Menuju konten utama

Sejarah Bokep Amatir Indonesia dari Era VCD hingga Vina Garut

Bandung Lautan Asmara, Casting Sabun, hingga "Vina Garut".  

Sejarah Bokep Amatir Indonesia dari Era VCD hingga Vina Garut
Ilustrasi menonton film porno di medsos. tirto.id/Quita

tirto.id - “Permainan yang dilakukan pasangan muda tersebut, tidak kalah hot-nya seperti yang ada di film-film sejenis dengan pemain dari barat,” tulis Harian Pikiran Rakyat, yang disarikan ulang oleh Tempo, menanggapi video porno berjudul Bulan Madu.

Pada 2004 masyarakat Bandung dihebohkan dengan beredarnya video porno berjudul Honeymoon alias Bulan Madu. Honeymoon muncul setelah Bandung Lautan Asmara menghebohkan masyarakat Kota Bandung pada 2002. Populer disebut "bokep Itenas", Bandung Lautan Asmara adalah rekaman hubungan seks mahasiswa Universitas Padjajaran dan mahasiswi Institut Teknologi Nasional. Sebagaimana diwartakan Gatra, pelaku video porno “Itenas” terjerat hukum. Kedua pelaku dianggap melanggar Pasal 182 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Apalagi, sosok yang melakukan penyebaran video panas itu telah mendapat hukuman penjara.

Balyan Hasibuan, salah seorang pengacara yang mewakili organisasi keagamaan Muhammadiyah menegaskan bahwa "asapnya sudah dihukum, kok apinya masih menyala-nyala".

Berbeda dengan Bandung Lautan Asmara, para pelaku dalam video Honeymoon belum terungkap. Kala itu, Masguntur Laope, yang menjabat Kepala Polisi Resort Kota Bandung, mengatakan pihak kepolisian belum bisa mengetahui tokoh di video itu. Namun, kepolisian telah memperkirakan lokasi pembuatan video kemungkinan berada di salah satu hotel di kawasan Setiabudi, Bandung.

Bandung Lautan Asmara dan Honeymoon merupakan rangkaian video porno yang pernah menghebohkan Indonesia, khususnya di Kota Bandung. Hampir berbarengan dengan kehebohan di Kota Kembang, sebuah video porno berjudul Casting Sabun muncul dari sebuah rumah produksi (PH) bernama Indochroma yang beralamat di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat.

Kala itu, dua dedengkot Indochroma, George Irfan (manajer) dan Arifin (karyawan biasa), memperoleh tawaran membuat kalender dengan model seksi sebagai pemanis. Sebagaimana diwartakan Gatra, keduanya lantas bergerilya mencari model yang mau dipotret dengan pose panas. Para pelamar dijanjikan akan tampil sebagai model iklan sabun mandi alih-alih model kalender. Lalu terpilihlah enam model yang akhirnya memperagakan adegan-adegan pemakaian sabun yang hendak diiklankan.

Melvi Noviza, seorang model yang dibohongi George dan Arifin, menyatakan, syuting dilakukan dengan pemaksaan. Katanya, ia dimarahi dan dipaksa melakukan adegan-adegan yang sama sekali tak mencerminkan iklan sabun.

Bahkan, seperti yang dituturkannya kepada Gatra, Melvi mengaku berkali-kali berteriak: “Tolong dong Ma, Tolong!” Namun, sang ibunda yang dipanggilnya itu tidak mendengarkan jeritannya karena berada di lantai yang berbeda.

Usai rekaman selesai, permintaan pembuatan kalender rupanya tak dilanjutkan pihak pemesan. Lalu, terbitlah ide busuk itu. George dan Arifin menyebarkan hasil rekaman yang akhirnya menghebohkan itu.

Selepas Bandung Lautan Asmara, Honeymoon, dan Casting Sabun, masyarakat Indonesia kembali dikejutkan oleh Surabaya Undercover (2005), Ariel-Luna Maya serta Ariel-Cut Tari (2011), hingga video Vina Garut belakangan ini. Di luar perdebatan seputar moral, video-video ini adalah saksi perkembangan teknologi tontonan digital di Indonesia.

Dari VCD Hingga Media Sosial

Pada awal 2000-an, video porno, khususnya di Indonesia, tidak tersebar melalui Pornhub atau Xvideos. Judul-judul yang telah disebutkan di atas beredar melalui keping Video Compact Disc (VCD). Alasannya sederhana. Pertama, internet belum berkembang. Kedua, keping VCD harganya relatif murah.

Tak hanya itu, VCD lebih cepat dan mudah digandakan, tak seperti medium home video sebelumnya seperti Laser Disc, atau kaset Betamax dan VHS. Untuk dua format terakhir, film-film porno (produk studio besar) sebetulnya sudah bisa diakses secara gelap di rental-rental video pada akhir 1980-an. Kode yang biasanya diucapkan penyewa ke petugas rental untuk meminjam film porno biasanya adalah "film Donald Bebek" atau "film Unyil".

VCD, yang diciptakan Philips dan Sony, adalah versi murah dari DVD. Di negara-negara barat, VCD, yang hanya sanggup memuat sepersepuluh konten DVD, kurang berkembang. Namun, ini tak berlaku di Cina.

Sebagaimana diwartakan The New York Times, VCD masuk ke Cina pada pertengahan 1990-an. VCD kemudian berkembang karena tingkat pembajakan sangat tinggi di Cina dan harganya, lagi-lagi, jauh lebih murah dibandingkan DVD.

Pada 2000, disokong industri bajakan, Cina memproduksi sekitar 20 juta pemutar VCD. Jumlah keping VCD, jauh lebih banyak dari itu. Angka yang besar tersebut, kemudian menurunkan harga pemutar VCD dan keping VCD. Kala itu, pemutar VCD dijual di kisaran $70 dan satu keping VCD dijual seharga 80 sen.

Keadaan di Indonesia tak berbeda jauh dibandingkan Cina. VCD populer di sini dan harganya jelas lebih murah dibandingkan DVD. Namun, untuk kasus video porno harganya lebih mahal. Video porno seperti “Bandung Lautan Asmara”, sebagaimana ditulis Detik, dapat dijual dari Rp75 ribu hingga Rp150 ribu.

Sekitar 2005, keping VCD kemudian mulai teralihkan. Bukan oleh DVD atau Bluray Disk, melainkan oleh ponsel.

Sebagaimana dilansir Statista, hanya sekitar tiga juta penduduk Indonesia yang berlangganan layanan selular pada tahun 2000. Namun, lima tahun kemudian, pelanggan selular di Indonesia meningkat lebih dari 46 juta. Pertumbuhan tersebut membuat banyak orang tak memerlukan lagi perangkat khusus untuk memutar video. Berbekal ponsel, masyarakat dapat memutar video. Video porno pun menyebar melalui medium baru ini.

Namun perlu diingat, meskipun selular telah berkembang, koneksivitas masih terbatas. Telkomsel, selaku pemain terbesar di dunia selular Indonesia, baru menggenjot koneksivitas berbasis 3G pada 2007. Artinya, pada 2005, penyebaran video porno dilakukan dengan cara yang cukup “primitif”, yakni melalui koneksi infrared dan bluetooth.

Di tengah koneksi yang masih terbelakang inilah 3GP hadir. 3GP sendiri merupakan format video berkompresi rendah yang digarap Third Generation Partnership Project (3GPP). Karena kompresi yang rendah, file-file berekstensi ini memiliki ukuran yang kecil sehingga mudah ditransfer.

Infografik Video Porno Indonesia

Infografik Video Porno Indonesia. tirto.id/Quita

Video porno anggota DPR Yahya Zaini dan pedangdut Maria Eva, juga Ariel Peterpan dan Luna Maya maupun Cut Tari merupakan segelintir dari banyak video yang beredar melalui format ini.

Pada kasus Ariel, video porno beredar dengan mula-mula dialihkannya file milik Ariel yang ia simpan di komputer oleh temannya. Kala itu, Ariel berujar: “Lu kopi ya, lu hapus dong. Ngapain buka folder gue.”

Selain jual beli video porno melalui koneksi rendahan semacam infrared atau bluetooth atau langsung menyalin dari komputer, peredaran juga dibantu melalui beberapa situs web, seperti 17tahun.com, semprot.com, hingga sub-forum BB17 milik Kaskus.

Namun, situs-situs ini kemudian lenyap. BB17, misalnya, harus tutup pada 2008. Dilaporkan Okezone, Kaskuser bahkan berkabung usai sub-forum itu tutup.

“Dear kawan-kawan semua, seperti kita tahu BB17 dan FC kini sudah tamat riwayatnya. Terlepas dari kontroversi setuju atau tidaknya kaskuser semua akan penutupan ini, saya ingin mengajak kepada para kaskuser, khususnya yang menyesalkan penutupan ini, untuk berkabung selama satu minggu. Berkabung dapat dilakukan dengan cara memasang avatar yang bertema kesedihan akan penutupan BB17,” seru Kaskuser menyuarakan kesedihan mereka.

Seiring waktu, video porno kemudian tersebar melalui media sosial. Misalnya melalui WhatsApp dan Twitter. Twitter memang tidak memblokir penggunaan kata-kata mesum dan cabul di sistem pencariannya. Pada akun-akun penyebar konten cabul itu, Twitter hanya memberikan peringatan “Caution: This profile may include potentially sensitive content” yang mudah dilewati.

Baca juga artikel terkait PORNOGRAFI atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Teknologi
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf