tirto.id - Wisma Atlet Stadion Si Jalak Harupat telah diusulkan menjadi calon lokasi Sekolah Rakyat di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Karena itu, Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), meninjau kondisi tempat tersebut pada Kamis (29/5/2025).
Memiliki kapasitas untuk 184 orang dengan 44 kamar, gedung Wisma Atlet Stadion Si Jalak Harupat dipilih karena bangunannya masih sangat layak dan baru. Gedung ini dinilai cocok untuk menjadi asrama sekaligus ruang belajar bagi para siswa Sekolah Rakyat.
Selain bangunan utama, di kompleks Wisma Atlet Stadion Si Jalak Harupat, terdapat pula gedung terpisah yang bisa dipakai buat ruang kelas, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang guru, dan fasilitas pendukung kegiatan belajar-mengajar lainnya.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bandung, Supardian, menerangkan Wisma Atlet Stadion Si Jalak Harupat dipilih untuk lokasi sementara Sekolah Rakyat di daerahnya. Alasannya agar Sekolah Rakyat bisa lekas beroperasi di Kabupaten Bandung.
"Kami menyiasati waktu [persiapan] yang sempit. Wisma Atlet paling siap dan paling layak. Semua kebutuhan dasar pembelajaran bisa dipenuhi di sini," kata Supardian.
Dia menambahkan, Wisma Atlet Stadion Si Jalak Harupat tidak hanya siap dari segi sarana untuk infrastruktur pendidikan. Wisma Atlet juga mempunyai fasilitas pendukung olahraga seperti lapangan sepak bola, kolam renang, dan arena softball.
Keberadaan berbagai fasilitas olahraga tersebut dapat mendukung kegiatan pengembangan karakter dan kebugaran siswa Sekolah Rakyat.
Supardian juga mengaku telah mengantisipasi potensi tumpang tindih penggunaan Wisma Atlet itu dengan kegiatan keolahragaan. Dia memastikan penggunaan fasilitas yang masih menjadi aset Kementerian PUPR itu untuk Sekolah Rakyat tidak akan mengganggu agenda olahraga yang ada.
"Kalau ada event olahraga besar, para atlet bisa ditempatkan di lokasi lain yang sudah kami siapkan," kata dia.
"Bahkan siswa Sekolah Rakyat bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat yang berolahraga di kawasan ini, terutama saat akhir pekan," ujar Supardian mengimbuhkan.
Selain itu, Pemkab Bandung telah membuat rencana jangka panjang dengan menyiapkan lokasi permanen untuk Sekolah Rakyat. Menurut Supardian, lokasinya berada di Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, dengan luas lahan total mencapai 12,6 hektare.
Saat ini, pembangunan sekolah di lokasi tersebut sedang disiapkan oleh Kementerian Sosial dan Kementerian PUPR, dengan target selesai pada akhir tahun 2025.
Rencananya, Sekolah Rakyat di Desa Lebak Muncang akan menampung hingga 1.000 siswa. Sarana di tempat itu mencakup berbagai fasilitas pendidikan dan pengasuhan yang sesuai dengan standar.
"Lokasi ini [Desa Lebak Muncak] jauh dari kebisingan, cocok untuk sistem boarding school. Insya Allah akan menjadi tempat belajar yang kondusif untuk jenjang SD, SMP, dan SMA," kata dia.
Supardian mengatakan, pendekatan khusus kepada orang tua calon siswa SD juga sedang dilakukan. Hal ini mengingat anak usia dini perlu penyesuaian sebelum hidup terpisah dari keluarga.
Gus Ipul Dialog dengan Orang Tua dan Siswa Sekolah Rakyat
Saat meninjau calon lokasi Sekolah Rakyat di Kabupaten Bandung, Mensos Gus Ipul sempat berdialog dengan orang tua calon siswa Sekolah Rakyat (SR) beserta anak-anak mereka.
Berlangsung hangat, haru, sekaligus penuh semangat, suasana dialog ini menggambarkan besarnya harapan masyarakat terhadap kehadiran Sekolah Rakyat.
Salah satu calon siswa Sekolah Rakyat, Panca Jaelana (13 tahun), membacakan Pancasila dengan percaya diri dan menyampaikan cita-citanya menjadi pemain sepak bola. Adapun Siti Nurfadillah (12 tahun) menyampaikan kegembiraannya bisa bertemu langsung dengan Gus Ipul meski sempat merasa gugup.
Gelak tawa dalam suasana keakraban muncul ketika Gus Ipul menanggapi dengan canda dan dukungan moral kepada Panca dan calon siswa lainnya.
Gus Ipul pun mendengarkan aspirasi dari sejumlah orang tua calon siswa Sekolah Rakyat. Salah satunya adalah ayah dari Panca, Tatang, seorang pekerja harian dengan penghasilan Rp75.000 per hari.
Tatang mengungkapkan harapannya dengan lirih tapi tulus. "Saya ingin anak saya sejajar dengan orang lain," ujar Tatang.
Ucapan syukur atas hadirnya program Sekolah Rakyat juga disampaikan orang tua Rahma Sapitri (12 tahun), calon siswa SR lainnya. "Terima kasih Bapak Prabowo. Anak saya mau sukses aja sekolahnya," katanya.
Laila Sari, ibu dari Kanji Hidayat (13 tahun) asal Marga Asih, juga menyampaikan harapan besar terhadap program Sekolah Rakyat.
"Anak saya ingin jadi pemain bola, dan sekolah sepak bola mahal. Tapi semua ditentukan oleh ketekunan anak. Terima kasih kepada Bapak Mensos dan Bapak Presiden," kata dia.
Merespons harapan Tatang dan para orang tua siswa lainnya, Gus Ipul menegaskan semua pihak harus bergandengan tangan menyukseskan program Sekolah Rakyat. Dia mengajak para orang tua calon siswa berjuang bersama-sama demi masa depan anak-anak mereka.
"Ini kesempatan yang baik dari Presiden. Jangan pernah putus asa dari rahmat Tuhan. Anak-anak ini harus tumbuh menjadi anak-anak tangguh yang kelak berkontribusi dalam Indonesia Emas 2045," ujar Gus Ipul.
Sementara itu, Wakil Bupati Kabupaten Bandung, Ali Syakieb, menyampaikan apresiasinya terhadap kehadiran program Sekolah Rakyat. Dia berharap program ini juga bisa mengubah cara pandang masyarakat terhadap program pengentasan kemiskinan.
"Ini bukan program jangka pendek, ini menyasar manusia dan masa depan mereka," ujar dia.
Dalam acara yang sama, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, turut menegaskan Sekolah Rakyat adalah bentuk investasi jangka panjang.
"Sekolah Rakyat adalah alat menaikkan kapasitas generasi penerus. Ini bukan tugas kedinasan biasa—ini tugas spiritual. Hasilnya baru akan terlihat mulai sekarang sampai 20 tahun ke depan," tegasnya.
Dialog itu menegaskan program Sekolah Rakyat bukan hanya tentang pendidikan formal. Program ini menjadi ikhtiar kolektif negara, pemerintah daerah, serta masyarakat untuk menghadirkan masa depan yang lebih adil, manusiawi, dan penuh harapan bagi anak-anak Indonesia.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id




























