Bukan Hanya Minke: Ensiklopedi Karakter Bumi Manusia

Oleh: Muhidin M Dahlan - 31 Mei 2018
Dibaca Normal 9 menit
Selain Minke, Ontosoroh dan Annelies, setidaknya terdapat 22 karakter lain yang ditampilkan Pramoedya dalam Bumi Manusia.
tirto.id - Bumi Manusia bukan hanya Minke yang menjalankan seluruh plot dengan berperan sebagai “aku”. Juga bukan hanya Annelies si bunga akhir abad yang tak banyak bicara itu. Pun tak hanya Sanikem alias Nyai Ontosoroh yang menjadi mentor informal si siswa H.B.S. yang berprestasi itu.

Masih ada yang lain-lain. Mereka adalah pendukung tiga tokoh utama tersebut. Lebih kurang ada 22 jumlah karakter lainnya. Tokoh-tokoh itu yang turut menjalankan cerita Bumi Manusia. Saya rangkumkan tokoh-tokoh ciptaan Pramoedya Ananta Toer tersebut. Sebut saja ini “Ensiklopedia Bumi Manusia”.

Bayangkanlah, tokoh-tokoh ini hidup di alam visual dan beradu peran lewat olah pikir dan komando sutradara Hanung Bramantyo lewat empat bahasa sekaligus: Melayu, Jawa, Belanda, dan Perancis.

Cuplikan nama berikut wataknya disusun berdasarkan hukum ensiklopedia, alfabetis. Beberapa bentuk penulisan mengikuti corak Pramoedya Ananta Toer di roman Bumi Manusia.

Khusus biografi siapa dan bagaimana itu Minke, biar Iqbaal Ramadhan saja yang membeberkannya. “Dia cerdas,” kata Hanung Bramantyo. Biografi Ontosoroh, biarlah Sha Ine Febriyanti yang mengisahkannya ke jurnalis-jurnalis Android. Biografi Annelies, biarlah Mawar Eva de Jongh yang menceritakannya dengan penuh wkwkwk di Instagram Story-nya.

Kita mulai dari alfabet “B”.

Babah Ah Tjong

Pemilik rumah plesiran atau suhian (rumah bordil) yang terletak di Jalan Surabaya, tak jauh dari rumah Nyai Ontosoroh. Rumah bordil itu besar dan panjang dilihat dari luar. Di bagian belakang masih ada paviliun panjang. Dikitari taman dengan pepohonan buah dan bunga-bungaan. Semua terawat baik. Di mana-mana kelihatan bangku kayu, tebal, berat, dan bercat hitam. Menurut Darsam, bapak-anak, yakni Mellema dan Robert, sangat sering ke rumah bordil Babah Ah Tjong ini.

Di rumah bordil inilah Mellema, suami Nyai Ontosoroh, mati terkapar. Babah Ah Tjong punya banyak sundal. Atas kematian Mellema ini, Babah dihadapkan ke "Pengadilan Putih" karena tuduhan connexiteit (persekongkolan). Mellema ia racun dengan ramuan Tionghoa. Motifnya: Babah bosan dengan langganannya satu ini, Mellema, yang tak pernah minggat selama lima tahun di rumah bordilnya. Babah dikenakan tahanan sementara.

Darsam

Lelaki Madura. Berumur mendekati empatpuluh tahun. Tingginya 160 cm, dengan kumis baplang hitam kelam dan tebal. Ia adalah tangan kanan dan orang kepercayaan Nyai Ontosoroh. Temperamennya tinggi. Ia siap membabat siapa saja yang dianggap musuh majikannya dengan parang yang selalu terselip di pinggangnya. Meski begitu Darsam adalah orang yang loyal dan setia, bukan saja kepada Nyai Ontosoroh, tapi juga bayangkara keselamatan Annelies dan Minke.

Herbert de la Croix

Asisten Residen Kota B. Meski Eropa totok ia tidak berwatak kolonial. Ia justru merasa iba melihat Hindia Belanda dan Jawa khususnya yang sudah demikian dalam kejatuhannya. Ia menaruh perhatian besar pada pribumi terpelajar dan berharap kaum ini bisa menjadi perintis untuk kemajuan bangsa Hindia Belanda. Ia pernah mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk membantu Minke melanjutkan sekolah ke Nederland, tapi ditolak. Ketika Minke mendapat perkara di pengadilan, Herbert de la Croix mengirim seorang juris/advokat untuk membantu Minke. Bahkan, ia menilgram Gubernur Jendral menyatakan akan mengundurkan diri jika keputusan Pengadilan Amsterdam tetap dilaksanakan. Dan, akhirnya ia pun mengundurkan diri dan kembali ke Eropa bersama anak perempuannya, Miriam.

Herman Mellema

Hartawan besar tinggal di Wonokromo. Mengambil istri seorang bumiputera. Dari sana lahir seorang anak laki-laki bernama Robert Mellema dan seorang anak perempuan bernama Annelies.

Herman Mellema adalah laki-laki yang pandai dan baik hati. Ia mendidik istrinya, yang sebelumnya hanya gadis desa yang bahkan tidak bisa berbahasa Melayu, menjadi wanita pandai layaknya seorang wanita Eropa terpelajar. Herman Mellema hidup senang dan berbahagia hingga suatu saat kepribadiannya kacau bahkan hilang akal karena kedatangan anak laki-lakinya dari istrinya terdahulu di Nederland.

Herman Mellema yang “setengah gila” kemudian terjerembab di rumah bordil milik Babah Ah Tjong di sebelah rumahnya. Babah Ah Tjong yang “merawat” Herman Mellema hingga akhirnya meninggal dengan tragis. Ia meninggal akibat racun dosis kecil yang diberikan terus-menerus pada minuman keras yang diminumnya tiap hari. Kasus skandal pembunuhan Herman Mellema memenuhi berita seluruh koran di Hindia Belanda. Bahkan, sebuah koran lelang berubah menjadi koran harian akibat “berkah” berita Herman Mellema ini.

Ibunda

Ibu Minke, seorang yang penyabar dan bijaksana. Istri bupati B. Ia adalah wanita Jawa yang memiliki semacam kebijaksanaan yang merupakan perpaduan dari pengetahuan/kebudayaan Jawa dan pengalaman hidup. Tidak pernah memarahi Minke. Dia selalu merestui anaknya asalkan berani memikul akibat dan tanggung jawabnya, tidak lari seperti kriminil. Banyak kata-kata mutiaranya yang terpatri dalam diri Minke. Percakapan antara Minke dan Ibunda, saat sang anak pulang untuk menghadiri pelantikan ayahnya sebagai bupati, menjadi salah satu dialog yang bergema panjang di pikiran pembaca.

Jan Dapperste alias Panji Darman

Teman sekelas Minke di Hogere Burger School (H.B.S.). Bukan Indo, juga bukan Belanda, seorang pribumi yang diambil anak angkat oleh keluarga Belanda. Ia sangat mengagumi Minke. Ia rajin belajar, biar begitu nilainya selalu di bawah Minke. Sejak kecil dikenal penakut. Uang sakunya setiap hari diberi oleh Minke. Jan Dapperste yang selalu menyampaikan sasus tentang Minke di H.B.S. kepada Minke, tentang segala kejahatan Robert Suurhof kepada Minke.

Jan Dapperste adalah anak pungut keluarga pendeta Dapperste yang tak punya anak. Ia dipungut mereka sejak kecil, dibaptiskan dan ditambahkan nama keluarga mereka, Dapperste, pada namanya. Sejak itu ia bernama Jan Dapperste. Nama sebelum itu ia tak tahu. Tuan pendeta telah berusaha mengambilnya sebagi anak adopsi melalui pengadilan. Usahanya tak pernah berhasil, karena hukum perdata Belanda tidak mengenal adopsi. Maka namanya tinggal hanya nama yang diakui hanya oleh masyarakat, tidak oleh hukum. Sejak kecil ia dikenal penakut. Dan ia tak pernah merasa senang bernama Dapperste (Dapperste dalam bahasa Belanda berarti yang terberani). Bahkan, orang mengubah Dapperste menjadi Lafste—Jan de Lafste (Lafste dalam Bahasa Belanda berti yang terpengecut). Ia juga tak ingin meninggalkan Jawa.

Setelah Jan lulus sekolah H.B.S., keluarga pendeta Dapperste bermaksud membawa Jan ke Suriname, Belanda. Jan Dapperste yang penakut nekat menceburkan diri ke laut, berenang kembali ke Jawa.

Dengan bantuan Minke akhirnya Jan Dapperste menerima surat ketetapan Gubernur Jenderal melalui Residen Surabaya. Sekarang namanya: Panji Darman. Ia mulai terbebas dari nama Dapperste yang terbenci itu. Lambat laun pribadinya memang berubah ke arah sebagaimana ia kehendaki. Ia menjadi periang, suka bekerja, dan hatinya terbuka. Pada mulanya ia membantu Nyai Ontosoroh di kantor, kemudian dipindahkan ke kantor Tuan Doornenbosch mengurus perusahaan rempah-rempah.

Saat Annelies dipaksa oleh hukum kolonial untuk dibawa ke Belanda, Panji Darman inilah yang ditugaskan oleh Ontosoroh untuk mengawal dan menjaga, serta melaporkan keadaan "Si Bunga Penutup Abad", melalui surat-surat.

Jean Marais

Sahabat Minke,tinggal di Surabaya. Jika Minke dalam masalah atau kesulitan, Jean Marais adalah orang pertama tempat curahan hatinya. Banyak “petuah-petuah” Jean Marais mempengaruhi pedalaman Minke.

“Cinta itu indah, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya,” katanya. Ia juga yang mengutarakan: “Cinta itu indah, terlalu indah yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini.” Dia pula pemilik kata-kata ini: “Belajarlah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.” Petuah-petuah itu selalu diingat Minke.

Jean Marais adalah seorang pelukis dari Prancis. Pernah sekolah di Sorbonne. Ia meninggalkan bangku sekolah mengikuti suara hatinya, mencurahkan kekuatan sepenuhnya pada senilukis. Ia mengakui belum pernah berhasil. Kemudian ia tinggal di Quartier Latin di Paris, menjajakan lukisan-lukisannya di pinggir jalan. Karya-karyanya selalu laku, tapi tak pernah menarik perhatian masyarakat dan dunia kritik Paris. Sambil menjajakan lukisan ia mengukir, juga di pinggir jalan itu.

Lima tahun telah berlalu. Ia tak juga mendapat kemajuan. Ia bosan pada lingkungannya, pada gerombolan penonton yang melihat ia membuat patung Afrika atau mengukir, pada Paris, pada masyarakatnya sendiri, pada Eropa. Ia rindukan sesuatu yang baru, yang bisa mengisi kegersangan hidup. Ditinggalkannya Maroko, Libya, Aljazair, dan Mesir. Ia tak juga menemukan sesuatu yang dicarinya dan tidak diketahuinya itu; tidak pernah merasa puas. Ia tetap tak bisa menciptakan lukisan sebagaimana ia impikan. Ia tinggalkan Afrika.

Sampai di Hindia uangnya tumpas. Jalan satu-satunya adalah masuk Kompeni. Ia masuk, mendapat latihan beberapa bulan, dan berangkat ke medan-perang di Aceh. Juga dalam kesatuannya ia tetap hidup dalam dirinya sendiri, hampir-hampir tak punya kontak dengan siapa pun kecuali melalui komando dalam bahasa Belanda. Dan ia segan mempelajari bahasa itu. Jean Marais bertekad melukis sambil menjadi serdadu.


Jean Marais dikirim ke Aceh sebagai Spandri (serdadu kelas satu). Komandan regunya, Kopral Bastian Telinga, seorang Indo-Eropa. Sekiranya ia bukan totok, tak bisa tidak ia akan tinggal menjadi serdadu kelas dua. Mulailah ia hidup diantara serdadu-serdadu Eropa totok seperti dirinya sendiri, yang juga tak tahu Belanda: orang Swiss, Jerman, Swedia, Belgia, Rusia, Hongaria, Romania, Portugis, Spanyol, Italia—hampir semua bangsa Eropa—semua sampah buangan dari kehidupan negeri masing-masing.

Mereka adalah orang-orang putus-asa, atau bandit-bandit pelarian, atau orang yang lari dari tagihan hutang, atau bangkrut karena perjudian dan spekulasi, semua saja petualang. Dan tak ada diantara mereka di bawah Spandri. Serdadu kelas dua hanya pangkat untuk Indo dan Pribumi—dan umumnya orang-orang Jawa dari Purworejo. Orang-orang dari Purworejo adalah orang-orang yang tenang. Kompeni memilih mereka menghadapi bangsa Aceh yang bukan saja pandai menggertak, juga ulet dan keras seperti baja, bangsa perbuatan. Orang-orang berangsangan, terutama dari daerah kapur yang pada awalnya tangguh saja, akan tumpas di Aceh. Pengalaman perang di Aceh mengubah pandangan Jean Marais tentang pribumi. Ternyata kemampuan mereka tinggi, hanya peralatannya rendah; kemampuan berorganisasinya juga tinggi. Sebaliknya, ia juga mengakui kehebatan Belanda dalam memilih tenaga perang.

Jean Marais mulai mencintai dan mengagumi bangsa pribumi yang gagah perwira, berwatak dan berpendirian kuat. Hingga ia mendapatkan seorang wanita yang dulu menjadi musuhnya menjadi wanita yang dicintainya. Dari wanita Aceh itulah Jean mendapat seorang anak perempuan yang amat disayanginya bernama May.

Kommer

Seorang jurnalis peranakan Eropa. Ia begitu mencintai Hindia Belanda lebih-lebih Jawa. Banyak menerjemahkan tulisan-tulisan Belanda dalam Melayu dengan semangat agar dibaca orang Hindia dan untuk kemajuan Hindia Belanda.

Maarten Nijman

Kepala Redaksi S.N.v/d D. sebuah koran berbahasa Belanda di Surabaya yang berada di bawah kepentingan gula. Ia seorang jurnalis profesional sepanjang tidak mengganggu atau mengusik kepentingan gula.

Magda Peters, Juffrouw

Guru Bahasa dan Sastra Belanda H.B.S. Surabaya, guru Minke. Ia sangat lihai berbicara sastra berikut latar belakang psikologi dan sosialnya. Ia berpandangan liberal, menentang segala bentuk pemerasan kolonial. Juffrouw Magda Peters memelopori kegiatan diskusi di sekolah, tempat bertukar pikir siswa dan guru dengan bebas.

Juffrouw Magda Peters begitu bangga mempunyai murid seperti Minke, bumiputera yang pandai menulis dan menuangkan pikirannya dalam bahasa Belanda, bahasa yang bukan bahasa ibunya. Karena Minke, ia merasa berhasil menjadi seorang guru. Pemerintah Hindia, atas desakan beberapa orangtua murid akhirnya memecat Juffrouw Magda Peters sebagi guru dan menganjurkannya meninggalkan Hindia Belanda. Dan akhirnya Juffrouw Magda Peters berlayar ke Nederland dengan kapal Inggris tak lama setelah Minke lulus dan menikah.

Martinet, Dr.

Seorang dokter berumur kira-kira 50-an tahun, dokter keluarga Nyai Ontosoroh. Wajahnya selalu segar kemerahan dan muda. Setiap ucapannya menarik dan berisi. Ia pandai bercerita dan tanpa diketahui mencatat tanggapan orang terhadap ceritanya sebagai bahan untuk mengenal dan memahami pasien. Dr. Martinet adalah dokter yang terampil, seorang sarjana yang tinggi kemanusiaannya, dan juga seorang yang mampu menyuntikkan kekuatan baru. Dia berusaha memahami orang lain—juga mengulurkan tangan penolong—sebagai dokter, sebagai manusia, sebagai guru. Ia seorang sahabat manusia, dan dapat menyatakan persahabatannya melalui banyak cara. Dan setiap cara membikin orang menumpahkan kepercayaan padanya.

Dr. Martinet juga seorang penulis. Ia banyak menulis tentang bidang keilmuannya.

Maurits Mellema, Ir.

Seorang insinyur muda, sarjana bangunan air. Lahir di Nederland dari pasangan Herman Mellema dan Amelia Mellema Hammers.

Dialah titik balik yang menghidupkan Bumi Manusia: sebagai anak sah Herman Mellema secara hukum, karena Ontosoroh hanyalah gundik, ia mengklaim bukan hanya seluruh harta bapaknya melainkan perwalian Annelies. Kedatangan Maurits bukan hanya membuat ayahnya jadi limbung secara kejiwaan, dan terdampar menjadi pelanggan rumah bordil Babah Ah Tjong, melainkan juga membuat Annelies harus pergi ke Belanda, meninggalkan Minke dan Ontosoroh.

May Marais

Gadis kecil yang memanggil Minke dengan sebutan “Oom Minke” ini adalah puteri Jean Marais dan seorang perempuan Aceh. Ia bersekolah di Europeesche Lagere School (E.L.S., setara SD) Simpang, Surabaya. Penyuka layang-layang kepiting ini sudah ditinggal mati ibunya sejak bayi. Si ibu dibunuh oleh saudara laki-lakinya yang malu mempunyai saudara perempuan yang berhubungan dengan si kafir Belanda. Tiap harinya May diantar-jemput Minke ke sekolah.

Meiko

Pelacur yang jadi langganan Robert Mellema. Tarifnya mahal karena dipakai sendiri. Dalam diri Maiko bersembunyi penyakit raja singa alias sipilis. Dituduh menyebarkan penyakit, Maiko bersaksi di pengadilan dengan membela diri bahwa bila langganan tertulari karena dia, bukan karena semata itu kesalahannya.

Robert Mellema

Anak laki-laki pasangan Herman Mellema (Belanda) dan Nyai Ontosoroh (Pribumi). Suka berburu dan sepakbola. Dia benci pada semua dan segala yang serba bumiputera kecuali keenakan yang bisa didapat daripadanya. Menurutnya, tidak ada yang lebih agung daripada jadi orang Eropa dan semua pribumi harus tunduk padanya.

Robert Mellema mau menguasai seluruh perusahaan setelah Herman Mellema “meninggalkan” rumah. Semua orang harus bekerja untuknya termasuk Ontosoroh dan Ann. Tapi ia tak mampu, justru ia yang “terusir” dari rumah karena ketegasan ibunya, Nyai Ontosoroh.


Robert Mellema sempat tinggal di rumah pelesiran Babah Ah Tjong dan dilayani oleh seorang pelacur bernama Meiko yang menderita penyakit raja singa. Robert Mellema kemudian tak diketahui lagi keberadaannya dan dinyatakan hilang.

Ucapan Ontosoroh mendeskripsikan dengan baik siapa Robert: “Kalau betul kau hendak menguasai perusahaan ini dengan baik-baik, belajarlah kau bekerja seperti Annelies. Memerintah pekerjapun kau tak bisa karena kau tak bisa memerintah dirimu sendiri. Memerintah diri sendiri kau tak bisa karena kau tak tahu bekerja.”

Seluruh kerapuhan Annelies tak hanya berasal dari perwatakan bawaan, melainkan juga kelakuan bejat Robert: Ann diperkosa oleh abangnya sendiri.

Infogafik penduduk bumi manusia BAG 1

Infogafik penduduk bumi manusia BAG 2


Robert Suurhorf

Teman sekolah Minke di H.B.S. Surabaya. Ia suka menghina, mengecilkan, melecehkan dan menjahati orang lain, terutama anak-anak bumiputera. Mama Robert seorang Indo dan papanya juga Indo. Sewaktu mamanya hendak melahirkan, ayahnya buru-buru membawanya ke Tanjung Perak, naik ke atas kapal Van Heemsherck yang sedang berlabuh, melahirkan di sana; ia bukan hanya kawula Belanda, ia mendapat kewarganegaraan Belanda.

Robert Suuhorf tidak suka/tertarik dengan gadis-gadis Indo. Ia merasa ia kawula Belanda. Berperilaku seakan-akan warganegara Belanda untuk kepentingan anak cucunya kelak. Dia berharap kelak kedudukan dan gajinya lebih tinggi daripada bumiputera.

