STOP PRESS! Diduga Terlibat Plagiasi, Rektor UNJ Diberhentikan Sementara

"Goodwill" AHY dan Kata-Kata Asing Lain dalam Debat

"Goodwill" AHY dan Kata-Kata Asing Lain dalam Debat
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhono dan Sylviana Murni, saat jeda debat kedua Pilgub DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (27/1). Tirto.id/Andrey Gromico
28 Januari, 2017 dibaca normal 3:30 menit
Kata dan frasa bahasa asing bermunculan dalam debat Pilgub DKI 2017. Siapa yang paling hobi nginggris?
tirto.id - Sudah dua episode debat cagub-cawagub digelar oleh KPU DKI Jakarta. Ketiga pasangan calon, baik itu Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saeful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, selalu berusaha tampil memesona di hadapan publik.

Ketika menyampaikan konsep dan gagasan, salah satu elemen yang sering dipakai adalah kata-kata dalam bahasa Inggris. 

Misalnya pernyataan pada debat kedua berikut:

“Kami sudah groundbreaking membangun waste-to-energy, dikerjakan oleh BUMD kami,” kata Ahok saat ditanyai masalah terkait sampah.

Untuk pertanyaan sama, Agus menjawab: “Dalam pengelolaan sampah, selain kita merevitalisasi, kita juga membangun intermediate treatment facility, menjadikan sampah sebagai energi.”

Ketika ditanya soal penanganan ketersediaan air di Jakarta, Anies melontarkan gagasannya: “Konsepnya adalah vertical drainage. Air hujan itu rahmat dari Allah, dari Tuhan.”

Dari transkripsi debat, tim redaksi Tirto menemukan 99 kata berbahasa Inggris yang diucapkan para kandidat pada debat pertama dan kedua. 

Ada peningkatan penggunaan kosakata bahasa Inggris pada debat kedua yang digelar tadi malam. Saat debat pertama, terlontar 43 kata bahasa Inggris dari para kandidat. Pada debat kedua, ada 56 kata.

Djarot Konsisten Berbahasa Indonesia, Sylvi Boros Kata

Siapakah di antara para kandidat yang sedikit memakai kata dan frasa bahasa Inggris? Jawabannya adalah Djarot. Kata-kata Djarot minim dari kata berbahasa Inggris.

Selama dua kali debat berlangsung, Djarot hanya menggunakan satu kata bahasa Inggris, yakni 'cost.'  

Pada debat pertama itu, Djarot menanyakan satu hal kepada pasangan Agus-Sylvi: “Dananya diambil dari mana? Dan cost apa yang akan dikurangi?”

Di atas Djarot adalah Sylviana Murni. Saat debat pertama dan kedua, jumlah kata yang muncul tetap sama, yakni lima. Kata 'empowerment' jadi diksi favorit Silvy. Dari 10 kata asing, kata 'empowerment' diucapkan tiga kali.

Terkait kata 'empowerment,' dua kali Sylvi menggunakannya dengan boros. Ia menyatukan kata 'empowerment' dengan "pemberdayaan" dalam satu kalimat. 

Pada debat pertama, Sylvi berkata: "Itu sebabnya kenapa kami ingin mengadakan empowerment, pemberdayaan, kepada masyarakat."

Pola ini diulang lagi saat debat kedua: "Saya ingin mengingatkan bahwa pembangunan DKI Jakarta ini jelas sekali adalah pembangunan yang partisipatif dan sekaligus empowerment, yang memberdayakan masyarakat."

Frasa Inggris yang Melekat pada Ahok dan Anies

Di atas Djarot dan Sylvi, ada Anies dan Ahok. Kedua kandidat ini sama-sama mengeluarkan 15 kata. Keduanya sama-sama senang menggunakan kata 'good governance.' Meski jumlah kata dan kesukaan pemilihan kata sama, ada dua pola berbeda antara Ahok dan Anies.

Saat debat pertama, Ahok hanya mengucapkan tiga kata Inggris. Tiga kata itu berkorelasi dekat dengan tema debat yang membahas sosial-ekonomi: 'gini ratio,' 'cashless society,' dan 'action.' 

Kata 'action' dipakai untuk menyerang Anies Baswedan, walau sebenarnya sangat mudah menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia: tindakan.  

Kata Ahok: “Cuma ngomong saya mau bangun ini, mau bangun itu, bangun ini tapi enggak ada action-nya. Kalau kami? Kami tahu tujuannya. Visinya jelas, terukur. Ya harus membangun, harus ada. Harus ada fisik supaya sumber manusia ini tercapai. Nah, saya kira pasangan nomor 3 gayanya memang dosen kali, ya.”

Sedangkan pada debat kedua yang membahas birokrasi, pelayanan publik, dan penataan kota, frasa asing yang dipakai Ahok lebih merujuk ke hal teknis seperti 'talent pool,' 'groundbreaking,' 'Bus Rapid Transit,' dll.

Satu hal minor dari pengucapan asing yang dilakukan Ahok adalah saat ia mengucapkan singkatan. Ahok jarang memberi tahu kepanjangan dari singkatan asing teknis yang diucapkannya, misalnya PSO yang merupakan singkatan dari Public Service Obligation. Memang, ia sudah menjelaskan kepanjangan PSO pada kesempatan sebelumnya.  

Namun, ketika memaparkan TOD alias Transit Oriented Development di debat kedua, ia tak menyebut kepanjangannya.

“Ya itulah yang kami katakan DKI ini kaya raya. Kenapa kaya raya? Karena masih punya ruang udara dan ruang bawah tanah, termasuk laut yang belum dikelola dengan baik. Nah, inilah yang kami tawarkan. Kami mulai menugaskan pada BUMD kami untuk menguasai termasuk TOD.”

Jika Ahok dan Sylviana lebih banyak menggunakan kata Inggris berkaitan program kerja yang sudah dikerjakan, Anies mengeluarkan frasa asing yang bersifat konseptual, misalnya 'urban renewal. Istilah ini lekat dengan disiplin ilmu planologi.

Di atas Anies dan Ahok, ada Sandiaga yang mengucapkan 16 kata asing. Sebagai pengusaha, Sandi gemar memakai kata asing terkait bisnis seperti 'meeting', 'incentive,' 'convention,' dan 'exhibition.'

Tentu yang paling sering diucapkannya adalah akronim OKE OCE yang punya kepanjangan "One Kecamatan, One Centre for Enterprenuership." Selama dua debat berlangsung, akronim 'OKE OCE' ini ia sebut 3 kali.

Goodwill Agus 

Dari semua kandidat, siapakah yang paling sering menggunakan kata-kata asing? Jawabannya: Agus Harimurti Yudhoyono.

Sepanjang debat pertama dan kedua digelar, Agus mengucapkan kata bahasa Inggris sebanyak 44 kali. Ada 11 penyebutan kata, 31 kesempatan sisanya adalah diksi yang berbentuk frasa atau kalimat.

Agus kerap mengucapkan kata atau frasa yang ada padanannya dalam bahasa Indonesia, misalnya: goodwillitems uniturban poverty, ultra competitive, rule of law, peak hourshecticfirm, dll.

Dalam kasus lain, Agus bahkan lebih memilih kalimat: “Yang jelas negara kita adalah the third largest democracy in the world” ketimbang “negara kita adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.”

Agus juga acapkali mengucapkan kata-kata teknis seperti 'ripple effect,' 'water harvesting,' 'merit system,' 'on-site upgrading,' dll.

Ada lagi hal unik dari Agus terkait penggunaan bahasa Inggris. Jika kandidat lain umumnya memakai kata atau frasa berbahasa Inggris dalam kalimat, Agus beberapa kali menutup pembicaraannya dengan kalimat berbahasa Inggris pendek. 

Misalnya yang ia ucapkan pada debat pertama: “Kami ingin juga meyakinkan bahwa tidak hanya mereka diberikan bantuan sementara secara ekonomi, secara makro kita ingin meningkatkan pertumbuhan. Economic growth with equity.”

Masih dalam segmen sama, ia pun mengucapkan: “Yang kesembilan menegakkan hukum dan keadilan bagi semua. Justice for all." Ia melanjutkan, "Terbukti penggusuran hanya akan meningkatkan kemiskinan, urban poverty meningkat secara tajam. Mereka kehilangan segalanya. They lost everything.”

Pola sama juga Agus lakukan pada debat kedua: “Kita yakinkan bahwa setiap birokrat menduduki jabatan sesuai dengan spesialisasi dan kemampuannya. The right man on the right place.”

Mudah-mudahan, pada debat terakhir, ia tidak membuka paparannya dengan kalimat: "My name is Agus."

Baca juga artikel terkait PILGUB DKI JAKARTA 2017 atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - wam/zen)

Keyword