuk menyutradarai film ini pada masa setelah rilis Ayat-Ayat CInta (2008).”

Hanung berpesan kepada penggemar karya Pram untuk membaca lagi Bumi Manusia. “Kalau perlu diurai,” ujarnya. Tujuannya, jelas Hanung, agar para pembaca menemukan metafor dan nilai-nilai yang akan menyadarkan bahwa buku tersebut adalah novel fiksi.

“Kalo ini karya fiksi, boleh dong kami berkreasi untuk membuat versi fiksi lainnya. Tapi tetap menggunakan riset sejarah yang betul. Bahwa misalnya, kejawaannya film ini gaya Surabaya, bukan Solo atau Jogja,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait BUMI MANUSIA atau tulisan lainnya dari Akhmad Muawal Hasan

tirto.id - Film
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Akhmad Muawal Hasan