Nyatanya, ia tertarik pada Annelies. Tapi, justru Annelies jatuh ke pelukan Minke, sahabat yang ia bawa ke rumah Annelies untuk menjadi saksi kemegahan diri mendapatkan Annelies. Ia begitu cemburu, sakit hati dan dendam pada Minke.

Robert Suurhorf beberapa kali menuliskan surat cinta pada Annelies, tapi tidak satupun yang dibalas oleh Annelies. Pada hari perkawinan Annelies dengan Minke, Robert menghadiahkan cincin berlian asli dua karat yang ia pasangkan langsung di jari Ann. Belakangan diketahui bahwa Robert Suurhorf merampok kuburan Cina dan menjual hasil rampokannya di toko permata. Kejahatan Robert terbongkar, namun polisi gagal menangkapnya karena Robert sudah berlayar ke Nederland.

Sarah dan Miriam de la Croix

Kakak beradik anak perempuan Asisten Residen Kota B. Dua-duanya lulusan H.B.S. Yang bungsu satu sekolah dengan Minke, senior Minke. Dua-duanya juga sangat cerdas dan agresif. Pertemuan pertamanya dengan Minke di rumah mereka, sudah dibuka dengan diskusi yang berat. Kelak, mereka berdua saling berkorespondensi dengan Minke. Mereka berdua, terutama ayah mereka, begitu berharap pada Minke, seorang pribumi terpelajar yang bisa menjadi perintis bagi bangsa Hindia Belanda sendiri.

Sastrotomo

Ayah Sanikem atau Nyai Ontosoroh. Tinggal di Tulangan, Sidoarjo. Berwajah tampan dan berprofesi sebagai jurutulis. Namun, angan-angannya adalah menjadi jurubayar. Baginya, sungguh enak menjadi jurubayar karena semua orang akan menemuinya. Tentu saja itu sulit. Berbagai cara dilakukannya. Termasuk ke dukun dan tirakat. Ia berusaha keras bagaimana mengambil hati Tuan Administratur atau Tuan Besar Kuasa atau Herman Mellema. Jalan itu pun ditempuh. Demi jabatan, ia menyerahkan Sanikem, anaknya, menjadi gundik Mellema.

Telinga, Mevrouw

Istri Kopral Telinga. Seorang yang cerewet dan bawel tapi baik hati. Ia seorang Indo-Eropa yang lebih bimiputera daripada Eropa, tak ada sisa kecantikan, gemuk seperti bantal. Bahasa Belandanya buruk tapi itulah bahasanya sehari-hari, juga bahasa keluarga. Ia tak pernah menginjakkan kaki di halaman sekolah: buta huruf.

Ia wanita mandul. Anak angkatnya seekor anjing gladak jantan, pandai mencuri ikan dari pasar, dua tiga kali dalam sehari, diserahkan pada ibu-angkatnya untuk dipanggangkan. Setelah memakannya ia tidur di tengah pintu, untuk kemudian bangun dan berangkat mencuri lagi. Anak angkat ini tidak menggonggongi orang tak dikenal yang datang, sebaliknya ia pandangi tamu dengan mata berkelap-kelip mengawasi seperti menunggu digonggong terlebih dahulu.

Di rumah keluarga Telinga inilah Minke tinggal sewaktu belajar di H.B.S. Surabaya. Mevrouw Telinga sangat menyayangi Minke. Jika Minke pusing, dia mengompres kepala Minke dengan cuka bawang merah. Ia juga yang memasakkan makanan sesuai dengan keinginan Minke, dengan imbalan uang tentunya.

Nah, itu sederet nama-nama pendukung dan ringkasan karakter serta perannya yang menghidupkan plot roman Bumi Manusia. Silakan berduyun-duyun ikut casting Mas Hanung Bramantyo. Jika semua kuota peran sudah terpenuhi, paling tidak “Ensiklopedia” ini bisa menjadi “buku saku” untuk menonton (atau tidak menonton) film Bumi Manusia jika kelak sudah jadi.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Muhidin M Dahlan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Muhidin M Dahlan
Penulis: Muhidin M Dahlan
Editor: Zen RS
DarkLight