Error "404 Not Found", Saat Dokumen di Internet "Membusuk"

Ilustrasi penyimpanan data digital melalui server. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 18 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Sebanyak 50 persen link yang dipublikasikan akan terhapus dalam tempo lima hingga 10 tahun sejak dibuat.
tirto.id - Pada Maret 1989, Timothy Berners-Lee menulis proposal penciptaan World Wide Web, atau yang populer disebut WWW, berjudul “Information Management: A Proposal.” Salah satu kalimat di proposal itu tertulis: “Hypertext adalah cara untuk menghubungkan dan mengakses berbagai jenis informasi dengan menelusurinya secara sesuka hati.”

Pada Oktober 1990, selepas sukses menciptakan tiga bagian fundamental dunia maya, yakni HTML (Hypertext Markup Language), URI (Uniform Resource Identifier), dan HTTP (Hypertext Transfer Protocol), pernyataan yang ditulis Berners-Lee akhirnya jadi kenyataan. Hanya bermodal link atau tautan, pengguna internet dapat mengakses dokumen atau informasi apapun, dengan sesuka hatinya.

Baca juga:

Sayangnya, selepas WWW hampir menginjak usia 28 tahun sejak penciptaannya, dunia tempat berpijak pada Google, Facebook, dan Amazon yang menyimpan masalah. Berners-Lee menyebutnya sebagai “dangling links.”

“Dangling links” merupakan frasa yang berarti “tautan yang mengarah ke ketiadaan.” Bahasa teknis dunia web menyebutnya “404 Not Found.” “Linkrot,” ialah istilah lain untuk fenomena ini.

Berners-Lee, merujuk pemberitaan Time, menyebutkan “404 mungkin masalah, tetapi sebagai pengguna internet kita harus menerimanya.” Alasannya? Web diciptakan dengan ukuran tak terhingga. Memastikan setiap link terhubung dengan dokumen/informasi merupakan pekerjaan rumah yang teramat berat. Berners-Lee ingin menegaskan 404 adalah masalah yang biasa-biasa saja di dunia WWW.

Shirley Chen, pendiri Narrativ, lembaga swadaya masyarakat yang mengurusi internet, dalam tulisannya di We Forum, secara tersirat mengatakan 404 Not Found merupakan perkara yang serius. Secara menyeluruh, 30 persen link di dunia maya mengarah ke 404.

Dalam pemaparannya, Chen mengatakan 49 persen link yang ada di situsweb Mahkamah Agung Amerika Serikat "mengarah ke ketiadaan". Selain itu sebanyak 83 persen dokumen berekstensi .PDF pada situsweb pemerintah Amerika Serikat berakhiran .gov tak tersedia. Ada 70 persen link yang berada di Harvard Law Review sudah tak bisa diakses. Secara singkat, 404 Not Found terlalu sering ditemukan, celakanya pada situsweb-situsweb yang terhitung krusial.

Jesse Dunietz, kontributor Popular Mechanics, dalam tulisannya mengklaim 50 persen link yang dipublikasikan akan mati dalam tempo lima hingga 10 tahun sejak penciptaannya. Ini artinya, jika Anda membaca artikel ini, artikel kemungkinan tidak bisa diakses lima hingga 10 tahun mendatang sejak diterbitkan. Dunietz tak menjelaskan mengapa link akan mati dalam lima hingga 10 tahun sejak penciptaannya. Namun, ini nampaknya terkait dengan upgrade server atau komputer tempat di mana suatu dokumen disimpan. Tatkala upgrade dilakukan, maka dokumen diabaikan. Juga terkait pula dengan usia media, karena tidak sanggup beroperasi, media mati. Dokumen-dokumen yang online pun lantas ikut mati.

Dalam dunia akademik, 404 Not Found sering disebut dengan istilah linkrot, atau tautan yang membusuk. Alisa Parker, peneliti Whitireia Community Polytechnic, Selandia Baru, dalam papernya berjudul “Link Rot: How the Inaccessibility of Electronic Citations Affects the Quality of New Zealand Scholarly Literature,” meneliti link atau tautan yang jadi sumber rujukan jurnal ilmiah.

Ia mempelajari apakah link-link masih hidup atau telah bersalin rupa menjadi kode 404. Jurnal BACIT alias Bulletin of Aplied Computing and Information Technology, jurnal yang mulai diterbitkan pada 2003 oleh New Zealand National Advisory Committee for Computing Qualifications (NACCQ), semua jurnal yang dipublikasikan BACIT, dari 2003 hingga 2005, sebanyak 30 persen link rujukannya sudah mati atau dalam keadaan 404 Not Found.

Pada jurnal NZJER alias New Zealand Journal of Employment Relations, terbitan 2002 hingga 2005, disebutkan bahwa 70 persen link rujukan mati. Pada jurnal NZJP alias New Zealand Journal of Psychology, dari terbitan 2002 hingga 2005, sebanyak 77 persen link yang jadi rujukan artikel-artikel di jurnal itu telah berstatus 404. Terakhir, di jurnal New Zealand Medical Journal alias NZMJ, ada 17 persen link rujukan yang telah hilang pada terbitannya dari 2002 hingga 2005.

Link rujukan jurnal mati merupakan perkara yang serius. Jakob Nielsen, yang pada 1996 mencetuskan frasa linkrot mengatakan 404 memungkinkan dunia WWW yang universal berubah jadi “pulau informasi” yang terisolasi. Dalam kasus link rujukan mati, ini mengakibatkan hilangnya jembatan antar pengetahuan yang membentuk artikel-artikel yang dimuat jurnal-jurnal itu. Para pembaca jurnal kehilangan kesempatan untuk mengecek ulang apa yang mereka baca. Nielsen mengatakan bahwa linkrot terjadi karena internet, sebagai media, tidak stabil.

Secara umum, tidak ada cara penanggulangan 404. Alasannya? link merupakan entitas universal, yang dimiliki banyak pihak. Misalnya artikel ini, yang turut merujuk link pemberitaan Wired atau Popular Machanic. Link tidak akan bersalin rupa menjadi 404 seandainya dua media yang dirujuk tetap mempertahankan dokumennya. Namun, manakala mereka menghapus atau mengubah tempat penyimpanan link, maka yang terjadi sebaliknya.



Memahami 404 Not Found


Memahami 404 Not Found adalah memahami link atau tautan. Berners-Lee memang menciptakan WWW, tetapi sejarah penciptaan link mengakar sejak 1945. Merujuk penuturan Dunietz, kala itu, Vannevar Bush, salah seorang ahli teknologi telegram, menciptakan mesin mikro film bernama Memex. Di ujung mikro film, ada cap atau kode khusus tertentu. Kode atau cap itu merujuk pada mikro film lain. Ini berguna agar ada korelasi antara mikro film yang digunakan.

Pada dekade 1960-an, ide Bush diambil-alih Ted Nelson, ilmuwan komputer. Nelson menciptakan proyek komputer bernama Xanadu. Dokumen yang terdapat di Xanadu memiliki link yang berguna untuk berpindah-pindah antar bagian dokumen dengan mudah. Di waktu hampir bersamaan, konsep link pun diadaptasi Douglas Engelbart, ilmuwan komputer lain. Jika link dalam dokumen di mesin Xanadu hanya bertautan secara offline, Engelbart menciptakan NLS alias oNLine System.

Berners-Lee, pada 1990-an lalu membawa konsep link ke ciptaannya: WWW. Dalam dunia WWW link merupakan referensi data/informasi, yang mengarahkan atau menghubungkan satu dokumen di dunia web dengan dokumen lainnya. Link bekerja dengan hanya memerlukan click, tapping, atau hovering.

Tanda 404 Not Found lahir tatkala link yang diklik tak mengarah ke dokumen/data/informasi apapun. Ada banyak penyebabnya, ejaan link yang salah atau lokasi penempatan dokumen telah berpindah. Robert Cailliau, yang bersama Berners-Lee menciptakan WWW, sebagaimana dikutip dari Wired, mengatakan secara tersirat bahwa 404 merupakan “cara sederhana.” Ia bermaksud “programmer tidak perlu membuang waktu terlalu banyak menulis pesan panjang pada situasi di mana error ditemukan.” 404 merupakan “tanda,” yang menurut Dunietz, serupa dengan angka “nol” pada matematika. Tanda sederhana untuk ketiadaan, atau kosong.

Dari kaca mata teknis dunia web, terdapat kode tiga digit yang muncul untuk memberitahu apa yang sedang terjadi. Awalan 4 merupakan kode yang merujuk adanya kesalahan di sisi pengguna. Misalnya, salah mengeja link. Lalu, 04 merujuk pada ketiadaan. Selain 404 ada beberapa kode lain, semisal: 400 Bad Request, 401 Unauthorized, dan 403 Forbidden.

Di awal dekade 2000-an, tanda 404 dipercaya sebagai ruangan server tempat penyimpanan dokumen berada: lantai 4 di ruangan nomor 04. Suatu ruang yang berada di CERN (pusat riset nuklir Eropa di Swiss, tempat Berners-Lee menemukan WWW). Saat suatu permintaan akses dilakukan dan dokumen tak ada di server, server itu lantas membalas “404: dokumen tidak ditemukan,” yang lantas berubah jadi 404 Not Found. Namun, Cailliau mengatakan kepercayaan itu “hanyalah mitos semata.” Sebagaimana diungkap di atas, 404 merupakan tanda senderhana: maaf, link yang ada inginkan telah menghilang.

Baca juga artikel terkait INTERNET atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight