Gundala Tayang, Film Livi Zheng Turun Layar Bioskop. Tak Laku?

Oleh: Fadiyah Alaidrus - 4 September 2019
Dibaca Normal 1 menit
Film Livi Zheng sepi penonton dan dianggap alur ceritanya membingungkan.
tirto.id - Film yang disutradarai Livi Zheng, Bali: Beats of Paradise, tak lagi tayang di bioskop sejak Minggu (1/9/2019). Hanya selisih tiga hari dari dirilisnya Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot yang disutradarai Joko Anwar.

Corporate Communication Cinema 21 Catherine Keng mengatakan, film itu turun layar bukan karena belakangan Livi Zheng sebagai sosok kontroversial yang ramai diperbincangkan. Namun, sebabnya ialah tak laku.

"Beats of Paradise sudah tidak tayang. Pengurangan layar biasanya berdasarkan jumlah penonton," ujarnya kepada reporter Tirto pada Rabu (4/9/2019).

Catherine menjelaskan, sebelumnya film Livi Zheng ditayangkan di 29 lokasi di Indonesia, sejak 22 Agustus lalu. Dia enggan menjelaskan berapa jumlah penonton film itu di Bioskop XXI.

"Enggak bisa, bioskop enggak boleh disclose, harus produser pemilik film," tuturnya.

Kami telah menghubungi Livi Zheng melalui tiga nomor ponsel berbeda untuk mengonfirmasi. Namun, tak ada respons darinya.


Sepi Penonton & Alur Cerita Membingungkan

Diana, perempuan 40 tahun, membeli tiket Bali: Beats of Paradise karena penasaran. Sebab ia sering melihat iklan beberapa pejabat negara yang mempromosikan film tersebut.

"Setiap hari, aku lunch di MKG [Mall Kelapa Gading] dan iklan Bali Beats tayang tiap hari di TV iklan yang ada di Mall tersebut," kisah Diana saat ditanya reporter Tirto, Rabu (4/9/2019).

"Ada tampang Jusuf Kalla, Tito Karnavian, dan lain-lain," lanjutnya.

Akhirnya pada Selasa (27/9/2019), pukul 17.00, Diana memutuskan untuk menonton film itu di Bioskop XXI Plaza Senayan. Dia kaget ternyata film itu sepi penonton.

"Cuma 7 orang yang nonton di bioskop saat tayang hari ke-7 di Plaza Senayan," ujarnya.

Diana mengaku susah menangkap alur cerita film berdurasi sekitar satu jam itu. Menurutnya, plot cerita berlompat-lompat. Terlebih yang membingungkan, kata Diana, mengapa dalam film tentang gamelan muncul adegan Livi dalam film.


Sedangkan Dinda, perempuan 23 tahun, tertarik menonton karena Livi Zheng ramai diperbincangkan di Twitter dan diliput media siber. Pengalaman Dinda serupa dengan Diana.

"Rada bingung [konsep ceritanya]. Soalnya mendadak pindah-pindah, dari gamelan, terus ke Livi," kata Dinda kepada reporter Tirto pada Rabu (4/9/2019).

Dinda memang hobi menonton film, genre apa pun, sehingga saat melihat bioskop hanya diisi tiga orang, dia tak kaget. Namun kelamaan, Dinda merasa aneh dengan alur dan jalan cerita film tersebut.

Mengapa Andalkan Promosi Pejabat?

Menurut kritikus film Adrian Jonathan Pasaribu, suatu film berhenti tayang di bioskop karena ada penghitungan matematis. Biasanya dinilai dari angka penjualan minimal kursi per pemutaran film.

Biasanya untuk hari kerja, di dalam studio minimal terisi 30 persen kursi. Sedangkan untuk akhir pekan, minimal 60 persen.

"Nah, dengan penghitungan seperti itu, sebenarnya mau filmnya mendapatkan pemberitaan buruk atau jelek, pengaruhnya justru lebih ke kursi yang lebih terisi," ujar Adrian kepada reporter Tirto, Rabu (4/9/2019).

Contohnya, kata Adrian, film Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho. Film tersebut, ungkap Jonathan, justru meningkat penjualannya setelah muncul kontroversi akibat dilarang tayang di Depok.

"Orang malah penasaran," ucapnya.


Ini berbeda dengan Livi Zheng yang menurut Adrian, memang belum ada hal yang menjual ke publik. Livi Zheng tak punya fanbase, basis massa, dan penonton. Sebab Livi Zheng memakai beberapa pejabat negara untuk mempromosikan filmnya.

Adrian menjelaskan, setiap sutradara memiliki cara dalam membangun basis penonton tersebut. Misalnya dengan menata jenjang karier mulai dari produksi film pendek, masuk ke festival, lalu komersial.

"Joko Anwar pun begitu awalnya. Lu butuh waktu untuk membangun basis penonton dan Livi tak punya itu," tuturnya.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fadiyah Alaidrus
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Fadiyah Alaidrus
Penulis: Fadiyah Alaidrus
Editor: Widia Primastika
DarkLight