Grafologi: Menyigi Tulisan Tangan, Membaca Masa Depan

Ilustrasi tulisan tangan. iStockphoto/Getty Images
Oleh: Irfan Teguh - 4 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Grafologi digunakan untuk menganalisis karakter, kecenderungan, dan cara pandang seseorang akan masa depan melalui tulisan tangan.
tirto.id - Banyak cara mencari rezeki di media sosial. Salah satunya begini: “Teman Twitter yang baik hatinya, aku lagi butuh duit nih. Aku mau jual jasa/ilmu. Yang bersedia dibikinin report full grafologi (tulisan tangannya). Biasanya 1000K IDR/report, harga promo jadi 750K IDR.”

Cuitan di atas ia tulis di lini masa Twitter-nya pada Senin, 28 Januari 2019. Saat itu ia tengah berada di Pati, Jawa Tengah, untuk memenuhi urusan keluarga. Sehari-hari Santo tinggal di Tomang, Jakarta Barat. Sudah delapan tahun ia menekuni profesi di bidang grafologi.

Saya hendak menemuinya, tapi karena pelbagai urusan tak membuatnya bisa lekas kembali ke Jakarta, maka percakapan dilakukan di udara, lewat pesan WhatsaApp.

Sejak kecil ia menyukai psikologi. Namun, karena orang tuanya mengharapkan ia cepat mendapat pekerjaan, maka ia dimasukkan ke STM (Sekolah Teknik Menengah). Ia tak membantah pilihan orang tuanya, meski jelas bukan minatnya.

“Ya manut aja walaupun bukan passion saya. Dulu kan lulusan STM gak bisa masuk kuliah jurusan psikologi,” ujarnya.

Selepas lulus dari STM, ia sempat bekerja di sejumlah proyek temporal. Melamar pekerjaan tetap ke beberapa perusahaan dan institusi terhalang ijazah: tak memenuhi syarat dan terlampau banyak saingan. Sementara untuk kuliah ia sudah terlanjur malas.

Dalam kondisi seperti itu ia menemukan jalan untuk kembali menengok minat masa lalunya. Ia mula-mula belajar grafologi di Rumah Grafology. Setelah itu berlanjut dengan belajar grafologi di Bandung kepada seseorang yang menurutnya “guru yang sertifikasinya banyak [dari] luar negeri”.

“Grafologi ini gak pake syarat lulusan psikologi. Lalu saya mendalami. Kemudian terjunlah sampai sekarang. Dengan jalan berbeda, saya ingin berbagi kebajikan, ya sedikit membantu orang lain buat lebih baik dalam kehidupannya,” tuturnya.

Menganalisis Karakter lewat Tulisan Tangan

Menurut Santo, grafologi secara sederhana adalah menganalisis karakter, sifat, kecenderungan, dan cara pandang seseorang akan masa depannya melalui tulisan tangannya.

Sudah lama jika ia memerhatikan wajah orang, baik lewat foto atau bertemu langsung, ia selalu merasa seperti tersedot ke masa lalu orang tersebut: permasalahannya, kekacauan dalam hidupnya, dan penolakan terhadap hidupnya, meskipun ia tak tahu apa masalahnya. Namun, menurutnya hal itu terasa sekali jika berbicara saat tatap mata.

“Entah ini gift atau apa namanya. Cuma kalau dijelasin kamu gini-gini, ya, malah jadi dipikir dukun. Jadilah grafologi sebagai alasannya. Saya tinggal bilang, ini loh tulisanmu bentuk begini, makanya saya tahu. Rata-rata kalau disodorin bukti lewat tulisan, akhirnya mereka percaya,” ungkap Santo.

Akun @sipietz, salah seorang klien Santo, berkisah tentang pengalamannya. Sejak Santo membantu “membaca” tulisan tangannya, ia perlahan bisa mengatur emosi. Hal tersebut menurutnya karena dalam grafologi ada yang disebut grapho therapy dan grapho cybernetics.

Salah satu efek dari dua hal itu adalah ia menjadi berani pergi untuk membereskan giginya yang berantakan. Sebelumnya ia selalu stres dan nangis jika harus pergi ke dokter gigi.

“2 tahun lebih nyimpen ketakutan dan keengganan benerin gigi, Kemarin itu cuz beresin tanpa ada ketakutan apa-apa,” tulisnya.


Santo menuturkan, untuk menyembuhkan orang yang sakit mental dan fisik, grafologi hanya salah satu alat yang ia gunakan. Selebihnya, sejumlah metode ia gunakan juga seperti meditasi, self-hypnosis, dan lain-lain.

Grafologi, imbuhnya, bisa membantu memeriksa kondisi mental seseorang karena tulisan tangan meninggalkan jejak perubahan karakter seseorang pada masa lalu. Namun ia menegaskan grafologi dan pelbagai metode lainnya hanya semacam kompas atau fasilitator, sebab diri klien sendiri yang mampu menyembuhkan, itu pun dalam waktu yang panjang.

“Dia berani karena mengubah mindset-nya dengan berlatih menulis. Kalau dalam ilmu hipnosis, seseorang diberikan sugesti positif, reframing pandangan masa lalunya, dibongkar mental block-nya,” imbuh Santo.

Sehari-hari, Santo hanya menggeluti profesi ini. Menurutnya, dalam sebulan kliennya cuma bisa dihitung dengan jari. Ia pun hanya melayani klien perseorangan, sebab untuk klien perusahaan ia lagi-lagi terbentur ijazah.

“Syarat perusahaan rara-rata harus lulusan S1 psikologi, saya bukan lulusan itu. Makanya saya memfokuskan jalan beda aja, person to person aja. Kalau teman yang orang HRD nanya gak secara resmi ya saya bantuin,” pungkasnya.

Sejak Zaman Aristoteles

Dua hari sebelum berbicara cukup panjang dengan Santo, saya mencoba mencari sejumlah layanan grafologi, tapi beberapa nomor telepon yang tertera di sejumlah laman tak bisa dihubungi. Namun, saya akhirnya bisa tersambung dengan Direktur LKP (Lembaga Kursus dan Pelatihan) Grafologi Indonesia, Sybly Avivy pada Rabu (30/1/2019), yang juga sebagai President KAROHS International School of Handwriting Analysis.

Lembaga ini berkantor di Jalan Haurpancuh II, Bandung. Karena tengah mempersiapkan tes grafologi untuk kepolisian, Aviv dan sejumlah koleganya sementara memusatkan diri di rumahnya di Jalan Melati II, daerah Sadangserang, Bandung.

“Bertemu di rumah aja ya, soalnya [kawan-kawan] lagi dikarantina,” ujarnya.

Pukul 13.10 saya tiba di rumahnya. Sejumlah anak muda nampak tengah serius menghadapi laptop masing-masing. Aviv membawa beberapa lembar kertas dan sebuah pena. Ia segera menerangkan sejarah grafologi. Kertas yang ia bawa mulai dibubuhi nama-nama, garis, dan angka.

“Biar nanti kalau lupa, masih bisa melihat catatan ini,” ujarnya.


Menurut Aviv, ilmu membaca tulisan tangan mula-mula diperkenalkan Aristoteles, lalu sampai ke Cina, dan selanjutnya berkembang di Perancis. Pada 1622, Camillo Baldi, seorang doktor bidang kesehatan di Universitas Bologna, memublikasikan buku tentang ilmu ini untuk pertama kalinya. Kemudian pada 1870 istilah grafologi diciptakan John Michon yang berkebangsaan Perancis. Sejak itu grafologi mulai menyebar di Eropa.

Aviv menambahkan, grafologi selanjutnya melahirkan semacam dua aliran besar, yakni Traits atau detail yang berkembang di Perancis, satu lagi Gestalt atau menyeluruh. Sementara LKP Grafologi Indonesia, imbuhnya, memadukan dua aliran itu yang disebut Holistik.



Ia mulai tertarik kepada grafologi sejak 1998 setelah bertemu John S. Nimpeono, Guru Besar Psikologi Unpad, yang juga telah lama menggeluti grafologi. Menurutnya, saat itu di Indonesia jarang sekali orang yang mempelajari grafologi.

Aviv kemudian belajar di KAROHS. Setelah lulus dan bersertifikat master, Aviv membuka LKP Grafologi Indonesia.

Menurutnya, para siswa yang belajar di LKP Grafologi Indonesia secara umum terbagi empat golongan, yaitu karyawan perusahaan yang bekerja di bagian HRD, konsultan, mahasiswa, dan trainer.

Selain sibuk mendidik para pelajar, Grafologi Indonesia juga kerap melayani klien perusahaan maupun perseorangan. Para lulusannya pun telah menyebar di pelbagai kota di Indonesia.

Seperti profesi lain, dalam grafologi terdapat etika yang berlaku, yakni tidak boleh mengumumkan laporan grafologi kepada orang lain tanpa ada izin dari orang yang bersangkutan. Namun, ada sejumlah hal yang menjadi pengecualian, di antaranya hasil grafologi anak yang dilaporkan kepada kepada orang tua, dan hasil grafologi karyawan yang dilaporkan kepada pimpinan perusahaan dalam konteks pekerjaan.

“Bahkan laporan grafologi antarpasangan (baik pacaran maupun suami istri) pun tidak boleh, jika tak ada izin dari yang bersangkutan,” tegasnya.

Menjelang Asar saya pamit. Anak-anak muda itu masih serius menghadapi laptop masing-masing.

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight