Advertorial

Fakta di Balik Hoax & Mitos Vaksin COVID-19

Oleh: Advertorial - 15 Desember 2020
Dibaca Normal 1 menit
Informasi keliru tentang vaksin membuat masyarakat kebingungan.
tirto.id - Sudah sejak lama vaksin diandalkan untuk mencegah penyakit menular, tak terkecuali—yang paling ditunggu-tunggu saat ini—vaksin COVID-19.

“Dulu pada waktu sebelum vaksin ditemukan, kematian karena penyakit menular seperti campak, difteri, dan pneumonia, banyak sekali. Dengan lahirnya vaksin-vaksin ini, penyakit-penyakit menular berbahaya tersebut sudah hilang,” ungkap pakar nutrisi dr. Jane Soepardi, MPH. dalam Dialog Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru bertema “Tata Laksana Vaksinasi di Indonesia”, Senin (23/11). Dialog itu diselenggarakan oleh Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).

Di media sosial, banyak tersebar informasi yang salah terkait vaksin, termasuk mitos bahwa vaksin menyebabkan autisme dan kanker. Informasi tersebut tentu membuat masyarakat kebingungan.

Dalam Dialog Produktif “Vaksin: Fakta dan Hoaks” yang diselenggarakan di Media Center KPCPEN, Selasa (15/12), dr. Dirga Sakti Rambe, Vaksinolog, menjelaskan bahwa mitos vaksin menyebabkan autisme itu keliru.

Tahun 1998, seorang dokter bedah asal Inggris melakukan penelitian yang belakangan diketahui ternyata palsu, yakni bahwa vaksin MMR berhubungan dengan autisme. "Setelah dilakukan penelitian lebih luas ternyata informasi tersebut tidak benar dan terbukti dokter tersebut memalsukan data.”

Adapun mitos terkait vaksin menyebabkan kanker juga tak benar. Vaksin justru dapat melindungi dari kanker, antara lain, vaksin Hepatitis yang terbukti melindungi dari kanker hati dan vaksin HPV terbukti melindungi dari kanker leher rahim atau serviks.
Infografik Advertorial Pandangan Keliru Soal Vaksin
Infografik Advertorial Pandangan Keliru Soal Vaksin. tirto.id

Keunggulan vaksin yang tidak dimiliki oleh upaya pencegahan lain yaitu memberikan proteksi yang sifatnya spesifik melalui antibodi. “Kalau kita divaksinasi, antibodi akan diproduksi, antibodi inilah yang memberikan kekebalan. Inilah kunci dari vaksinasi, yaitu proteksinya bersifat spesifik,” sambung dr.Dirga.

“Tidak benar jika virus COVID-19 akan hilang dengan sendirinya, ada jutaan kematian di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kita tidak bisa berdiam diri, ekonomi kita terpukul, bekerja juga menjadi sulit,” tegasnya.

Soal harga, dr. Dirga menjelaskan bahwa dibandingkan dengan biaya pengobatan, pencegahan melalui vaksinasi jauh lebih murah. “Selain kita bicara waktu perawatan, ketika sakit kita tidak bisa kerja dan produktif. Padahal, ini sesuatu yang bisa kita upayakan untuk dicegah sejak awal.”

Pemerintah Indonesia kini terus berupaya menghadirkan vaksin yang aman dan efektif sehingga masyarakat pun diimbau tak menolak pemberian vaksin tersebut demi mengakhiri pandemi.

“Masyarakat harus mengetahui vaksin jauh berbeda dengan obat. Karena vaksin akan diberikan kepada orang sehat, oleh sebab itu syarat vaksin dibuat sangat ketat. Jadi lebih baik jangan sampai tertular COVID-19, dan kalau kita beruntung mendapat imunisasinya, jangan ditolak, justru bersyukur kalau mendapat vaksin COVID-19,” kata dr. Jane.

Walau begitu, adanya vaksin tak serta-merta melenyapkan COVID-19 atau mengakhiri pandemi. Kita masih perlu disiplin menjalankan protokol kesehatan dengan menerapkan 3M—memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan—dalam rangka mengupayakan kesehatan dan keselamatan bersama.

“Kita tetap harus menjalankan protokol kesehatan karena setiap upaya pencegahan tidak ada yang sempurna. Kita harus lakukan semuanya, agar kita terhindar dari COVID-19,” tutup dr. Dirga.
DarkLight