Disertasi Seks Nonnikah Berbuah Teror & Caci, Penulis Layak Dibela?

Oleh: Irwan Syambudi - 5 September 2019
Dibaca Normal 4 menit
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat berkata, semestinya sebelum memberikan penilaian soal disertasi Abdul Aziz, seseorang harus baca lebih dahulu dengan saksama.
tirto.id - Abdul Aziz mahasiswa S3 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang menulis disertasi berjudul “Konsep Milk Al-Yamin Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital” mendapatkan teror dan cacian. Hal ini dialami usai karyanya viral dan dianggap kontroversial.

Menurut Aziz, cacian dan teror itu dialamatkan secara langsung kepada dia dan keluarganya melalui media sosial maupun nomor pribadinya. “Ada [cacian dan teror] via WA [WhatsApp], ada ke nomor pribadi," kata Aziz kepada reporter Tirto melalui sambungan telepon, pada Rabu (4/9/2019).

Aziz pun menunjukkan tanggkapan layar video dan juga pesan WA dan unggahan di akun Facecook yang bernada cacian dan juga ancaman kepada dirinya tersebut.

Salah satu video yang ia tunjukkan, judulnya bernada intimidasi “DOKTOR ABDUL AZIZ, DUTA MES*M INDONESIA... ?? | SAYA MENGINGATKAN ANDA... !!!".

Video itu diunggah oleh akun Saeful Zaman pada 3 September 2019. Hingga Rabu (4/9/2019) pukul 21.10 WIB sudah ditonton sebanyak 30.050 kali, disukai sebanyak 1,4 ribu orang, dan 37 akun tak menyukainya.

"Masa sih Anda sebodoh ini, mana ada doktor yang bodoh. Jadi kalau Anda tidak bodoh kemungkinannya apa ya?" begitu bunyi penggalan suara video pada akun tersebut.

Sementara video lain berjudul “Buya Yahya Menanggapi Disertasi Diperbolehkannya Seks Diluar Nikah - Buya Yahya Menjawab.” Bahkan dalam video tersebut, Aziz disebut murtad karena telah menghalalkan hubungan badan di luar nikah.

"Yang melegalkan, yang menghalalkan hubungan di luar nikah adalah keluar dari iman, murtad. Saya tidak tahu seperti apa disertasinya saya tidak mengerti," demikian cuplikan dalam video itu.

Cacian dan ancaman yang dialamatkan kepada Aziz tidak hanya melalui video. Dosen IAIN Surakarta ini kepada reporter Tirto menunjukkan tangkapan layar pesan WhatApps dari nomor yang ia tak kenal. Tulisannya bernada merendahkan dia, bahkan istri dan putrinya. [Bunyi pesan sengaja tidak kami tampilkan di artikel ini].

Selain itu, Aziz menunjukkan layar tangkapan dinding Facebook akun yang mengunggah fotonya bersama dengan putrinya. Dalam narasi unggahan itu tertulis "Ini putri dosen mesum..."

Namun, belakangan saat Tirto menelusuri ungguhan di dua akun yang saling bertautan mengunggah foto Abdul Aziz itu sudah tidak ada lagi, di dinding akun tersebut tampak ada postingan yang sudah dihapus.

Cacian dan teror itu membuat dia dan seluruh keluarganya merasa terganggu. Aziz mengatakan, ketiga anaknya sangat tertekan dengan cacian dan teror yang dialamatkan kepada keluarganya.

“Secara psikologis sangat mengganggu keluarga. [Keluarga] ya sedih sekali karena out of context ya,” kata dia.

Menurut Aziz, bahkan anaknya yang duduk di bangku kuliah, ikut menjadi korban karena secara psikologis mendapatkan tekanan. “[Anak saya] sedih akhirnya, misalnya mau keluar rumah, atau yang masih kuliah mau keluar dari kos jadi malu,” kata dia.


Penulis Disertasi Layak Dibela


Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mudzakkir mengatakan Abdul Aziz sebagai penulis disertasi layak untuk dibela. Sebab, karya Aziz dinilai telah melewati proses yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

"[Abdul Aziz] layak dibela dan memang telah lulus, melewati ujian yang dihadiri oleh promotor dan penguji yang saya kenal orang-orang hebat di bidangnya," kata Amin kepada reporter Tirto.

Amin yang juga peneliti tentang agama dan minoritas menilai, apa yang ia baca dari bagian kesimpulan disertasi Abdul Aziz, dinilainya telah memadai. Dalam disertasi itu, kata Amin, penulis dinilainya memahami dengan baik konsep pemikiran Syahrur dan juga telah memberikan kritik.

"Seharusnya pihak kampus bahkan kalau perlu pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama justru harus membela itu sebagai buah kebebasan akademik di Indonesia," kata Amin.

Ia menambahkan “bahwa kemudian [disertasi itu] harus dikritik, itu soal lain. Tapi bahwa ini sebuah karya ilmiah yang harus dijaga kebebasannya, harus dibela," kata Amin.

Sebab, kata Amin, jika tidak ada pembelaan terhadap Aziz, maka akan menjadi preseden buruk. Alasannya, kata dia, seseorang akan merasa berhak untuk merundung, bahkan mempersekusi siapapun dan karya apa pun yang dianggap berbeda dengan mereka.

Oleh karena itu, kata Amin, pemerintah dalam hal ini Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi maupun Menteri Agama harus memberikan satu peryataan bahwa karya akademik yang melewati proses atau prosedur yang benar harus dihormati.

"Jika ada kritik, ya harus disampaikan dengan situasi akademis juga. Dan semua bentuk bully, teror, intimidasi itu sama sekali tidak benar," kata Amin menegaskan.

Sementara itu, Guru Besar Filsafat Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat mengatakan, semestinya sebagai karya ilmiah, disertasi Abdul Aziz harus diapresiasi.

"Sebagai sesama akademisi, saya memberi apresiasi atas kerja keras dia melakukan penelitian yang kemudian jadi karya disertasi. Karena itu karya ilmiah," kata mantan rektor UIN Jakarta ini.

Menurut Komaruddin, sebelum memberikan penilaian terhadap disertasi Abdul Aziz, seseorang harus membaca terlebih dahulu dengan saksama. Jika memang ada yang tidak sependapat, kata dia, maka sebaiknya disampaikan dengan argumen yang sepadan, bukan dengan cacian.

"Penghargaannya bisa juga berupa kritik terhadap hasil risetnya. Kebenaran itu dibangun dan dimatangkan lewat dialog dan kritik terus menerus. Bukan dibatalkan dengan petisi," ujar dia.

Sejatinya, kata Komaruddin, tak ada teori dan tafsir yang sempurna. Dan yang dikaji oleh Abdul Aziz itu pun merupakan pemikiran orang lain, yakni Muhammad Sayhrur tentang “Milk Al-Yamin.”

"Mungkin sekali saya tidak sependapat dengan isi disertasi Abdul Azis dan pemikiran Syahrur. Tapi kalau dikriminalisasi, aku akan membelanya," kata Komaruddin menegaskan.

Jika kemudian disertasi tersebut ramai diperbincangkan dan dianggap kontroversial, kata dia, hal itu karena menyangkut konsep seksual nonnikah dan disebarkan secara sepotong-sepotong melalui media sosial.


Di tengah kontroversi dan kritik atas disertasi Abdul Aziz, sebetulnya ia mendapatkan penilaian sangat memuaskan dari tim penguji. Dosen UIN Surakarta itu berhasil mempertahankan disertasinya untuk meraih gelar doktor.

Sahiron, salah satu promotor disertasi Abdul Aziz mengatakan, penilaian yang diberikan kepada Aziz adalah atas kerja akademik dan kerja penelitian yang telah dilakukan.

Aziz dinilai telah melakukan kerja penelitian dengan baik mulai dari mendeskripsikan objek penelitiannya tentang pemikiran dan penafsiran Syahrur dengan membaca buku dan sumber lainnya.

Di luar kritik yang diberikan kepada pemikiran Syahrur, kata dia, Aziz sebagai peneliti dinilai telah mampu mengeksplor dan mendeskripsikan pandangan Syahrur dengan baik.

"Lalu dia [Aziz] juga sudah berusaha tidak sekadar eksplanatori, tetapi juga critical analysis. Mengkritik Muhammad Syahrul dari sisi linguistiknya, dari sisi pendekatan gender, dan seterusnya sudah dilakukan, meskipun menurut saya belum sempurna," kata Sahiron.

“Secara akademik dari deskripsi, analisis, sampai kritik itu sudah masuk di dalamnya sehingga kemudian para penguji secara akademik itu sudah semua, meskipun tidak sampai cum laude. Nilai disertasi kita gabungkan dengan nilai kuliahnya. Akumulasinya sangat memuaskan,” kata dia.


Minta Maaf dan Ubah Judul Disertasi


Meski demikian, Abdul Aziz telah meminta maaf karena kajiannya menuai kontroversi. Ia juga menyatakan akan mengubah judul disertasinya itu.

"Saya menyatakan akan merevisi disertasi tersebut berdasarkan atas kritik dan masukan dari para promotor dan penguji pada ujian terbuka termasuk mengubah judul," kata Aziz saat memberikan keterangan pers kepada wartawan di UIN Sunan Kalijaga, Selasa (3/9/2019).

Aziz mengatakan akan mengganti judul disertasinya menjadi 'Problematik Konsep Milk Al-Yamin Dalam Pemikiran Muhammad Syahrur'.

Selain itu, dengan mempertimbangkan kontroversi yang terjadi di masyarakat terkait dengan disertasinya itu, ia akan menghilangkan beberapa bagian kontroversial dalam tulisan yang ada di disertasinya.

"Saya juga memohon maaf kepada umat Islam atas kontroversi yang muncul karena disertasi saya ini," ujar dosen UIN Surakarta ini.

Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Noorhaidi Hasan mengatakan revisi disertasi yang direkomendasikan kepada Abdul Aziz karena kajian yang sampai melakukan justifikasi.

“Seharusnya sebagai sebuah disertasi itu cukup sampai menjawab what, who, and why. Kenapa Syahrur punya pemikiran seperti itu dianalisis [...] Di situ saja, enggak usah sampai kemudian dipakai untuk menjustifikasi. Itu too far ,itu tidak akademik lagi," kata Noorhaidi.

Baca juga artikel terkait PENDIDIKAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight