Menuju konten utama

Greenpeace dan Walhi Ungkap Penyebab Curah Hujan Ekstrem

Cuaca ekstrem sebenarnya pernah terjadi pada masa lalu, akan tetapi ini intervalnya makin singkat.

Greenpeace dan Walhi Ungkap Penyebab Curah Hujan Ekstrem
Tim SAR gabungan mengevakuasi warga yang terjebak banjir di perumahan Ciledug Indah 1, Tangerang, Banten, Rabu (1/1/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/aww.

tirto.id - Curah hujan yang ekstrem sebagaimana yang terjadi di kawasan Jabodetabek di awal tahun 2020 ini merupakan salah satu fenomena perubahan iklim akibat pemanasan global.

“Cuaca ekstrem sesungguhnya adalah bagian dari konsekuensi perubahan iklim,” tegas Dewan Eksekutif Nasional Walhi, Khalisah Khalid kepada reporter Tirto, Rabu (1/1/2020).

”Fenomena curah hujan ekstrem yang turun dalam waktu singkat secara saintifik sudah diidentifikasi sebagai salah satu fenomena krisis iklim,” jelas Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak, yang dihubungi terpisah.

Leonard mencontohkan curah hujan di Halim, Jakarta Timur pada 1 Januari yang mencapai 377 mm, yang berarti masuk ekstrem. Menurut BMKG, curah hujan di atas 150 mm sudah masuk dalam kategori ekstrem.

“Dan sebenarnya rata-rata curah hujan normal di Jakarta sekitar 20 mm/hari. Jadi 377 mm dalam waktu kurang dari sehari sudah sangat ekstrem,” ungkapnya.

Leonard menambahkan, cuaca ekstrem semacam ini juga telah terjadi pada masa lampau. Bedanya, ujar Leonard, intervensinya yang semakin singkat.

“Sebenarnya curah hujan ekstrem pada masa lalu juga terjadi, tetapi rentang waktunya panjang, bisa [terjadi sekali dalam waktu] 10, 15 atau bahkan 20 tahun. Masalahnya, karena dampak perubahan iklim, intervalnya sekarang jauh lebih pendek, bisa 2-3 tahun sekali,” jelas Leonard.

“Bahkan kecenderungannya akan menjadi ‘new normal’,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, secara umum elemen-elemen besar yang memengaruhi curah hujan ekstrem adalah angin moonson dari arah timur, seruak udara dingin dari utara, atau sisa-sisa siklon tropis Panfhone di Filipina.

“Magnitudo maupun frekuensinya bisa menguat atau bertambah secara signifikan karena pemanasan global yang menyebabkan temperatur air laut, tanah maupun udara naik. Temperatur yang naik menghasilkan energi lebih besar,” jelas Leonard.

Dampak dari temperatur yang naik tersebut, ditambah dengan pertemuan jenis angin yang Leonard sebutkan, menyebabkan presipitasi, atau proses turunnya hujan menjadi lebih besar, serta terjadi dalam waktu yang lebih singkat. Selain itu, proses pembentukan awan, atau kondensasi, pun terjadi jauh lebih besar.

“Kondensasi dan presipitasi dapat terjadi secara berkali lipat dan dalam waktu jauh lebih singkat dan dapat menghasilkan curah hujan ekstrem,” pungkasnya.

Lebih lanjut Khalisah meminta agar banjir yang terjadi secara masif ini seharusnya dijadikan momentum untuk mengoreksi paradigma dan arah kebijakan pembangunan yang mengabaikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.

“Terlebih tantangan berat kita ke depan menghadapi krisis iklim,” tegas Khalisah.

“Karena ini musim hujan, [saat nanti] musim panas [dalam kurun waktu] sebentar saja, kita akan dihadapkan pada bencana kekeringan dan kebakaran hutan,” jelasnya.

Khalisah menilai bahwa penting untuk melakukan penataan ruang wilayah yang memasukkan kerentanan dan risiko bencana suatu wilayah. “Nggak bisa main-main lagi,” tegasnya.

“Dan ini semua untuk menjelaskan bencana banjir yang terjadi di mana-mana, bukan hanya di Jabodetabek,” ujar Khalisah.

Baca juga artikel terkait BANJIR JAKARTA atau tulisan lainnya dari Fadiyah Alaidrus

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Fadiyah Alaidrus
Penulis: Fadiyah Alaidrus
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti