Fakta-fakta Negara Timor Leste Setelah Pisah dengan Indonesia

Oleh: Alexander Haryanto - 3 September 2020
Dibaca Normal 1 menit
Berikut fakta-fakta tentang Timor Leste setelah berpisah dari Indonesia.
tirto.id - Negara Timor Leste, dulunya Timor Timur, adalah provinsi termuda yang pernah tergabung dengan Indonesia di bawah rezim Presiden ke-2 Soeharto. Dulunya, Timor Timur adalah bekas koloni Portugis.

Seperti dilaporkan BBC, jalan kemerdekaan Timor Leste diperoleh melalui jalan yang panjang dan traumatis. Mereka mendapatkan beberapa kekejaman terburuk dalam perjuangan menentukan nasib sendiri.

Pada tahun 1998, setelah Soeharto lengser dari kekuasaannya, puncak kekuasaan dipegang oleh BJ Habibie. Ia kemudian mengumumkan tentang kesediaannya mengadakan referendum untuk Timor Timur.

Seperti dilansir situs resmi Timor Leste, referendum itu berlangsung pada 30 Agustus 1999 dengan lebih dari 90 persen partisipan, hasilnya 78,5 persen rakyat Timor Timur memilih kemerdekaan dan menolak otonomi yang diusulkan Indonesia.

Setelah melalui penentuan pendapat rakyat tanggal 30 Oktober 1999, Timor Timur berpisah dengan Indonesia dan resmi menjadi negara Timor Leste pada 20 Mei 2002.

Setelah merdeka, Portugal dan banyak negara lain menyelenggarakan kampanye untuk mengumpulkan sumbangan, perbekalan dan buku. Situasi perlahan bisa dikendalikan dengan pelucutan senjata secara progresif dari milisi dan dimulainya pembangunan kembali rumah, sekolah dan infrastruktur.

Xanana Gusmao kemudian diangkat menjadi Presiden Timor Leste pertama dan kemudian menjadi perdana menteri. Ia adalah eks gerilyawan kemerdekaan Timor Timur. Bentuk pemerintahan di Timor Leste adalah semi-presidensial, Presiden sebagai Kepala Negara dan Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan.

Berikut fakta-fakta tentang Timor Leste:

1. Presiden Timor Leste


Saat ini, kekuasaan di negara itu dipimpin oleh Francisco Guterres yang dilantik sebagai presiden pada Mei 2017 lalu. Ia adalah pemimpin partai kiri-tengah Fretilin dan seorang mantan gerilyawan yang berjuang memerdekakan Timor Timur dari Indonesia.

Dalam pemilu bulan Maret 2017, Francisco memperoleh lebih dari 57 persen suara. Dan ia menjadi presiden keempat di negara itu.

2. Mata Uang Timor Leste


Timor Leste menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat untuk seluruh transaksinya. Meskipun terdapat Bank Mandiri dan BRI di sana, namun ATM Bank Mandiri dan BRI tidak dapat berfungsi.

Untuk itu, sebelum bepergian ke Timor Leste, WNI wajib untuk menukarkan rupiah ke dolar Amerika. Kendati demikian, negara ini punya mata uang lokal bernama koin centavo yang diperkenalkan pada 2003 untuk menggantikan rupiah. Uang ini dicetak langsung di Portugis.

3. Bendera Timor Leste


Bendera Timor Leste terdiri dari empat warna, yakni hitam, putih, kuning dan merah. Bendera ini didasarkan desain yang digunakan Front Revolusi Kemerdekaan Timor Leste (Fretilin), kelompok utama yang menentang pengambilalihan Indonesia atas Timor Timur pada 1975-1976.

Bendera nasional ini baru diadopsi pada 20 Mei 2002 setelah Timor Leste mencapai kedaulatan penuh. Warna hitam mewakili lebih dari empat abad represi kolonial, warna kuning adalah lambang perjuangan kemerdekaan, warna merah adalah simbol penderitaan rakyat Timor dan bintang putih melambangkan harapan akan masa depan.

4. Bahasa Resmi Timor Leste


Timor Leste menggunakan dua bahasa resmi, yakni Bahasa Tetun dan Bahasa Portugis. Selain itu, ada sekitar 15 dialek lokal lainnya. Tetapi, negara tersebut juga menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sebagai bahasa kerja.

5. Ibu Kota Timor Leste


Ibu kota Timor Leste adalah Dili. Wilayah ini terletak di Selat Ombai di pantai utara pulau Timor, paling timur dari Kepulauan Sunda Kecil. Dili adalah pelabuhan utama dan pusat perdagangan untuk Timor Leste.

Pada tahun 1999, ketika wilayah tersebut memperoleh kemerdekaan di bawah pengawasan PBB, Dili ditetapkan sebagai pusat administrasi dan menjadi ibu kota ketika Timor Leste mencapai kedaulatan penuh pada tahun 2002.


Baca juga artikel terkait TIMOR LESTE atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Agung DH
DarkLight