Film Roma: Tribut Melankolis Alfonso Cuaron untuk Pengasuhnya

Oleh: Aulia Adam - 1 Januari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Ini surat cinta Cuarón buat pembantu sekaligus pengasuhnya waktu kecil.
tirto.id - Saya selalu kepayahan menjawab, ketika pertanyaan “Apa film favoritmu?” datang. Begitu juga saat “Siapa sutradara favoritmu?” yang menyusul. Tapi, jika dipikir-pikir, nama Alfonso Cuarón dan filmnya Children of Men (2006) adalah yang paling sering tercetus.

“Film ini tak payah-payah amat untuk jadi salah satu film terbaik tahun ini,” tulis Film Journal International.

“Ia juga syiar baik tentang munculnya si sutradara besar, bernama Alfonso Cuarón,” tahbis Slate. “Thriller-politik yang diarahkan dengan luar biasa,” tambah The New York Times melengkapi puja-puji atas film keenam Cuarón.

Buat saya, Children of Men menonjol karena ia tampil beda dan diceritakan dengan sabar oleh sang sutradara. Naskahnya tentang kiamat yang tak lazim. Bukan kisah tentang bencana-bencana akbar, seperti tabrakan asteroid dan Bumi, invasi alien, tsunami atau gempa bumi dahsyat, dan serangan zombie, tapi konflik lebih sederhana yang ternyata tak kalah mengerikan: manusia kehilangan kemampuannya untuk bereproduksi.


Latarnya adalah masa depan (tahun 2027) di sebuah distopia yang juga tak lazim: tak ada pencakar langit canggih, mobil terbang, atau robot diktator.

Yang ada perang, kelaparan, dan kemiskinan; sehingga masa depan yang digambarkan lebih dekat dan gampang diresapi, tapi tetap mencekam—sebuah nuansa yang memang ingin ditonjolkan Cuarón. Children of Men memang hendak melunturkan gagasan tentang masa depan yang cerah. Manusia-manusia dalam film itu dilanda kecemasan dan depresi menanti kepunahan mereka.

Nuansa itu amat membekas sehingga Children of Men bukan cuma merenggut satu-dua pujian sebagai film terbaik pada 2006. Media bahkan merayakannya sebagai film terbaik dalam dekade tersebut. Pada 2015, Pop Culture Philosopher memasukkan Children of Men ke dalam daftar 10 film sepanjang waktu. Rolling Stone pada 2017 menisbatnya jadi film sains-fiksi terbaik di abad 21.

Kesuksesan itu membuat nama Cuarón makin harum. Ia jadi Latino pertama yang pernah menyabet Piala Sutradara Terbaik Oscar lewat filmnya Gravity (2013). Sebelum Children of Men, ia juga pernah menyutradarai Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004), yang dipuji-puji sebagai adaptasi terbaik Harry Potter.

Pada pengujung tahun ini, Cuarón kembali menelurkan mahakarya yang juga jadi perbincangan—dan dipuja-puji kritikus serta penonton: Roma.

Surat Cinta Buat Libo

Belum apa-apa, Time dan New York Film Critics Circle menyebut Roma sebagai film terbaik tahun ini. Sebuah opini yang diamini media-media lain: New York Times, Vox, Independent, Sight & Sound, bahkan situs Roger Ebert.

Padahal, ia tayang di bioskop terbatas, meski sudah lebih dulu ditonton media dalam Festival Film Internasional Venisia, Agustus lalu. Namun, pada pertengahan Desember 2018, ia sudah bisa dinikmati di Netflix.

Ceritanya amat berbeda dari nuansa fantasi seperti yang ada dalam Prisoner of Azkaban, Gravity, apalagi Children of Men. Kali ini, Cuarón berputar arah 180 derajat: tak ada distopia menuju kiamat, pemerintahan dunia sihir yang korup, atau astronot yang nyaris mati di luar angkasa. Tak ada potret manusia-manusia besar dengan petualangan besar, ia membuat film tentang orang-orang di kehidupan nyata. Cerita tentang masa kecilnya di sebuah neighborhood bernama Roma, di Meksiko.

Di ujung film, ia menyelipkan ucapan Para Libo (Untuk Libo) sebagai tanda bahwa film ini memang persembahannya untuk Liboria Rodríguez, pelayan sekaligus pengasuhnya waktu kecil.

Semua yang terjadi di film ditulis Cuarón berdasarkan memorinya. Ia merekam Meksiko di 1970-an awal dengan amat detail. Komplek perumahan, pakaian-pakaian, mainan, hingga ubin yang dipakai di film ini dipilih Cuarón secara saksama. Ia benar-benar ingin membuat penonton merasakan semua memori kecilnya tentang Libo persis sebagaimana yang ia rasakan.


Roma amat personal buatnya. Cuarón mengaudisi sekitar 110 orang selama satu setengah tahun demi menemukan aktor pemeran Libo. Demi mengejar kesempurnaan, pencarian itu cuma jadi salah satu proses yang harus ia lalui. Di salah satu adegan, Cuarón bahkan menyewa lebih dari seribu ekstra untuk melakukan reka ulang Pembantaian Corpus Christi demi ketegangan yang ingin dihadirkannya. Ia benar-benar pendongeng yang sabar.

Hasilnya? Sebuah mahakarya.

Cleo, tokoh utama film ini yang terinspirasi dari Libo, diperankan amat memukau oleh Yalitza Aparicio, seorang perempuan pribumi Meksiko yang belum pernah main film sebelumnya. Karakter Cleo yang pendiam, penurut, dan penyayang dipresentasikannya dengan jitu. Ia tak tampak kikuk mondar-mandir pertama kali di depan kamera. Tawa, tangisan, erangan, sesenggukan, senandung, dan semua dialognya hadir natural.

Aparicio jelas punya talenta untuk membuat penonton yakin kalau Cleo adalah karakter sungguhan. Kita tak akan sekonyong-konyong berempati padanya karena Cuarón memang tak membuat karakter Cleo yang mencolok dan menarik perhatian. Ia ingin kita sadar bahwa Cleo memang orang biasa. Ia tak berkarisma—cenderung kalem—tipikal persona yang tak akan menonjol di kerumunan. Cerita hidup Cleo juga mungkin dialami banyak orang yang datang dari latar belakang yang sama.

Namun, tanpa sadar, kita akan betah mengikuti kisahnya dan tenggelam bersamanya, tak lain dan tak bukan karena cara bertutur Cuarón yang dingin, sabar, dan tenang.

Kamera seringkali dipacaknya di tengah ruangan. Mata kamera sengaja diposisikan sebagai mata penonton, yang punya jarak pandang terbatas dan cenderung mengikuti gerak-gerik para aktor. Semua direkam hitam-putih. Cuarón ingin penonton melihat Roma sebagai sebuah pertunjukan memori.

Naskah Roma sebetulnya tak punya cerita yang kuat: tak ada misteri yang harus dipecahkan, tak ada drama spesifik yang harus kita ikuti. Sederhananya, ia hanya cerita tentang Cleo yang bekerja pada sebuah keluarga di Roma. Dialog-dialog seringkali terdengar cuma seperti kebisingan sesaat yang lewat sekelabat.

Medium utama narasi yang ada dalam Roma lebih banyak diceritakan Cuarón lewat gambar. Kita mungkin akan dapat sebaris-dua baris info dari dialog-dialog yang muncul, tapi sepenuhnya memahami kisah Cleo lewat sinematografi indah yang disajikan Cuarón.

Infografik Misbar Roma
Infografik Misbar Roma


Cuarón memang bukan cuma punya reputasi sebagai penulis dan sutradara. Kemampuan sinematografi Cuarón juga di atas rata-rata. Dalam Roma, ia menduduki kursi kepala sinematografi, selain tentu saja sutradara. Jadi, tak usah heran kalau semua adegan benar-benar dikoreografikan dengan detail dan indah.

Secara keseluruhan, Cuarón memang merekam hidup Cleo, tapi di saat bersamaan, ia juga merekam Roma dan Meksiko awal 1970-an yang kental nuansa pemberontakan. Obrolan tentang tentara yang menembak anak kecil di meja makan, penembakan di toko furnitur bayi, demonstrasi mahasiswa yang berujung pada Pembantaian Corpus Christi, serta lengan salah satu anak majikan Cleo di lehernya ketika menonton televisi, semuanya tak terang dijelaskan lewat dialog, tapi dihadirkan lewat gambar.


Akhirnya Roma adalah kisah tentang bagaimana para perempuan, tokoh utama di film ini, menjalani hidup, dan berjibaku dengan keputusan-keputusan yang akhirnya mereka ambil.

Sofia (Marina de Tavira), majikan Cleo, berusaha mati-matian mempertahankan rumah tangganya. Sementara Cleo harus bingung saat memutuskan nasib kandungannya. Adegan paling sempurna menggambarkan perjuangan itu direkam Cuarón ketika Cleo yang tak bisa berenang melawan ombak besar untuk menyelamatkan dua orang anak majikannya yang perlahan dikulum laut. Beban yang mereka tanggung nyata, tapi tersembunyi di balik urusan-urusan domestik yang dianggap receh di masa serba sulit.

Inilah yang membuat Roma begitu kaya. Sekilas, Cuarón seperti cuma merekam ingatan masa kecilnya tentang sang pengasuh, tapi yang ditangkap kameranya lebih dari itu.

Tak banyak sutradara yang mampu mentransfer emosi dengan cara ini. Cuarón adalah salah satu maestro yang selalu berhasil. Kemampuan bertuturnya lewat film memang tidak biasa. Meminjam kata-kata jurnalis film Peter Travers dari Rolling Stone, Cuarón punya sihirnya sendiri, kekuatan untuk bikin kita memercayainya.

Susah untuk menampik kalau Roma memang sebuah tribute melankolis yang manis.

Baca juga artikel terkait RESENSI FILM atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)


Penulis: Aulia Adam
Editor: Windu Jusuf